Busway VS Labi-Labi

Monday, January 25, 2016

Busway VS Labi-Labi

Enam jempol akan saya berikan (bila ada) sebagai apresiasi atas usaha Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh. Dengan mencoba memberikan pelayanan terbaik dalam rangka memanusiakan manusia serta membenah transportasi dan lalu-lintas. Mengingat pertumbuhan kendaraan yang meningkat setiap tahunnya di kota ini. Dengan menghadirkan busaway yang nantinya dikenal dengan Bus Trans Kutaradja. Kehadiran busaway sebelumnya memang sudah direncana sejak tahun 2013 oleh Pemko Banda Aceh. Dengan harapan mampu menerapkan sistem angkutan massal berbasis serta menciptakan ketertiban, mengurangi kemacetan dan kesemerautan di dunia lalu-lintas kota ini. Ini merupakan tindakan luar biasa yang dilakukan oleh Pemkot dalam perubahan.

Setiap perubahan memang harus ada yag dikorbankan. Itulah umpama yang lebih tepat untuk menyambut tamu baru dalam dunia transportasi Kota Banda Aceh. Tidak lama dan hanya tinggal menunggu peresmian dari pusat, sebanyak 22-32 unit Bus Trans Kutaradja akan mewarnai lalu-lintas kota ini.
***
Busaway merupakan angkutan umum massal yang mulai banyak digunakan serta diminati oleh masyarakat di berbagai daerah dalam satu dekade ini. Mendengar kata busaway, mungkin sedikit terdengar asing di telinga masyarakat kita. Apalagi bila menanyakan bentuknya, pasti akan berpikir bus tersebut besar seperti Bus Trans Jakarta. Karena sebagian dari masyarakat kita memang ada yang belum pernah naik atau bahkan melihatnya secara langsung angkutan umum yang disebut busaway.

Berdasarkan pengalaman di Batam dan Pekan Baru, busaway yang ada sungguh memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para penumpang. Selain itu, tarif yang dikenakan terbilang murah. Untuk masyarakat umum dikenakan biaya hanya Rp.3000/orang, sedangkan pelajar hanya Rp.1500/orang. Karcis yang diberikan untuk sekali jalan dan berguna sampai dengan halte tujuan akhir kita (hanya menunjukkan karcis apabila berganti bus). Meskipun bentuknya hanya mini bus seperti damri, tetapi busaway ini dilengkapi dengan AC, pelayanannya yang ramah, dan tidak ugal-ugalan. Namun, untuk menikmati pelayanan dari busaway setidaknya kita sedikit harus berjalan dari tempat tinggal menuju halte terdekat.

Sebaliknya, bila kita menanyakan tentang labi-labi beserta ciri-cirinya dengan cepat akan dijelaskan sedetil-detilnya oleh masyarakat kita. Terutama dari para ibu-ibu, anak sekolah, dan mahasiswa. Semua memiliki cerita tersendiri saat menjelaskan mengenai labi-labi.

Labi-labi merupakan ciri khas dari kendaraan umum di Bumi Serambi Mekkah. Meskipun kendaraan ini hanya mampu mengangkut sampai 14 orang penumpang. Namun kendaraan ini sudah ada menemani dan memenuhi kebutuhan masyarakat Aceh sejak tahun 1980-an. Namun, rasa kenyamanan dan kepuasan masyarakat terhadap angkutan labi-labi semakin lama semakin berkurang. Ini dikarenakan ada sebagain labi-labi yang memang suka ugal-ugalan, terkadang terlalu lama berhenti menunggu sewa, dan tarifnya yang begitu relatif. Sejak harga BBM naik, tarif labi-labi mulai dari Rp.2000 untuk jarak paling dekat dan bisa mencapai Rp.5000 bila jauh (dari Darussalam ke Pusat Kota). Inilah yang menyebabkan masyarakat lebih memilih membawa kendaraan sendiri. Dan bagi masyarakat yang tidak memiliki kendaraan sendiri, mau tidak mau labi-labi menjadi pilihan utama. Meskipun terkadang harus berpanas-panasan dan berdesakan dalam ruangan yang kurang udara bila sudah dipenuhi oleh penumpang.

Sampai saat ini, belum ada Kejelasan dari Pemko mengenai bentuk Bus Trans Kutaradja yang nantinya akan mengangkut masyarakat Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Dan ini menjadi pertanyaan tersendiri bagi setiap orang. Sehingga banyak yang berpendapat, bila ukurannya seperti Bus Trans Jakarta, bukan mengurangi kemacetan tetapi malah menambah kemacetan melihat bentuknya yang besar. Sedangkan mengenai tarif, untuk masyarakat umum sampai dengan saat ini belum ada kejelasan. Yang baru terdengar kabar hanya digratiskan bagi pelajar sekolah, dan mahasiswa bila ada kartu Trans Kutaradja hanya dikenakan setengah harga dari masyarakat umum. Selain itu berdasarkan letak koridor dan titik halte busaway yang sudah ada, semua rute hampir mencangkup wilayah yang telah dilalui oleh labi-labi. Ini bisa menjadi bumerang dan permasalahan serius kedepannya bagi Pemko sendiri apabila tidak terus ditanggapi.

Selain itu, pemerintah juga harus mengajak kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat terutama si sekolah mengenai peraturan transportasi busaway. Sebab busaway nantinya akan menjadi fasilitas yang akan digunakan oleh masyarakat kalangan menengah kebawah. Karena bila busaway dirasakan sudah aman dan nyaman serta tarifnya yang terjangkau bagi masyarakat. Secara tidak langsung masyarakat pasti dengan senang hati mau naik busaway. Dari pada harus menggunakan sepeda motor, selain macet akan resiko kecelakaan juga lebih tinggi. Dan apabila busaway mampu menjawab dan melaksanakannya dengan baik, maka respon masyarakat juga akan baik.

Sebab bila saya juga setuju dengan pendapat salah seorang senator DPRK Banda Aceh yang berpendapat mengenai busaway. Bila hanya untuk mengurangi kemacetan di kota ini yang harus dikurangi adalah kendaraan termasuk membatasi pembeliaannya. Agar kota kita tidak terkesan ikut-ikutan seperti Jakarta dan agar busaway tidak bernasib sama dengan saudaranya (Damri) yang pernah ada di kota ini.


Opini ini pernah diterbitkan di media online Kanal Aceh (13 Januari 2016), Portal Satu (14 Januari 2016), dan Media Aceh (14 Januari 2016).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments