Latar Belakang RRI Banda Aceh

Latar Belakang RRI Banda Aceh

Radio Republik Indonesia (RRI) merupakan satu-satunya radio siaran yang menyandang nama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) serta siarannya ditujukan untuk kepentingan bangsa dan negara. RRI juga dikenal bersifat independen, netral, dan tidak komersial serta berperan sebagai pemberi pelayanan berupa siaran informasi, pendidikan, kontrol sosial, hiburan yang sehat serta menjaga citra positif bangsa di dunia internasioal.
Gambar Logo RRI (Radio Republik Indonesia (Doc. RRI)
Dalam sejarah perkembangannya, radio pertama kali masuk di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Sedangkan lembaga penyiaran radio yang pertama kali berdiri milik pemerintahan Belanda pada 16 Juni 1925 bernama Bataviasche Radio Vereniging, lima tahun setelah berdirinya radio di Amerika Serikat, dan tiga tahun setelah munculnya radio Inggris dan Uni Soviet (Rusdi Sufi, 1999:25). Selanjutnya disusul lembaga penyiaran radio lain milik pemerintah Belanda, salah satunya bernama Nederlandsche Indische Omroep Mij yang berada di Batavia, Bandung, dan Medan. Selain itu lembaga penyiaran radio milik swasta juga berdiri, seperti di Medan milik tuan Mayer dan Allgemene Vereniging bernama Mayer Omroep Voor Allen (Sudirman, 2012:11). Selama masa pemerintahan Belanda, lembaga penyiaran radio lebih banyak dipergunakan untuk kepentingan politik dan budaya yang hanya menguntungkan pemerintahan agar lebih mudah mengontrol serta mendapatkan informasi mengenai perkembangan daerah jajahan. Sedangkan pada masa kedudukan Jepang di Indonesia, lembaga penyiaran radio dipergunakan sebagai alat propaganda oleh pemerintahan untuk melawan sekutu dengan meminta bantuan kepada rakyat untuk mendukung pemerintahan Jepang dalam peperangan Asia Timur Raya (Sudirman, 2012:13). Sehingga lembaga penyiaran radio yang pernah ada harus menyiarkan siaran Hoso Kyoku yang penyiarannya dipusatkan dari Hoso Kanri Kyoku di Jakarta apabila tidak ingin disegel paksa oleh pemerintahan Jepang.

Paska Jepang takluk kepada sekutu, Indonesia memproklasmasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun berita proklamasi tersebut tidak dapat langsung didengar pada hari yang bersamaan oleh seluruh rakyat Indonesia, melainkan sehari setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan berita tersebut baru dapat dikumandangkan melalui Radio Indonesia Merdeka. Ini disebabkan karena seluruh radio masih dijaga dan dikuasai oleh Jepang sampai sekutu mendarat ke Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, seluruh pemimpin lembaga penyiaran radio yang ada di Jawa berinisiatif melakukan pertemuan dan membentuk wadah pemersatu lembaga-lembaga radio. Pertemuan yang dilakukan mulai tanggal 10-11 September 1945 di Jakarta dengan membahas begitu pentingnya alat komunikasi berupa radio. Dari pertemuan tersebut menghasilkan dua poin penting, pertama menuntut pemerintahan Jepang untuk menyerahkan seluruh studio radio, perlengkapan beserta pemancar siaran kepada Bangsa Indonesia dan kedua membentuk suatu organisasi radio yang efektif dan ideal. Dengan demikian, pada tanggal 11 September 1945 disepakati berdirinya suatu organisasi radio bernama Radio Republik Indonesia (RRI) (Rusdi Sufi, 1999:31).

Pada masa berjuang mempertahankan kemerdekaan dari Belanda, RRI memiliki peran penting dalam membangkitkan semangat perjuangan serta memberikan informasi perkembangan peperangan diberbagai daerah. Dan di Aceh, para pemuda mulai menyadari akan pentingnya alat komunikasi berupa radio untuk masa-masa sulit tersebut, sehingga para pemuda berusaha untuk merebut radio yang masih dikuasai oleh Jepang. Para pemuda Aceh dipimpin oleh Said Ahmad Dahlan berhasil merampas pemancar radio Hodoka milik Jepang yang telah rongsok dan sengaja dihancurkan agar pemuda-pemuda Indonesia di Aceh tidak dapat menggunakannya untuk berkomunikasi. Berawal dari sebuah pemancar radio rongsok ini kelak menjadi cikal-bakal berdirinya RRI Kutaraja yang mengudara pada 11 Mei 1946, setelah usaha dan kerja keras untuk memperbaiki serta mengganti onderdil baru yang dilakukan para pemuda (Sudirman, 2012:33).

Radio Republik Indonesia (RRI) Kutaraja pertama kali mengudara menggunakan kekuatan 25 watt dengan gelombang pemancar 68-73 meter, jangkauannya hanya di kawasan Kutaraja dan sekitarnya. Setidaknya pada saat itu penduduk sudah dapat mengikuti berita perkembangan perjuangan di dalam maupun di luar daerah. Sehubungan dengan itu, mengingat di beberapa daerah masih melakukan perjuangan, para pemuda berinisiatif untuk memperluas jangkauan siaran agar daerah yang masih berjuang dapat mendengar berita perkembangan peperangan. Keinginan tersebut baru dapat dilakukan pada tahun 1947, setelah mendapat bantuan dari seorang keturunan Indo-Jerman yang bertugas di Dinas Pos dan Telegram/Telepon bernama W. Schulz dan seorang keturunan Cina bernama Hojok Tjam.

Berkat adanya bantuan tersebut RRI Kutaraja memiliki kekuatan siaran 100 watt serta gelombang pemancar 33 meter dengan jarak jangkau siaran hingga kedaerah Medan dan Bukittinggi. Sejak saat itu RRI Kutaraja berubah menjadi Pemanjtar RRI Aceh (Sudirman, 2012:35). Perluasan siaran selanjutnya dilakukan pada 9 April 1948, dengan kekuatan 325 watt serta gelombang pemancar 33,5 meter dan jarak jangkauan mampu diterima hingga keluar negeri. Bertambahnya jangkuan siaran hingga sampai keluar negeri menjadi keuntungan tersendiri dalam melakukan perjuangan pada saat itu bagi Bangsa Indonesia, terutama sewaktu dilaksanakannya persidangan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Berita-berita yang disiarkan oleh Pemanjtar RRI Aceh  mengenai mosi, resolusi, semangat membangkitkan perjuangan, tekad, serta sikap Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Selain itu pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Pemanjtar RRI Aceh juga membantah prpoganda menjelekkan Indonesia di mata internasional yang dilakukan oleh Belanda.

Lahirnya lembaga penyiaran Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh  tidak terlepas dari kesadaran serta kerja keras para pemuda Aceh mengingat pentingnya alat komunikasi berupa radio. Saat ini, RRI Banda Aceh telah menjalankan tugasnya selama 69 tahun sebagai alat komunikasi media massa elektronik pemberi informasi dan selama itu juga pasti banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh lembaga penyiaran ini dalam melakukan siaran. 
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments