Pendidikan dan Cita-Cita Bangsa

15:19:00

Pendidikan dan Cita-Cita Bangsa

Pendidikan merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sebab pendidikan adalah tonggak untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang dicita-citakan oleh bangsa. Dan ini telah tertera dalam UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi,”Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.

Dalam agama Islam telah dijelaskan pentingnya pendidikan atau menuntut ilmu, sesuai dengan ayat Al-Qur’an pertama diturunkan adalah Iqra yang artinya “baca” atau “pahami” lalu diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu hadits tentang menuntut ilmu juga dijelaskan oleh Rasulullah SAW,“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina” dan “Carilah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat”. Ini merupakan bukti bahwa pendidikan itu penting dan wajib dicari serta dipelajari oleh setiap manusia.

Menurut para ahli seperti Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusian. Selain itu menurut Frederick J. Mc Donald pendidikan adalah proses yang arah serta tujuannya adalah untuk merubah tabiat manusia. Secara keseluruhan, pendidikan bisa diartikan usaha sadar dan sistematis yang dilakukan manusia untuk mencapai kemajuan yang lebih baik atau taraf hidup.

Begitu pentingnya pendidikan bagi setiap bangsa sehingga organisasi United Nation (UN) atau Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk organisasi yang menangani tentang pendidikan dunia, yaituUnited Nations Educational, Scientific and Cultural (UNESCO). Dengan menerapkan empat pilar bahwasannya pendidikan itu penting baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni Learning to Know, Learning to do, Learning to be, dan Learning to live together. Sungguh begitu pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa, sehingga setiap bangsa terus berusaha untuk mengembangkan pendidikan bangsanya.

Belakangan ini, beberapa kasus yang terjadi dilapangan pada dunia pendidikan sungguh sangat menyedihkan kita.Untuk tahun 2015, ada beberapa kasus mengenai praktik dan kualitas pendidikan. Dan kasus-kasus tersebut terjadi pada seluruh tingkatan pendidikan yang ada, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Pada tingkat sekolah, adanya praktik pragmatis penerimaan siswa baru dan perdagangan buku semakin menjadi trend. Dibeberapa sekolah ada yang menghargai dengan bonus Rp. 20.000-Rp. 50.000/siswa, kepada individu yang turut andil mendaftarkan calon siswa. Selain itu, ada beberapa sekolah yang menjual buku-buku kepada siswa dengan harga yang cukup tinggi. Dan ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua siswa yang kurang mampu. Di perguruan tinggi, kasus pemalsuan ijazah dan baru-baru ini adanya wisuda abal-abal yang dilakukan oleh Universitas Terbuka. Semua kasus ini merupakan perbuatan korupsi secara tidak langsung. Bagaimana bangsa ini mau melahirkan manusia berkualitas bila praktik-praktik kegiatan pragmatis tumbuh subur. Hal ini menunjukkan begitu buruknya praktik pendidikan di Indonesia serta kurangnya pemantauan yang dilakukan oleh pihak pemerintah.

Mengenai kualitas pendidikan, pemerintah mencanangkan Wajib Belajar (Wajar) 9 Tahun untuk  masyarakat, dimulaidari kelas 1 SD sampai kelas 9 SMP. Dan biaya yang dikeluarkan sungguh tidak main-main demi meningkatkan kualitas pendidikan, yaitu mencapai 20% dari APBN (Anggaran Pengeluaran Belanja Negara). Namun, dari begitu besar biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah, Indonesia masih memakai predikat negara terendah di dunia dalam pendidikan. Data tersebut dikeluarkan oleh The Learning Curve Pearson (TLCP) 2014 dan Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) 2015.

Pada data TLCP 2014 yang diterbitkan oleh www.okezone.com pada Selasa, 13 Mei 2014, pendidikan Indonesia menempati posisi ke-40, dengan indeks ranking minus 1,84. Sementara kemampuan indeks rangking 2014 versus 2012 Indonesia diberi nilai minus 1,71. Disamping itu untuk nilai pencapaian, Indonesia diberi skor minus 2,11 dan posisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai terburuk dibawah Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan Thailand dari lima ranking terbawah.Sedangkan data OECD 2015 untuk sekolah global sesuai www.bbc.com terbitan 13 Mei 2015, Indonesia berada di urutan 69 dari 76 sekolah global yang ada didunia. Ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan kita keseluruhan masih sangat jauh tertinggal.

Ternyata, kucuran dana yang besar tidak menjamin akan meningkatnya kualitas pendidikan suatu bangsa. Dan berbagai program telah dicoba oleh pemerintah, mulai dari gonta-ganti kurikulum, sampai dengan sistem Ujian Nasional yang memakai paket. Tetapi hasilnya juga membuat kepala kita masih bangga untuk terus tertunduk. Lalu apa yang salah dari pendidikan di Indonesia?

Padahal pendidikan merupakan wadah pembentuk karakter bangsa dan juga cerminan peradaban suatu bangsa dalam menghasilkan manusia-manusia intelektual yang dapat bersaing di kancah nasional maupun internasional. Ini bukti Indonesia masih gagal dalam praktek pendidikan, sehingga beberapa kasus seperti di atas terjadi dengan mudahnya dan pihak pemerintahan tidak mengetahuinya. Sehingga beberapa kasus lama masih saja berlanjut dan kasus baru semakin timbul.

Pendidikan itu sangat penting untuk kemajuan sebuah negara apalagi untuk individu seseorang. Bahkan semua orang berani mengeluarkan biaya yang besar untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sehingga sampai dengan saat ini, bangsa kita terus berbenah diri memperbaiki kualitas pendidikan yang ada. Dengan harapan kedepannya akan ada manusia-manusia Indonesia yang memiliki intelektual tinggi yang mampu untuk menjaga ketertiban dunia dengan menuju kemerdekaan, perdamaian abadi, dan yang akan menegakkan keadilan sosial.

Sebenarnya penerapan pendidikan di Indonesia sudah bagus dengan metode pembentukan karakter sejak di bangku sekolah. Namun di sini pemerintah juga harus mengawasi orang-orang yang melakukan pragmatis demi kepentingan tertentu dalam dunia pendidikan. Bagaimana para peserta didik tidak melakukan kecurangn bila oknum-oknum yang dekat dengan mereka telah mengajari hal yang tidak baik dari awal.

Sebagai mahasiswa, kita juga seharusnya ambil andil untuk memperbaiki kualitas dan praktik pendidikan yang ada. Dengan melakukan minimal bakti pendidikan bukan hanya dengan KKN dan SMT3 di daerah-daerah yang minim akan pendidikan. Tetapi kita bisa membuat less privat tanpa imbalan minimal di daerah tempat tinggal kita. Karena ini merupakan pengabdian kita sesungguhnya untuk rakyat yang sesuai dengan Tridharma Perguruan Tingi. Apabila kita melihat praktik pragmatis dalam dunia pendidikan, cobalah untuk melaporkan kepada yang berwenang. Di samping itu sebagai masyarakat Indonesia, kita memiliki tanggung jawab untuk mewujudnya cita-cita bangsa sesuai Undang-Undang Dasar 1945.

Semua tidak akan dengan mudah berubah bila kita hanya berharap pemerintah dan tidak dilakukan dengan bekerja bersama-sama. Dan bila kita bekerja bersama-sama, secara otomatis semua mampu dijalankandan akan terwujudlah masyarakat yang sejahtera di Indonesia. Amin.

Darussalam
Banda Aceh, 27 September 2015

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments