Gampong Pande dan Sumber Historis

Monday, January 25, 2016

Gampong Pande dan Sumber Historis

Oleh: Dedy Satria
Gampong Pande merupakan salah satu nama tempat kuno atau toponimi yang masih dapat ditemukan dari sisa (jejak) kota pelabuhan kuno kerajaan Aceh Darussalam hingga hari ini. Kata pande atau pandai berasal dari bahasa Melayu dan berarti orang yang mempunyai keahlian dan keterampilan khusus. Pande yang dimaksud di sini yaitu orang-orang yang mempunyai keahlian dan keterampilan dalam menempa, mencetak, atau membuat benda-benda dari bahan logam, baik logam mulia seperti emas, suasa, atau perak maupun logam biasa seperti besi, timah, kuningan, atau perunggu. Kata pande dalam bahasa Melayu mempunyai pengertian yang sama dengan kata empu dalam bahasa Jawa. Walaupun kata empu sering dikaitkan dengan keahlian membuat keris atau senjata (Denys Lombard, 1991; Anthony Reid, 1991).

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, artkel ini disusun berdasarkan sumber-sumber historis yang berkaitan dengan Gampong Pande. Sumber hsitoris yang digunakan yaitu sumber primer lokal dari hikayat, dan laporan asing dari para pelaut Eropa yang melawat ke Aceh pada abad ke-16 M dan terakhir laporan dari para pegawai pemerintahan kolonial Belanda yang bertugas di Aceh ketika perang kolonial di Aceh.

Van Langen menyebutkan beberapa gampong¬ yang saling berdekatan di kuala Sungai (Krueng) Aceh yang hingga abad ke-19 M di bawah pengawasan dan pemerintahan langsung dari Sulthan Aceh, terutama pada masa pemerintahan Sulthan Mansyur Syah atau Tuanku Ibrahim (1846-1870). Gampong-gampong tersebut, yaitu Merduati, Kedah, Jawa, Pelanggahan, Pande, dan Kandang (Karel F,H. Van Langen, 1986). Van Langen menjelaskan di Kandang tempat tinggal para hamba atau abdi sulthan yang mengerjakan seluruh keperuan sulthan Aceh. Gampong Pande dan Kandang dalam sumber ini disebut terpisah. Walau pada kenyataannya, hinga hari ini, Kandang merupakan bagian atau salah satu wilayah yang berada pada Gampong Pande.

Gambar Komplek Makam Raja-Raja Gampong Pande (Doc. Google)
Masyarakat di Gampong Pande hingga saat ini mengenal pembedaan nama kedua tempat tersebut (nara sumber: Bapak Ismail Sarong dan Bapak Abdullah orang yang dituakan dan tinggal di Gampong Pande, wawancara tahun 2006). Kandang berlokasi di bagian utara, sementara Gampong Pande berada di bagian barat hingga ke selatan. Gampong Pande berbatasan dengan Gampong Jawa di timur dan Gampong Pelanggahan di selatan, lalu Gampong Kedah di tenggara. Gampong Pande dan Kandang serta empat gampong lainnya tersebut sekarang berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Lokasi gampong-gampong kuno tersebut tepatnya di utara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dan berada di sisi barat Sungai Aceh.

Gampong Pande dan Kandang sebagai nama tempat kuno atau disebut toponimi disebutkan dalam suber historis secara terpisah. Ada tiga sumber tertulis lokal yang menyebutkan tentang keberadaan para pande di Kerajaan Aceh Darussalam dan dapat dikaitkan dengan Gampong Pande. Ketiga sumber historis tersebut yaitu (1) Hikayat Gampong Pande, menjadi bahan disertasi T. Iskandar dalam Hikayat Aceh (Kisah Kepahlawanan Sulthan Iskandar Muda), (2) Bustan as Salatin, menjadi tulisan R.A. Hoesein Djajadiningrat dalam Upacara Pula Batee Pada Makam Sultan Iskandar Muda II (1636-1641), dan (3) Hikayat Pocut Muhammad dalam tulisan G.W.J. Drewes, Hikajat Pocjut Muhamat. Selain itu, untuk melengkapi sumber tertulis lokal, juga akan didukung oleh hasil wawancara dengan nara sumber dari tertua masyarakat Gampong Pande, yaitu Bapak Ismail Sarong dan Bapak Abdullah, tahun 2006.

Sumber historis yang ditulis oleh orang Aceh sendiri dan dianggap sebagai sumber tertulis tertua tentang keadaan kota pelabuhan kuno Aceh Darussalam adalah Hikayat Aceh. Hikayat ini merupakan kronik tentang Kerajaan Aceh Darussalam yang berisikan (i) asal usul pembentukan Kerajaan Aceh Darussalam (dengan kisah-kisah yang mengandung mitologi dan legenda), (ii) keluarga raja atau dinasti sulthan yang pernah memerintah Kerajaan Aceh (ada dua dinasti, yaitu ahkota Alam dan Dar ar Kamal), (iii) pemerintahan beberapa orang Sulthan Aceh, (iv) hingga kelahiran dan masa kanak-kanak Pangeran Pacagah yang kemudian hari memerintah Kerajaan Aceh Darussalam dengan gelar Sulthan Iskandar Muda (1607-1636). Hikayat Aceh menjelaskan Kandang sebagai tempat pekuburan keluarga Sulthan Aceh dan tempat Pangeran Pacagah berlatih seni bela diri dan ilmu kesatriaan (T. Iskandar, 1978). Namun Hikayat Aceh tidak menyinggung tentang Gampong Pande, tetapi menyebut Gampong Jawa dengan pelabuhan Bandar Makmur dan Gampong Birma (Pegu).

Gampong Pande baru disebut dalam sumber tertulis lokal yaitu dalam Hikayat Pocut Muhammad. Hikayat ini merupakan sebuah epos yang berkisah tentang perang saudara di Kerajaan Aceh Darussalam antara Sulthan Jamal al Alam dari Dinasti Sayyid (1704-1726) yang berkedudukan di Gampong Jawa dengan Sulthan ‘Ala ad Sin Johan Alam (1735-1760) atau Pocut Ue (Anak Maharajalela Bugis atau Sulthan’Ala ad Din Ahmad Syah dari Dinasti Bugis, 1727-1735) yang berkedudukan di dalam atau Kraton Sulthan Aceh (Drewes, G.W.J., 1979). Namun Gampong Pande hanya disebut sebagai salah satu benteng yang berhasil direbut oleh salah satu Panglima Perang Sulthan Pocut Muhammad. Kegiatan para pande tidak dijelaskan dalam hikayat ini, karena situasi Aceh sedang berkecamuk perang saudara. Walaupun demikian, salah satu bagian dari hikayat tersebut menceritakan bahwa, Pocut Muhammad telah memerintahkan para pande istana untuk menempa kancing dari emas dan membuat pedang (pisau panjang; sikin panyang) dengan hulu (gagang) dari suasa. Hikayat Pocut Muhammad juga menjelaskan bahwa Gampong Pande berdekatan dengan Gampong Jawa.

Aktivitas para pande sering diberitakan dalam sumber lokal, seperti  Hikayat Aceh dan Bustan as Salatin dari Nur ad Din ar Raniry, namun tidak menjelaskan secara rinci tempat tinggal para pandenya. Hikayat Aceh menyebut dua orang pandai emas istana pada masa pemerintahan Sulthan ‘Ala ad Din Ri’ayah Syah Sayyid al Mukammil (1589-1604), yaitu Raja Indera Jaya dan Raja Indera Jari. Kedua pandai tersebut telah diperintahkan membuat mainan untuk Pangeran Pacagah atau Sulthan Iskandar Muda kecil dengan bahan emas, seperti kelereng, gajah, dan dua ekor kambing yang dapat bertarung. Hikayat Aceh juga menjelaskan berbagai peralatan prabot kerajaan yang dibuat oleh para pande dan seluruhnya dari bahan emas, terutama peralatan sirih dan perhiasan yang dikenakan oleh Sulthan dan keluarganya serta persenjataan.

Bustan as Salatin sebuah kronika tentang kerajaan dan Sulthan Aceh yang ditulis oleh Nur ad Din ar Raniry jugamenyebut hasil pekerjaan para pande tersebut (Hoesein Djajaningrat, R.A., 1980). Setelah tujuh hari wafatnya Sulthan Iskandar Tsani (1636-1641), Sulthanah Taj al ‘Alam Syafiat ad Din (1641-1671)  istri mendiang dan juga menggantikannya sebagai Sulthan Aceh mengadakan upacara peletakkan batu nisan dalam upacara  Pula Batee. Sulthanah memerintahkan para pandai emasnya, yaitu Raja Setia, raja Indera Sekara, dan Seri Emaskara, untuk membuat batu nisan dari emas untuk mendiang suaminya tersebut.

Pada sewaktu ekskavansi arkeologi yang dilakukan oelh Hasan Mua’arif Ambary tahun 1976-1977 di Kandang Gunongan tidak menemukan batu nisan dari emas seperti yang disebutkan dalam Bustan as Salatin. Hasil ekskavansi tersebut malah menemukan lempengan emas yang digunting dan diduga dipakukan pada keranda dari kayu tempat jenazah Sulthan Iskandar Tsani dimakamkan.

Walaupun demikian, kita masih dapat menyaksikan hasil pekerjaan para pande logam istana Sulthan Aceh tersebut di Kandang XII. Nisan yang dibuat dari logam dapat dilihat di Kandang XII, pada makam nomor delapan, yaitu Makam Sulthan’Ala ad Din Ri’ayah Syah (al Kahhar zil al Allah fil ‘alam bin Sulthan ‘Ali Mughayah Syah) (1539-1571). Batu nisan in dibentuk dari bahan perunggu pejal, namun pada permukaan nisannya masih dapat ditemukan jejak lapisan emas. Bukti lain batu nisan sulthan dari bahan logam mulia yaitu makam nomor 6 di Kandang XII, yaitu makam Sulthan ‘Ali Ri’ayah Syah bin Sulthan ‘Ala ad Din (Ri’ayah Syah al Kahhar) (1571-1579). Pada permukaan batu nisan banyak ditemukan lubang yang diduga sebagai lubang mur untuk menempel plat dan logam. Selain itu beberapa batu nisan di Kandang XII, terutama di makam nomor 9 (makam Sulthan Salah ad Din bin Sulthan ‘Ali Mughayah Syah), tidak memiliki mahkota. Mahkota pada nisan tersebut sengaja dibuat terpisah dan diduga dibuatkan dari logam mulia, emas atau suasa.

Berdasarkan nara sumber Bapak Ismail Sarong dan Bapak Abdullah (2006) diperoleh penjelasan tentang salah seorang pandai logam terakhir yang pernah mendiami Gampong Pande. Tersebutlah nama Utoih Sema yang hidup hingga awal abad ke-20 M di Gampong Pande. Dalam Hikayat Aceh istilah utoih disebut dengan istilah utus dan berarti penempa benda dari logam. Utoih dalam bahasa Aceh digunakan untuk para tukang yang mempunyai keahlian khusus atau tukang ahli. Nama Utoih Sema merupakan gelar yang diberikan masyarakat kepada sang pande, smentara kata sema dalam bahasa Aceh berarti kutu. Cerita Utoih Sema bermula dari penangkapan Sulthan Muhammad Daud Syah (1876-1916) dan ditawan di Kuta Raja (sebutan pemerintah kolonial Belanda untuk Bandar Aceh Darussalam). Sekembalinya ke ibu kota kesulthanan. Sulthan Muhammad Daud Syah merancang serangan mendadak ke Kuta Raja dan mendapat dukungan dari para Uleebalang dan kelompok gerilyawan Aceh yang belum menyerah, Namun rencana tersebut belum dapat terlaksana dengan baik, karena pemerintahan kolonial Belanda berhasil membongkar rencan tersebut. Akibatnya Sulthan Muhammad Daud Syah diasingkan ke Batavia hingga akhir hayatnya. Uleebalang Laweng, salah seorang uleebalang Sulthan Aceh yang berkedudukan di Laweng (dekat Pidie sekarang), mencurigai Utoih Sema sebagai mata-mata pemerintahan kolonial Belanda dan membocorkan rencana tersebut. Utoih Sema akirnya dieksekusi dengan tuduhan tersebut dan sejak itulah Gampong Pande tidak lagi dihuni oleh para pengrajin logam.

Ada beberapa temuan lepas berupa benda dari logam jenis perunggu, peralatan pande logam, koin tiah, dan emas, serta manik-manik batu dari Gampong Pande. Artefak tersebut ditemukan oleh penulis di permukaan tanah melalui survey permukaan tanah pada tahun 2006 hingga 2008. Seluruhnya merupakan hasil dokumentasi BP3 Banda Aceh oleh Syam dan Lucki Armanda tahun 2010. Benda-benda logam yang ditemukan umumnya dari bahan perunggu. Para pande membuat berbagai benda untuk keperluan sehari-hari terutama peralatan untuk makan sirih, seperti wadah untuk bumbu makan sirih (gambir, kapur, cengkeh, dan buah pinang) yang dikenal sebagai kerandam dan pipa menghisap tembakau.

Daftar Pustaka
  • Djajaningrat, Hoesein. 1980. Upacara Pula Batee Pada Makam Sultan Iskandar II (1636-1641). Terj. Aboe Bakar. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.
  • G.W.J., Drewes. 1979. Hikajat Pocjut Muhamat An Achehnese Epic. The Hague Martinus Nijhoff.
  • Hugronje, Snouck C. 1986. Aceh di Mata Kolonial, Jilid 1 dan Jilid 2. Jakarta: Yayasan Soko Guru.
  • Langen, Karel F.H.van. 1968. Susunan Pemerintahan Aceh Seasa Kesultanan. Terj. Aboe Bakar. Seri Informasi Th. IX/No. 1. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.
  • Lombard, Denys. 1991. Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Balai Pustaka.
  • Reid, Anthony. 1992. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 1. Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Reid, Anthony. 1999. Dari Ekspansi Hingga Krisis II, Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Said. Muhammad. 1981. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Waspada.
  • Iskandar, T. 1978. Hikayat Aceh (Kisah Kepahlawanan Sultan Iskandar Muda). Terj. Aboe Bakar. Banda Aceh: Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh.

Dikutip dari:
Arabesk – Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments