Mematikan Kegiatan Karnaval di Aceh

Monday, January 25, 2016

Mematikan Kegiatan Karnaval di Aceh

Sesungguhnya suatu hiburan gratis yang sangat luar biasa di Aceh dan di Kota Banda Aceh khususnya. Sebuah kegiatan yang banyak menghabiskan anggaran ini tertuang hanya untuk hiburan semata berupa karnaval. Kegiatan hiburan yang hanya untuk dinikmati oleh masyarakat umum secara gratis. Kegiatan yang hanya menyisakan puisng-puing sampah dan kelelahan bagi para peserta dan petugas.

Bulan Juli kemarin, kita telah dihibur dengan kegiatan karnaval yang diadakan pada saat malam menjelang Raya Idul Fitri. Kegiatan ini menjadi lebih istimewa karena dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo. Oleh karena itu, ini merupakan suatu kebanggaan bagi Aceh dan khususnya masyarakat Kota Banda Aceh. Karena jarang sekali kegiatan karnaval seperti ini dihadiri oleh seorang Presiden.

Sebulan kemudian, tepat pada tanggal 18 Agustus kemarin. Masyarakat Aceh dan khususnya Kota Banda Aceh juga baru dihibur dengan kegiatan serupa. Kegiatan yang dibuat dalam memperingati Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia telah banyak meninggalkan euforia dan duka di dalamnya. Sama seperti kegiatan yang telah dilaksanakan pada bulan kemarin, tetapi yang membedakan adalah kegiatan ini diselenggarakan pada siang hari.

Sungguh kegiatan yang luar biasa diselenggarakan oleh Dispora Provinsi Aceh ini. Dengan menampilkan beberapa atraksi yang membuat kita kagum dari para peserta yang telah dihias dengan beberapa pakaian, mulai dari pakaian adat, para pejuang sampai pakaian yang didesain sedemikian rupa. Kegiatan yang diikuti oleh beberapa peserta dari berbagai lembaga dan organisasi masyarakat ini terbilang sukses. Dengan melibatkan peserta dengan tingkatan usia yang berbeda-beda, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Antusias peserta dan masyarakat juga sangat luarbiasa. Terlihat peserta dengan semangat berjalan melenggak-lenggok sambil memakai hiasan yang super ribet dan masyarakat dengan senang hati mengabadikan gambar serta video meski cuaca saat itu tergolong cukup panas.

Di balik semua kegiatan itu, ada beberapa buah bibir yang sangat kurang enak didengar oleh telinga ini. Di mana, pada saat acara karnaval kemarin banyak peserta yang lemas terutama anak-anak karena telah lama menunggu dimulainya acara. Selain itu, waktu yang dipergunakan juga sangat menyita kegiatan untuk melaksanakan ibadah. Karena kegiatan baru dimulai lewat pukul 14.00 WIB sampai hampir tiba waktu maghrib dan waktu salat Ashar terlewati begitu saja. Secara tidak langsung, kegiatan karnaval ini juga telah menjelekkan nama Aceh sebagai daerah Serambi Mekkah atau yang sedang menegakkan syariat Islam.

Kegiatan karnaval bukanlah suatu hiburan semata. Melihat permasalahan yang ada, ini menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah Aceh dan pihak penyelenggara. Di mana pemerintah ditantang untuk “Mematikan Kegiatan Karnaval” yang ada di Aceh?

Sudah sepantasnya pemerintah mengambil kebijakan akan hal ini. Mematikan kegiatan karnaval yang penulis maksudkan bukanlah menghentikan. Mematikan yang dimaksud adalah empat aspek dan dampak dari kegiatan tersebut. Keempat aspek tersebut adalah Melestarikan Budaya dan Menjaga Adat, Tingkatkan Ilmu Pengetahuan, Agama, dan Nasionalisme (Mematikan).

Kegiatan karnaval itu harus menjadi alat untuk melestarikan budaya, serta menjaga adat Aceh. Dengan menampilkan kebudayaan-kebudayaan serta adat istiadat Aceh. Mengingat pengaruh globalisasi serta budaya luar yang begitu gencar masuk ke Aceh. Dan melalui karnaval ini kita lestarikan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang kebudayaan yang kita miliki di Aceh.

Selain itu, kegiatan karnaval juga harus memiliki nilai untuk meningkatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Dengan menampilkan hasil karya yang ditemukan oleh pemuda atau generasi Aceh pada berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sehingga menjadi sebuah motivasi bagi masyarakat Aceh dan generasi selanjutnya.

Kegiatan karnaval yang dilaksanakan harus mendukung sektor keagamaan. Di mana kegiatan karnaval dengan menampilkan yang membuat manusia selalu ingat kepada Sang Pencipta. Seperti pada peringatan Tsunami melanda Aceh, dengan menampilkan peragaan para korban pada saat Tsunami dan lemahnya manusia di mata Sang Pencipta. Selain itu, juga menampilkan gambaran penyiksaan manusia saat akhir zaman, dan penampilan yang lainnya.

Dan yang terakhir menampilkan karnaval untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan saling menghormati antara sesama masyarakat. Dengan menampilkan para pahlawan yang berjuang pada saat mempertahankan negara ini dari para penjajah. Terutama para pahlawan dari Aceh, agar masyarakat tahu siapa saja pahlawan yang telah berjasa bagi Indonesia berasal dari tanah rencong.

Kegiatan karnaval itu perlu dilaksanakan, asalkan kegiatan tersebut bukan hanya untuk sebuah hiburan semata. Tetapi juga sebagai pendorong untuk empat aspek ‘Mematikan’ kegiatan karnaval. Di samping itu, waktu yang dipergunakan untuk kegiatan karnaval juga harus diperhatikan agar tidak mengganggu kegiatan beribadah. Alangkah baiknya kegiatan karnaval dilaksanakan pada waktu pagi sampai menjelang zuhur, atau malam setelah waktu salat isya.

Melihat permasalahan yang terjadi pada saat karnaval, pemerintah dan penyelenggara ke depannya harus lebih siap menyelenggarakan kegiatan karnaval ini dengan sebaik-baiknya. Selain itu, pemerintah dan pihak penyelenggara juga harus memperhatikan aspek apa saja yang menjadi target dan apa dampak atau efek dari dilaksanakannya kegiatan. Sehingga kegiatan karnaval yang diselenggarakan bukan hanya menjadi hiburan semata bagi masyarakat Aceh. Namun juga menjadi penambah ilmu pengetahuan, wawasan, serta religius dan bisa menjadi sebuah daya tarik bagi para turis lokal maupun mancanegara untuk sektor pariwisata di Aceh. Sehubungan dengan itu, pemerintah juga harus memberikan imbauan kepada para peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan pada saat acara.

Kepada masyarakat yang menyaksikan karnaval juga harus ikut ambil andil dalam kesuksesan acara. Di mana masyarakat tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melewati batas jalan saat menyaksikan parade karnaval. Meskipun ada pihak dinas kebersihan yang membersihkan tapi apa salahnya kita sedikit meringankan pekerjaan mereka.

Tulisan ini pernah di muat di beberapa media online seperti Portal Satu (21 Agustus 2015) dan Aceh Post (14 September 2015).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments