Sekolah, Guru, Dan Siswa Ibarat Tubuh

Sekolah, Guru, Dan Siswa Ibarat Tubuh

Doc. Google
Sekolah, guru, siswa memang bisa diumpamakan tubuh. Sekolah yang memberikan perlindungan agar tegaknya proses pembelajaran, guru yang mengaktifkan dalam jalannya penyaluran pendidikan kepada siswa. Sehingga bila di satukan maka akan membuat siswa menjadi memiliki ilmu dan pengetahuan yang mampu untuk bergerak memberikan perubahan.

Masih ingatkah saudara-saudara dengan film Laskar Pelangi? Film yang alurnya menceritakan tentang perjuangan anak-anak suku Melayu dari pedalaman di Provinsi Bangka Belitung, yang menempuh pendidikan di sebuah sekolah kumuh dengan fasilitas belajar yang bisa dikatakan sangat-sangat minim.Malahan untuk mendapatkan sekota kapur mereka harus menempuh perjalanan berkilo-kilodan bahkan berhutang terlebih dahulu. Padahal kapur merupakan kebutuhan primer sebagai alat yang membantu guru untuk proses jalananya pembelajaran karena hanya papan tulis hitam yang merekagunakan.Meski mereka belajar dalam keadaan kekurangan tersebut, tetapi mereka memiliki semangat yang besar untuk berubah demi mendapatkan pendidikan serta ilmu yang lebih.Dari adanya semangat itulah sehingga mereka mampu mengalahkan sekolah-sekolah unggul yang ada dan menjadi juara pada perlombaan Cerdas Cermat tingkat Sekolah Dasar (SD).Ini merupakan gambaran nyata dari dunia pendidikan Indonesia yang sangat miris di beberapa daerah.

Kali ini, penulis tidak membahas tentang alur cerita seutuhnya dari film Laskar Pelangi, namun hanya menjadikan cerita tersebut sebagai pembelajaran dan cerminan belakang untuk perubahan yang lebih baik pendidikan di Indonesia. Dan penulis juga tidak akan banyak membahas tentang permasalahan kurikulum, kerusuhan pada UN, atau tentang kekerasan pada siswa. Namun di sini penulis lebih memfokuskan tulisan ini lebih kepada fasilitas pembantu dalam menyalurkan ilmu pendidikan kepada siswa.
***
Pendidikan merupakan suatu hal yang menjadi dasar dan sangat penting bagi setiap orang, sehingga orang akan rela mengeluarkan biaya yang cukup besar hanya untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan yang lebih baik. Menurut para ahli seperti Langeveld, dia mengungkapkan pendidikan adalah usaha serta upaya yang dilakukan manusia yang sudah dewasa dalam membimbing manusia yang belum dewasa kearah kedewasaan. Sedangkan menurut Frederick J. Mc Donald pendidikan adalah proses yang arah serta tujuannya adalah untuk merubah tabiat manusia.Secara keseluruhan, pendidikan bisa diartikan usaha sadar dan sistematis yang dilakukan manusia untuk mencapai kemajuan yang lebih baikatau taraf hidup.

Bila kita buka Undang-Undang Dasar Tahun 1945 pada Alinea keempat, yang dalam kutipannya berbunyi,”Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.Isi dari alinea tersebut menggambarkan tentang sebuah cita-cita  dan tujuan bangsa mengenai pendidikan nasional dengan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dan dari aline tersebut di kembangkan lagidalam Amandemen UUD 1945 pada Pasal 31 ayat 3 dan 5sebagai tugas pemerintah dalam menjalankan amanah dari UUD 1945 dan untuk mencapai tujuan tersebut lalu dilengkapi dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003.

Bukan hanya Indonesia saja yang memiliki cita-cita dan tujuan meningkatkan pendidikan. Negara-negara luar juga sama, sehingga organisasi United Nation (UN) atau lebih dikenal dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelaskan mengenai pentingnya pendidikan, sehingga mereka membentuk organisasi dunia yang menangani tentang pendidikan, yaitu UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural). Organisasi ini menerapkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni Learning to Know, Learning to do, Learning to be, dan Learning to live together.

Sungguh begitu pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa, sehingga setiap bangsa terus berusaha untuk mengembangkan pendidikan bangsanya, begitu juga dengan Indonesia. Untuk mencapai tujuan dan cita-cita bangsa yang telah diamanahkan dalam UUD 1945, pemerintah mencanangkan masyarakat untuk Wajib Belajar 9 Tahun (Program Wajar) dari kelas 1 SD sampai kelas 9 SMP. Dan untuk biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah demi meningkatkan pendidikan sungguh tidak main-main, yaitu mencapai 20% dari total Anggaran Pengeluaran Belanja Negara (APBN).Namun sayangnya, dari begitu besar biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah, Indonesia masih memakai predikat negara terjeblok (terendah) dunia dalam pendidikan.Data tersebut dikeluarkan oleh The Learning Curve Pearson 2014 pada tahun 2014, sesuai dengan berita yang diterbitkan oleh sebuah media online okezone.com pada Selasa, 13 Mei 2014.

Pada data The Learning Curve Pearson 2014, pendidikan Indonesia menempati posisi ke-40, dengan indeks ranking minus 1,84 sementara kemampuan indeks rangking 2014 versus 2012 Indonesia diberi nilai minus 1,71. Sedangkan untuk nilai pencapaian, Indonesia diberi skor minus 2,11 dan posisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai terburuk dibawah Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan Thailand dari lima ranking terbawah.

Ternyata, kucuran dana yang besar tidak bisa juga menjamin akan meningkatnya kualitas pendidikan bangsa ini. Dan berbagai upaya juga telah dicoba oleh pemerintah, mulai dari gonta-ganti pakaian kurikulum, sampai dengan sistem Ujian Nasional yang memakai paket, namun hasilnya juga membuat kepala kita masih bangga untuk terus tertunduk. Lalu apa yang salah dari pendidikan di Indonesia? Mari kita coba membedah bersama.

Belakangan ini kita sudah sering mendengar bahkan melihat sendiri kasus-kasus yang terjadi dalam dunia pendidikan, seperti mengenai tentang masalah buruknya sekolah, kekurangan guru, dan siswa. Hal-hal seperti ini sungguh banyak terjadi, namun karena lemahnya pengawasan pemerintah dalam mengawasi sampai ke lokasi serta kurangnya lembaga-lembaga masyarakat yang benar-benar ingin memajukan pendidikan menyebabkan kasus-kasus seperti ini  masih saja terus terjadi.

Sekolah Bagaikan Kulit dan Tulang
Sekolah adalah suatu lembaga yang memang dirancang khusus untuk jalannya kegiatan pendidikan dan pengajaran para siswa di bawah pengawasan para guru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sekolah memiliki arti bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan member pelajaran, baik itu dalam tingkatan Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK). Sekolah merupakan salah satu unsur dasar penting dalam mendorong berjalannya proses kegiatan belajar. Apalagi untuk di zaman saat ini yang lebih mengutamakan pendidikan, sekolah dianggap sebagai rumah kedua untuk mendapatkan pendidikan setelah rumah dan orang tua sebagai tempat siswa mendapatkan pendidikan pertama.

Bila kita lihat sekolah-sekolah yang ada di daerah perkotaan saat ini pasti kita akan merasa takjub dan kagum melihatnya.Bangunan sekolah berdiri megah, setiap sudut sisi sekolah tampak rapi dan bersih, memiliki ruangan belajar yang nyaman serta didukung dengan fasilitis yang lebih canggih dan moderen, ruangan praktik, perpustakaan, halaman/lapangan, dan ruangan lainnya sebagai pendorong kegiatan belajar.Bangunan-bangunan tersebut bukan hanya dimiliki oleh sekolah swasta, namun juga sekolah negeri.

Tetapi coba kita bandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada di daerah sedikit pedalaman, di sana hanya ada bangunan dengan fasilitas belajar hanya menggunakan papan tulis hitam dan kapur serta ruang belajar sederhana. Bahkan ada sebagian sekolah yang bangunannya bisa dikatakan tidak layak untuk di tempati atau ruang kelasnya hampir roboh, seperti yang terjadi di SMPN 2 Bias dan SMPN 4 Lembonganyang berada di daerah Kalungkung, Bali dan lingkungan yang kurang terawat.Bangunan sekolah tersebut sudah banyak retakn namun belum juga mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

Sedangkan untuk wilayah Aceh sendiri, sewaktu saya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya dan teman-teman mengabdikan diri di sebuah sekolah SMPN 3 Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya.Kondisi sekolah sungguh sangat memprihatinkan karena tidak adanya fasilitas belajar yang bisa mendukung mereka. Lain lagi bila kita lihat di daerah Aceh Singkil, sebuah SD yang berada di Gampong Kayu Menang, Kecamatan Kuala Baru tidak memiliki buku pedoman belajar bagi siswa. Dan lain lagi di Aceh Utara, tepatnya di SDN 24 Tanah Jambo Aye, sekolahnya tidak memiliki pagar sekolah sehingga siswa sering terkena kotoran lembu karena sekolah menjadi tempat lembu-lembu berkumpul. Sedangkan ada salah satu SD di kawasan Aceh Selatan gurunya harus mengeluarkan uang 200ribu setiap bulannya untuk membeli air karena sekolah tersebut tidak memiliki air.

Itu merupakan sebagian gambaran kecil dari beberapa sekolah yang tertinggal di daerah pedalaman.Padahal siswa-siswa yang ada memiliki semangat yang tinggi untuk belajar, tetapi fasilitas yang ada sangat minim.Bagaimana mungkin para siswa bisa belajar dengan giat bila keadaan sekitar sekolah mereka saja layaknya kebun binatang serta kandanghewan.Hal-hal yang demikianlah yang seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah karena sekolah merupakan pelindung serta menjadi penegak dalam semangat belajar siswa untuk mendapatkan pendidikan.

Guru Adalah Jantung
Guru bisa dikatakan adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi bangsa ini, terutama dalam dunia pendidikan, dan guru juga merupakan jantung yang selalu berusaha untuk terus memompa darah pendidikan agar tersalurkan keseluruh siswa didik. Mengapa demikian? Karena guru adalah orang yang sangat berperan, tanpa guru maka tidak akan ada pendidikan serta ilmu yang bisa diperoleh oleh siapaun.

Kasus mengenai kurangnya tenaga pengajar atau guru hampir merata disetiap sekolah yang ada di Indonesia,baik sekolah yang ada di kota dan terlebih-lebih lagi sekolah-sekolah yang ada di daerah pedalaman. Akibat dari kasus ini, yang banyak terjadi dilapangan adalah adanya beberapa guru mengajar lebih dari satu matapelajarandan matapelajaran yang akan diajarkan bukanlah sesuai matapelajaran dari profesi guru tersebut.

Kejadian tersebutlebih dominan dirasakan oleh sekolah-sekolah daerah sebab banyak guru-guru yang dipindahkan ke kota oleh dinas-dinas pendidikan daerah. Guru-guru yang dipindahkan tersebut adalah guru-guru yang memiliki keunggulan dari guru-guru yang ada di daerah asal. Padahal seharusnya guru-guru yang unggul tersebutlah yang seharusnya tetap di sekolah yang tertinggal, karena merekalah yang akan mendongkrak pendidikan di daerah-daerah yang tertinggal.

Selain itu, banyak juga guru-guru yang tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya.Bukankah seharusnya para guru mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah, agar mereka bisa lebih bersemangat dalam mendidik siswa-siswa untuk belajar.Selain itu, para guru-guru juga harus dibekali dengan pelatihan-pelatihan pendidikan agar mereka juga selalu mengikuti perkembangan pendidikan nasional.

Pendidikan merupakan hal terpenting bagi sebuah negara, dan pendidikan merupakan cita-cita besar dari bangsa Indonesia. Dalam agama Islam juga telah dijelaskan pentingnya pendidikan atau menuntut ilmu, Ayat Al – Qur’an pertama yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra yang artinya “baca” atau “pahami” dan hadits Rasullullah tentang “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina” dan “Carila ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat”. Ini merupakan bukti bahwa pendidikan itu penting dan wajib dicari serta dipelajari oleh setiap manusia.

Tetapi sayangnya di Indonesia pemerintah masih kurang perhatian terhadap berjalananya proses pendidikan yang ada di beberapa daerah sehingga tak salah pendidikan kita jauh tertinggal dengan daerah lain. Padahalbanyak anak-anak bangsa ini yang memiliki semangat untuk belajar, namun minimnya fasilitas yang membantu dan mendorong jalannya kegiatan pembelajar menjadi kendala.Kasus-kasus seperti kurangnya fasilitas sekolah, guru-guru, alat-alat belajar harus lebih diperhatikan lgi oleh pemerintah.Karena bila kita bandingkan antara pendidikan yang didapat di perkotaan dan di pedalaman sungguh sangat berbanding terbalik. Di kota pendidikan lengkap dengan segalanya, tetapi di daerah pedalamanserba kekurangan.

Kasus mengenai terpuruknya pendidikan Indonesia di dunia merupakan tanggung jawab kita semua, baik dari kalangan pemerintahan, lembaga masyarakat, aktivis, maupun mahasiswa. Karena bila pendidikan kita maju maka kita juga yang akan merasakannya, dan anak cucu kita bisa lebih hebat dari kita-kita pernah ada.

Untuk dinas pemerintahan serta lembaga masyarakat, cobalah perhatikan langsung ke lapangan, di mana sekolah-sekolah masih banyak yang perlu perhatian, seperti buku pedoman belajar siswa dan lainnya. Selain itu, jangan mutasi guru-guru yang memiliki keuggulan menjadi ke kota. Karena merekalah yang akan membuat daerah-daerah tertinggal menjadi maju dalam dunia pendidikan. Beri mereka perhatian khusus tetapi jangan lupakan juga guru-guru biasa, karena mereka juga berjasa dalam dunia pendidikan. Ingat guru merupakan jantung yang akan memompa darah pendidikan keseluruh peserta didik dan darimereka juga yang akan melahirkan ilmuan pada generasi selanjut pada bangsa ini. Selain itu, jangan jadikandana pendidikan sebagai lading untuk mencari makan dan kepentingan sendiri. Sebab dana yang dikucurkan begitu besar oleh pemerintah adalah untuk memperbaiki pendidikan bukan untuk di korupsi dengan mengatas namakan pendidikan berupa kegiatan yang tidak begitu penting dan berdampak pada dunia pendidikan.

Untuk kawan-kawan aktivis, dan mahasiswa semua (terutama mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Jangan pernah bermimpi pendidikan kita dapat berubah langsung menjadi lebih baik (seperti membalikkan telapak tangan) hanya dengan berharap dengan pemerintah dan lembaga masyarakat. Kitalah yang harus merubahnya, karena kita adalah calon pendidik, kita yang nantinya sangat berperan kemana arah pendidikan bangsa ini.Alangkah baiknya untuk mempermudah pemerintah dan sekalian hitung beramal, marilah kita mencoba membuat sebuah perkumpulan mengajar di daerah terpencil yang memang sangat membutuhkan.Jangan berharap untuk dibayar oleh siapapun, tetapi berharaplah ilmu yang bisa kita berikan bermakna buat adik-adik kita yang membutuhkannya dan kita diberikan ridha oleh Allah.Amin.

Banda Aceh, 15 Mei 2015

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments