Pergerakan Kebangsaan Singapura

Saturday, January 30, 2016 0

Pergerakan Kebangsaan Singapura

Gambar Ilustrasi Bendera Singapura (Doc. Google)
Makalah Sejarah Asia Tenggara pada waktu semester 3, yang berjudul Pergerakan Kebangsaan Singapura.

Latar Belakang
Setelah Perang Dunia II berakhir, Singapura tlah kembali lagi kepada kerajaan Inggris. Mulai dari September 1945 sampai bulan Maret 1946 Singapura berada di bawah kekuasaan militer Inggris. Dan Negara-negara The Strait Settlements yang di bentuk oleh Inggris akhirnya dibubarkan dan Singapura berada dibawah Kolonial Inggris. Sejarah politik juga tidak akan lengkap tanpa perspektif sejarah PAP, DAP dan Kemerdekaan Singapura.

Pada bagian pertama, untuk membawa beberapa sejarah yang dan menjelaskan mengapa PAP ada sampai PAP yang kita kenal sekarang. Singapura lebih muda, mungkin saya tidak banyak tahu tentang wawasan berdirinya PAP dan pemimpin sejati. Tapi mudah-mudahan, dalam memahami masa lalu, kita dapat memperoleh pengalaman untuk mempersiapkan diri di masa depan.

Ini bagian pertama akan memberikan beberapa tampilan menarik (mudah-mudahan) ke dalam sejarah PAP 1955-1965. Hal ini juga akan berfungsi sebagai starter untuk 6 pemimpin Singapura, Dr Toh Chin Chye, Dr Goh Keng Swee, Lim Chin Siong, Devan Nair, S Rajaratnam dan Lim Kim San.

• Forum Malaya
Asal-usul PAP dapat ditelusuri ke Forum Malaya dimulai oleh Dr Goh Keng Swee. Forum ini terdiri dari sekelompok mahasiswa yang bertemu di Malaya Hall, Bryanston Square, London. Para mahasiswa berkumpul dari kiri dan kanan dalam perjuangan untuk kemerdekaan Malaya dan Singapura. Dalam kelahiran Malaka, Goh Keng Swee yang berada di London School of Economics adalah ketua pertama. Ia digantikan oleh Toh Chin Chye, yang sedang membaca untuk doktor dalam Fisiologi. Anggota lain termasuk John Eber, Lim Khean Chye, Tun Razak, Gazalie Shafie dan Mohammad Sopiee, beberapa dari mereka menjadi menonjol dalam kemerdekaan Malaya. Namun, keanggotaan tidak pernah melebihi 50. Mereka menganggap diri mereka sebagai sosialisme, sebuah istilah yang banyak bingung dengan Komunisme, yang dimaksudkan untuk "kemaslahatan umat" menurut Dr Toh Chin Chye.

Beberapa dari mereka, dengan semangat kemerdekaan mengambil penyebab politik dan kembali ke Singapura pada tahun 1953. Kemudian, Dr Goh, Kenny Byrne dan Dr Toh membentuk Dewan Aksi Bersama dengan Lee Kuan Yew sebagai penasihat hukum. Itu merupakan bagaimana awal Lee Kuan Yew terlibat dalam politik serikat. Selama itu, Lee Kuan Yew juga penasehat hukum untuk Samad Ismail (editor Utusan Melayu dan mantan tahanan), Lim Chin Siong dan Devan Nair. Para lulusan yang baru kembali dari Cambridge dan London berkumpul dua minggu di tempat bungalow Lee Kuan Yew Straits-Style di Oxley Road.

• Rakyat Baru Partai Aksi
Pada tahun-tahun pertama, perekrutan di kalangan mereka yang berbahasa Inggris tidak berjalan dengan baik. Dr Goh Keng Swee memperkenalkan mitra catur, Dr Lee Siew Choh (kemudian bergabung Barisan socialis) dan Dr Toh membawa Yong Nyuk Lin, yang menikmati karir yang menjanjikan dalam Jaminan Luar Negeri. Hanya segelintir menanggapi Sosialisme Demokrat PAP, dilihat sebagai berbahaya Sayap Kiri. Oleh karena itu jatuh ke Lim Chin Siong dan rekan serikat pekerja: Fong Swee Suan, Devan Nair, James Puthucheary dan Samad Ismail untuk membawa massa: serikat-serikat buruh, para pekerja dan asosiasi sekolah Cina.

Lim Chin Siong memang luar biasa, dia berdemonstrasi di Hokkien dan Mandarin. Demonstrasinya dihadiri sekitar 40.000 orang, yang mana masing-masing terpesona oleh pidato Lin Chin Siong. "Orang Inggris mengatakan Anda tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri,"mengejeknya. "Tunjukkan pada mereka! Tunjukkan pada mereka bagaimana anda bisa berdiri ", lalu 40.000 orang melompat ke atas dan menyambut semangat dengan keringat, tinju di udara, berteriak"! Merdeka!.

"Anda harus mengerti," kata Devan Nair", suasana hati orang-orang pada waktu itu sangat pahit karena sangat anti kolonialisme serta pengangguran besar-besaran. Dan bagi rakyat komunis adalah pahlawan. Lim Chin Siong memiliki tanah. Dimana massa yang bersangkutan, pemimpin serikat buruh dan Cina Komunis adalah pemimpin satunya”.

Lim pasti punya rasa hormat dari Lee Kuan Yew. David Marshall berkata, "Chin Siong diperkenalkan kepada saya oleh Lee Kuan Yew. Kuan Yew datang untuk mengunjungi saya di kantor kecil di bawah tangga dan berkata, "Bertemu Perdana Menteri masa depan Singapura!" Lim Chin Siong dan aku tertawa. Lee Kuan Yew berkata,"Jangan tertawa!" Dia adalah orator Cina terbaik di Singapura dan dia akan menjadi Menteri berikutnya Perdana kami!".

• Berdirinya Negara Federasi Malaysia
Ide mengenai penggabungan wilayah-wilayah kolonial Inggris yang ada di Asia Tenggara dengan nama Negara Persekutuan Tanah Melayu (NPTM) mendapat kejelasan dari Perdana Menteri (PM) Negara Persekutuan Tanah Melayu (NPTM), Tunku Abdul Rahman mengungkapkan gagasan mengenai pembentukan Negara Federasi Malaysia meliputi Negara Persekutuan Tanah Melayu (Singapura, Sarawak, Brunei dan Sabah) pada tanggal 27 Mei 1961 di depan Foreign Correspondent Association di Singapura. Lima bulan kemudian, pada tanggal 13 Oktober 1961 diadakan pertemuan antara Tunku Abdul Rahman dengan Perdana Menteri Inggris Harold MacMillan di London, Inggris. Hasil dari pertemuan penting tersebuat adalah pembentukan panitian penyelidik yang akan mengumpulkan data-data pendapat rakyat mengenai pembentukan Negara Malaysia. Sebagai tindak lanjut, bulan Januari 1962 dibentuk panitia penyelidik yang dinamakann Fact Finding Commision (FFC) yang diketuai Lord Cobbald.

Setelah mengadakan dengar pendapat dari tanggal 19 Februari sampai 17 April 1962, Komisi Cobbald mengeluarkan laporan yang dimuat dalam Report of The Commision of Inquiry, North Bronco and Sarawak. Hasilnya mengungkapkan dua pertiga masyarakat yang diwawancarai menyetujui penggabungan. Pada tanggal 18-31 Juli 1962 di London diadakan pertemuan lagi antara perwakilan Negara Persekutuan Tanah Melayu (NPTM) dengan Inggris yang hasilnya menyetujuan rekomendasi Komisi Cobbald dan merancanakan 31 Agustus 1963 sebagai hari kelahiran Federasi Malaysia.

Namun karena dua pertiga rakyat yang hanya menyetujui Negara Federasi Malaysia, menyebabkan timbul pemberontakan dari beberapa golongan yang tidak menyetujuin pembentukan negara tersebut. Pada tanggal 8 Desember 1962, muncul gerakan yang menolak gagasan pembentukan Negara Malaysia di Brunei. Pemberontakan tersebut dikenal dengan Partai Rakyat Brunei (PRB) yang merupakan partai terbesar di Brunei. Pemberontakan dari PRB yang dipimpin Syekh A.M. Azahari sempat memproklamirkan berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara (NNKU) dan membentuk Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU), daerah ini meliputi Sarawak, Sabah dan Brunei. Di daerah lain seperti dari Negara Persekutuan Tanah Melayu (NPTM), Singapura dan Sarawak terdapat partai-partai politik yang tidak setuju dengan pembentukan Negara Malaysia. Beberapa partai politik yang tidak menyetujuin pembentukan tersebut seperti partai Labour Party, Partai Rakyat dan Socialis Front dari Negara Persekutuan Tanah Melayu (NPTM), Congres Singapura, Parati Rakyat Singapura dan Labour Party dari Singapura, Sarawak United People Party (SUPP) dari Sarawak.

Karena adanya perbedaan itu sehingga terjadi tarik menarik kepentingan dan perbedaan sikap antara pihak yang pro dan kontra terhadap pembentukan Negara Malaysia akan menyebabkan konflik yang berkepanjangan yang melibatkan dunia Internasinal. Negara Persekutuan Tanah Melayu (NPTM) yang kemudian membentuk Fedrasi Malaysia yang didukung oleh Inggris dan negara-negara sekutunya berhadapan dengan gerakan Azahari dari Partai Rakyat Brunei (PBR) dari Brunei dan SUPP (Sarawak United People Sarawak) dari Sarawak yang didukung oleh Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Philipina.

Karena adanya perbedaan tersebut sehingga di buat pertemuan dari wakil-wakil dari Malaysia, Indonesia dan Philipina mengenai masalah Malaysia yaitu pada tanggal 10 Juni 1963. Pertemuan tersebut menghasilkan Maphilindo sebagai alternatif soluisi bagi masalah Malaysia. Pada pertemuan tingkat tinggi pada 30 Juli dn 15 Agustus 1963 antara Presiden Indonesia Soekarno, Presiden Philipina Diosdado Macapagal dan Perdana Menteri PTM Tunku Abdul Rahman mendukung Maphilindo dan meminta PBB menyelenggarakan jajak pendapat di Sabah dan Sarawak guna memastikan rakyat kedua wilayah tersebut menyetujui untuk bergabung dalam Federasi Malaysia atau tidak. Keputusan dari KTT di Manila tersebut menghasilkan Manila Accord 30 Juli 1963. Namun jajak pendapat tersebut tidak dilakukan di Brunei, sebab wilayah tersebut sudah memutuskan untuk tidak bergabung dengan Negara Federasi Malaysia.

Menanggapi Manila Accord, Sekretaris Jenderal PBB, U Thant membentuk Misi Michelmore. Misi tersebut tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963 dan melaksanakan programnya tanggal 26 Agustus 1963. Dalam jajak pendapat anggota misi berbicara dengan pemimpin-pemimpin kelompok agama, etnis dan buruh, pejabat pemerintahan, pemimpin politik, serta kepala suku di Sabah dan Sarawak. Hasilnya misi PBB tersebut menemukan bahwa mayoritas rakyat yang diwawancarai memilih untuk menggabungkan kedua wilayah mereka dengan Malaka dan Singapura dalam Federasi Malaysia.

• Konflik Dalam Negara Federasi Malaysia
Secara geografis, penggabungan Singapura dengan Negara Federasi Malaysia karena letak Singapura yang sangat strategis untuk sebuah pelabuhan yang maju. Tetapi penggabungan yang dilakukan banyak menuai kontra dari berbagai kalangan yang ada di Malaysia maupun Singapura sendiri, mengingat Singapura merupakan wilayah dengan mayoritas etnis Cina. Orang Melayu sangat khawatir akan tergeser oleh orang Cina, sementara itu isu komunis merupakan isu yang masih hangat di kawasan Asia Tenggara.

Artikel Terkait:
Sejarah PAP (People Action Party)

DAFTAR PUSTAKA
  • Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia Terhadap Pgrs/Paraku 1963-1967. pdf
  • Musa, Kustina. 1989. “Geografi Asia Tenggara”.Departermen Pendidikan dan
  • Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Jakarta.
  • Kuda Ranggi. 2006. Peminggiran Melayu Singapura oleh PAP, (Oniline), diakses 2012.
Pengertian Sejarah

Pengertian Sejarah

Saturday, January 30, 2016 0

Pengertian Sejarah

Kata sejarah barangkali sudah sering didengar sejak pertama kali guru sejarah mengajarkan mata pelajaran sejarah kepada kita, mulai dari sejak SD, berlanjut ke SMP, SMA, bahkan sampai awal menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi. Pada awal-awal mata kuliah Pengantar Ilmu Sejarah di Perguruan Tinggi apabila kita diberi sebuah pertanyaan apakah sejarah itu? Kalimat jawaban yang kita utarakan yaitu sejarah merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang terjadi di masa lampau. Pengertian sejarah bahkan disangkut pautkan dengan beberapa bahasa, seperti pada bahasa Arab syajara berarti terjadi, syajarah berarti pohon, syajarah an-nasah berarti pohon silsilah; bahasa Inggris history, dari bahasa Latin dan Yunani histor atau istor berarti orang pandai. Pengertian sejarah secara demikian merupakan gambaran secara umum dari pengertian sejarah, namun tidak ada yang memenuhi karakteristik ilmu sejarah. Jadi, apakah sejarah itu?

Pengertian sejarah terbagi menjadi dua, yaitu pengertian sejarah secara negatif dan pengertian sejarah secara positif (Kuntowijoyo, 1999:7). Pembagian pengertian sejarah secara demikian memiliki alasan masing-masing sesuai dengan uraian tentang pengertian sejarah. Sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur-prosedur atau karakteristik ilmu sejarah dan penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta berupa sumber sejarah secara tuntas, sehingga mampu mengungkapkan secara objektif dan kecocokan dari sebuah sejarah.

1. Pengertian Sejarah Secara Negatif
Sejarah Itu Bukan Mitos.
Sejarah bukanlah sebuah mitos dan mitos belum tentu bisa dikatakan sejarah meskipun keduanya sama-sama menceritakan masa lalu. Mitos menceritakan masa lalu dengan waktu yang tidak jelas sedangkan sejarah semua peristiwa dijelaskan secara persis disertai kapan terjadinya. Kejadian dalam mitos tidak masuk akal orang masa kini sekalipun dipercaya sungguh-sungguh terjadi di masa lalu namun sumbernya berasal dari mulut ke mulut (cerita) sedangkan bagi sejarah sumber lisan sah sifatnya apabila prosedur penelitian sejarah diterapkan.

Sejarah Itu Bukan Filsafat
Filsafat itu abstrak dan spekulatif dalam bahasa Latin disebut abstractus berarti pikiran dan speculattio gambaran angan-angan atau bisa diartikan bahwa filsafat hanya berhubungan dengan pikiran utama. Bila berbicara tentang manusia, maka manusia itu ialah manusia pada umumnya atau manusia yang ada dalam gambaran angan-angan menurut filsafat. Kalau sejarah berbicara tentang manusia, maka yang dibicarakan ialah orang tertentu yang mempunyai tempat dan waktu serta terlibat dalam kejadian. 

Sejarah Itu Bukan Ilmu Alam
Sejarah memiliki cara tersendiri dalam pekerjaannya, meskipun sering dikaitkan dengan ilmu-ilmu manusia atau human studies. Sejarah selalu menuliskan hal-hal yang khas serta pikiran seseorang atau bersifat ideografis berasal bahasa Yunani idio berarti ciri-ciri atau pikiran dan graphein berarti menulis. Ilmu alam itu sifatnya nomothetis, berasal dari bahasa Yunani nomo berarti hukum, dan tithenai berati mendirikan, yaitu ilmu alam bertujuan menemukan atau mendirikan hukum-hukum umum.

Sejarah Itu Bukan Sastra
Ada tiga hal yang berbeda antara sejarah dan sastra. Pertama, cara kerja sastra lahir dari kehidupan sesuai yang dimengerti pengarang. Kedua, kebenaran mutlak berada di bawah kekuasaan pengarang (subjektif) dan tidak ada yang mengikatnya. Ketiga, hasil keseluruhan atau kesimpulan hanya menjadi tuntutan pengarang dengan dunia yang dibangunnya sendiri. Hal-hal demikian tidak bisa dilakukan oleh sejarah, karena sejarah harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya, setuntas-tuntasnya, dan sejelas-jelasnya.

2. Pengertian Sejarah Secara Positif
Sejarah Itu Ilmu Tentang Manusia
Sejarah hanya mengurus manusia masa kini, sedangkan manusia berupa fosil menjadi objek penelitian antropologi ragawi dan demikian juga dengan benda-benda meskipun dibuat oleh manusia tetapi telah menjadi pekerjaan arkeologi untuk menelitinya. Sejarah hanya meneliti peristiwa-peristiwa sesudah 1500 Masehi.

Sejarah Itu Ilmu Tentang Waktu
Sejarah membicarakan masyarakat dari segi waktu, yakni perihal mengenai perkembangan, kesinambungan, pengulangan, dan perubahan. Pembabakan waktu atau periodisasi dipisahkan agar jelas ciri-cirinya, sehingga mudah dipahami. Jadi, sejarah ialah ilmu tentang waktu.

Sejarah Ialah Ilmu Tentang Sesuatu Yang Mempunyai Makna Sosial
Sejarah membicarakan tentang perkembangan dan perubahan yang terjadi pada masyarakat dikarenakan adanya suatu sebab yang dapat mengakibatkan suatu peristiwa yang besar.

Sejarah Ialah Ilmu Tentang Sesuatu Yang Tertentu, Satu-Satunya, dan Terinci
Sejarah tidak terbatas akan hal yang besar-besar, namun sejarah juga harus menyajikan hal-hal yang sekecil-kecilnya.

Definisi Sejarah
Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu yang dikerjakan oleh para sejarawan dan mempunyai kebebasan yang terikat oleh fakta. Sejarawan dapat menulis apa saja, asal memenuhi syarat untuk disebut sejarah, baik itu rekonstruksi yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh seseorang.


Dikutip dari:
Kuntowijoyo. 1999. Pengantar Ilmu Sejarah. Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya.
Asal Ada Kamu - Say IFull

Asal Ada Kamu - Say IFull

Saturday, January 30, 2016 0

Chord & Lirik
Asal Ada Kamu - Say IFull

Karya: Mhd. Saifullah 
Intro:

D, F#m, G, A
D, F#m, G, A



        D    F#m

Terpaan angin malam.
        G A
Yang memberikan kesejukan.
        D     F#m
Bertambah suasana romantis.
        G A
Saat ku tatap dirimu yang sangat manis.
   D    F#m     G     A
Ohh kasih ohh sayang.

        D    F#m
Seakan tak ingin berlalu.
        G A
Ohh malam minggu.
       D    F#m
Kan ku habiskan waktu ini.
        G A
Hanya, bersama dirimu.

(#)
   Bm
Tak penting pukul satu.
   F#m
Inikan malam minggu.
         G
Akan ku habiskan waktu ini.
  A
Hanya bersamamu.

Reff:
        D    F#m        G A
Aku cinta kamu, kamu cinta aku.
        D    F#m        G A
Biar orang berkata apa, asal cinta ini milik kita.
        D    F#m        G A
Aku sayang kamu, kamu sayang aku.
        D                     F#m                     G
Biar orang berkata apa, asal cinta ini milik kita.
     A
Berdua.

Introlead:
D, F#m, G, A
D, F#m, G, A
D, F#m, G, A
D, F#m, G, A


Kembali ke (#)
Reff (2x)



     A

Berdua.


 D F#m  G A



     A

Berdua.
Gitar

Gitar

Thursday, January 28, 2016 0

Gitar

Gitar adalah sebuah alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik. Pada umumnya setiap pemain menggunakan jari atau juga plektrum. Hampir semua orang di dunia ini mengenal gitar dan pernah melihat bentuknya secara langsung. Terutama bagi para pemain atau pegiat musik, pasti mengetahui salah satu alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik ini. Namun begitu banyaknya pemain musik terutama dibagian gitar, hanya sedikit yang mengetahui asal usul ataupun sejarah dari gitar. Berikut ini akan dijelaskan sekilas sejarah gitar dari masa ke masa.

Sejarah Gitar
Gitar berasal dari bahasa Inggris, yaitu guitar. Sebutan yang berawal dari nama citar atau shetar, sebuah alat musik petik dari Bangsa Persia pada 1500 SM. Lalu citar atau shetar ini berkembang dengan berbagai model yang dikenal dengan tambur atau gitar kuno Persia. Dan sejak tahun 300 SM, Tambur dikembangkan oleh Bangsa Yunani, lalu enam abad kemudian dikembangkan lagi oleh Bangsa Romawi dan alat musik ini dibawa ke Spanyol pada tahun 476 M. Di Spanyol alat musik ini bertansformasi menjadi guitarra morisca (pembawa melodi) dan guitarra latina (memainkan akor).

Tiga abad setelah ditemukannya guitarra morisca dan guitarra latina, bangsa Arab datang ke Spanyol dengan membawa alat musik bernama al ud yang berbentuk semacam gitar gambus. Setelah hadirnya beberapa alat musik petik di Spanyol, bangsa ini kemudian berupaya membuat alat musik sendiri. Dari usaha tersebut melahirkan alat musik yang disebut vihuela, yaitu gabungan konstruksi antara kedua alat musik yang pernah ada sebelumnya. Sejak saat itu, vihuela menjadi alat musik petik populer di Spanyol dan membuat alat musik sebelumnya lambat laun semakin ditinggalkan. Setelah beberapa abad kemudian, vihuela semakin berkembang di Spanyol menjadi berbagai macam alat musik petik hingga akhirnya menjadi gitar klasik seperti yang banyak dipergunakan saat ini. Dari masa itu hingga tahun 1650 M, gitar terus mengalami evolusi yang begitu rumit dan beraneka ragam. Begitu banyak jenis dan masing-masing memiliki nama yang berbeda.

Jenis-Jenis Gitar
Secara umum gitar terbagi dalam dua jenis, yaitu akustik dan elektrik. Berikut akan dijelaskan sedikit mengenai dua jenis gitar tersebut.

  • Gitar Akustik
Gitar akustik merupakan alat musik petik yang berbahan kayu dengan menggunakan jenis senar sesuai penggunaannya. Gitar akustik ini telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Dengan ciri-ciri bentuk memiliki lubang dibagian badannya (hole body). Selain itu, gitar akustik memiliki tiga jenis utama dalam penggunaan senar, yaitu gitar akustik senar nilon, gitar akustik senar baja, dan gitar akustik senar archtop.

Pada jenis gitar ini, suara dihasilkan berasal dari getaran senar yang dialirkan melalui sadel dan jembatan tempat pengikat senar. Getaran ini nantinya akan masuk kedalam ruang suara lalu beresonasi terhadap kayu badan gitar. Oleh karena itu, jenis serta kualitas kayu sangat mempengaruhi suara yang dihasilkan pada gitar ini.

  • Gitar Elektrik

Gitar Elektrik merupakan alat musik petik yang memerulukan energi listrik untuk membantu menbunyikan suaranya. Bergantung pada penguat yang secara elektronik mampu memanipulasi bunyi gitar(amplifier).

Gitar ini diperkirakan mulai diperkenalkan pada tahun 1930an. Pada mulanya penggunaan gitar elektrik tidak jauh berbeda dengan gitar akustik yang ada, yaitu menggunakan badan berlubang (hole body). Namun seiring perkembangan, gitar ini dirasa lebih sesuai menggunakan badan padat (solid body) dirasa lebih sesuai. 

Gitar elektrik terkenal luas sebagai instrumen utama pada berbagai genre musik seperti blues, country, reggae, jazz, metal, rock, dan berbagai bentuk musik pop. Inilah yang membedakan jenis gitar elektik ini dengan gitar akustik biasa.

Keaslian sebuah gitar tidak dapat dilihat dari keantikkannya. Oleh karena itu, hinga sampai saat ini beberapa ahli masih mendebatkan asal usul gitar, ada yang mengatakan berasal dari Afrika, Asia Tengah, dan Yunani. Namun alat musik pertama yang dikatagorikan sebagai gitar adalah greek strings. Gitar yang diperkirakan berakar dari gitar Spanyol ini merupakan gitar modern yang banyak dipergunakan saat ini. Bukti ini diperkuat dengan lukisan-lukisan instrumen yang terdapat pada zaman Medieval dan Renaissance.


Sumber Kutipan:
https://guitarxchord.wordpress.com/guitar-2/definisi-gitar-sejarah-gitar/
http://senimyusik.blogspot.co.id/2012/08/pengertian-gitar.html
http://tekanmusik.blogspot.co.id/2013/07/mengenal-gitar-elektrik-apa-itu-gitar.html





Pendidikan dan Cita-Cita Bangsa

Pendidikan dan Cita-Cita Bangsa

Thursday, January 28, 2016 0

Pendidikan dan Cita-Cita Bangsa

Pendidikan merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sebab pendidikan adalah tonggak untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang dicita-citakan oleh bangsa. Dan ini telah tertera dalam UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi,”Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.

Dalam agama Islam telah dijelaskan pentingnya pendidikan atau menuntut ilmu, sesuai dengan ayat Al-Qur’an pertama diturunkan adalah Iqra yang artinya “baca” atau “pahami” lalu diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu hadits tentang menuntut ilmu juga dijelaskan oleh Rasulullah SAW,“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina” dan “Carilah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat”. Ini merupakan bukti bahwa pendidikan itu penting dan wajib dicari serta dipelajari oleh setiap manusia.

Menurut para ahli seperti Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusian. Selain itu menurut Frederick J. Mc Donald pendidikan adalah proses yang arah serta tujuannya adalah untuk merubah tabiat manusia. Secara keseluruhan, pendidikan bisa diartikan usaha sadar dan sistematis yang dilakukan manusia untuk mencapai kemajuan yang lebih baik atau taraf hidup.

Begitu pentingnya pendidikan bagi setiap bangsa sehingga organisasi United Nation (UN) atau Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk organisasi yang menangani tentang pendidikan dunia, yaituUnited Nations Educational, Scientific and Cultural (UNESCO). Dengan menerapkan empat pilar bahwasannya pendidikan itu penting baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni Learning to Know, Learning to do, Learning to be, dan Learning to live together. Sungguh begitu pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa, sehingga setiap bangsa terus berusaha untuk mengembangkan pendidikan bangsanya.

Belakangan ini, beberapa kasus yang terjadi dilapangan pada dunia pendidikan sungguh sangat menyedihkan kita.Untuk tahun 2015, ada beberapa kasus mengenai praktik dan kualitas pendidikan. Dan kasus-kasus tersebut terjadi pada seluruh tingkatan pendidikan yang ada, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Pada tingkat sekolah, adanya praktik pragmatis penerimaan siswa baru dan perdagangan buku semakin menjadi trend. Dibeberapa sekolah ada yang menghargai dengan bonus Rp. 20.000-Rp. 50.000/siswa, kepada individu yang turut andil mendaftarkan calon siswa. Selain itu, ada beberapa sekolah yang menjual buku-buku kepada siswa dengan harga yang cukup tinggi. Dan ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua siswa yang kurang mampu. Di perguruan tinggi, kasus pemalsuan ijazah dan baru-baru ini adanya wisuda abal-abal yang dilakukan oleh Universitas Terbuka. Semua kasus ini merupakan perbuatan korupsi secara tidak langsung. Bagaimana bangsa ini mau melahirkan manusia berkualitas bila praktik-praktik kegiatan pragmatis tumbuh subur. Hal ini menunjukkan begitu buruknya praktik pendidikan di Indonesia serta kurangnya pemantauan yang dilakukan oleh pihak pemerintah.

Mengenai kualitas pendidikan, pemerintah mencanangkan Wajib Belajar (Wajar) 9 Tahun untuk  masyarakat, dimulaidari kelas 1 SD sampai kelas 9 SMP. Dan biaya yang dikeluarkan sungguh tidak main-main demi meningkatkan kualitas pendidikan, yaitu mencapai 20% dari APBN (Anggaran Pengeluaran Belanja Negara). Namun, dari begitu besar biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah, Indonesia masih memakai predikat negara terendah di dunia dalam pendidikan. Data tersebut dikeluarkan oleh The Learning Curve Pearson (TLCP) 2014 dan Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) 2015.

Pada data TLCP 2014 yang diterbitkan oleh www.okezone.com pada Selasa, 13 Mei 2014, pendidikan Indonesia menempati posisi ke-40, dengan indeks ranking minus 1,84. Sementara kemampuan indeks rangking 2014 versus 2012 Indonesia diberi nilai minus 1,71. Disamping itu untuk nilai pencapaian, Indonesia diberi skor minus 2,11 dan posisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai terburuk dibawah Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan Thailand dari lima ranking terbawah.Sedangkan data OECD 2015 untuk sekolah global sesuai www.bbc.com terbitan 13 Mei 2015, Indonesia berada di urutan 69 dari 76 sekolah global yang ada didunia. Ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan kita keseluruhan masih sangat jauh tertinggal.

Ternyata, kucuran dana yang besar tidak menjamin akan meningkatnya kualitas pendidikan suatu bangsa. Dan berbagai program telah dicoba oleh pemerintah, mulai dari gonta-ganti kurikulum, sampai dengan sistem Ujian Nasional yang memakai paket. Tetapi hasilnya juga membuat kepala kita masih bangga untuk terus tertunduk. Lalu apa yang salah dari pendidikan di Indonesia?

Padahal pendidikan merupakan wadah pembentuk karakter bangsa dan juga cerminan peradaban suatu bangsa dalam menghasilkan manusia-manusia intelektual yang dapat bersaing di kancah nasional maupun internasional. Ini bukti Indonesia masih gagal dalam praktek pendidikan, sehingga beberapa kasus seperti di atas terjadi dengan mudahnya dan pihak pemerintahan tidak mengetahuinya. Sehingga beberapa kasus lama masih saja berlanjut dan kasus baru semakin timbul.

Pendidikan itu sangat penting untuk kemajuan sebuah negara apalagi untuk individu seseorang. Bahkan semua orang berani mengeluarkan biaya yang besar untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sehingga sampai dengan saat ini, bangsa kita terus berbenah diri memperbaiki kualitas pendidikan yang ada. Dengan harapan kedepannya akan ada manusia-manusia Indonesia yang memiliki intelektual tinggi yang mampu untuk menjaga ketertiban dunia dengan menuju kemerdekaan, perdamaian abadi, dan yang akan menegakkan keadilan sosial.

Sebenarnya penerapan pendidikan di Indonesia sudah bagus dengan metode pembentukan karakter sejak di bangku sekolah. Namun di sini pemerintah juga harus mengawasi orang-orang yang melakukan pragmatis demi kepentingan tertentu dalam dunia pendidikan. Bagaimana para peserta didik tidak melakukan kecurangn bila oknum-oknum yang dekat dengan mereka telah mengajari hal yang tidak baik dari awal.

Sebagai mahasiswa, kita juga seharusnya ambil andil untuk memperbaiki kualitas dan praktik pendidikan yang ada. Dengan melakukan minimal bakti pendidikan bukan hanya dengan KKN dan SMT3 di daerah-daerah yang minim akan pendidikan. Tetapi kita bisa membuat less privat tanpa imbalan minimal di daerah tempat tinggal kita. Karena ini merupakan pengabdian kita sesungguhnya untuk rakyat yang sesuai dengan Tridharma Perguruan Tingi. Apabila kita melihat praktik pragmatis dalam dunia pendidikan, cobalah untuk melaporkan kepada yang berwenang. Di samping itu sebagai masyarakat Indonesia, kita memiliki tanggung jawab untuk mewujudnya cita-cita bangsa sesuai Undang-Undang Dasar 1945.

Semua tidak akan dengan mudah berubah bila kita hanya berharap pemerintah dan tidak dilakukan dengan bekerja bersama-sama. Dan bila kita bekerja bersama-sama, secara otomatis semua mampu dijalankandan akan terwujudlah masyarakat yang sejahtera di Indonesia. Amin.

Darussalam
Banda Aceh, 27 September 2015

Kau dan Aku: Kesempurnaan Cinta

Thursday, January 28, 2016 0

Kau dan Aku: Kesempurnaan Cinta

Karya: Mhd. Saifullah
Berapa banyak keajaiban
yang engkau tanam dan harapkan.
Dariku.
Untuk membuat aku sempurna.
Terutama di matamu.
Sepuluh?
Seratus?
Seribu?
Atau bahkan berjuta-juta?

Aku tahu,
engkau tidak akan menjawabnya.
Ya, aku tahu itu.

Mana mungkin engkau memanen
kesempurnaan itu.
Terutama dariku.
Aku yakinkan itu.
Sepenuhnya.
Aku ingatkan kembali,
kesempurnaan itu tidak ditanam.
Apalagi dipanen seperti harapan.
Tidak mungkin
kesempurnaan itu ada pada sesuatu.
Sebab sesuatu membutuhkan
lainnya sesuatu.

Kekuranganku adalah kelebihanmu.
Kelebihanku penutup keminusanmu.
Keduanya saling melengkapi.
Itulah kesempurnaan sejati.
Jadi tidak perlu kau tanam,
harapkan, atau kau cari.
Karena kesempurnaan itu
adalah engkau dan aku.
Kajhu, Aceh Besar
1 Januari 2016
Gambar IFull dan INurr (Doc. Mhd. Saifullah)

Cinta Gembala

Thursday, January 28, 2016 0

Cinta Gembala

Gambar Ilustrasi Gembala (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Melanda hati anak manusia.
Tak pandang usia.
Tua, muda dihantamnya.

Cinta gembala.
Boleh merajut
si miskin dan kaya.

Cinta gembala.
Meluluh lantakkan mata,
hati, jiwa, keluarga,
dan bahkan agama.

Cinta gembala.
Membutakan seluruhnya.
Kajhu, Aceh Besar
30 November 2015

Latar Belakang RRI Banda Aceh

Tuesday, January 26, 2016 0

Latar Belakang RRI Banda Aceh

Radio Republik Indonesia (RRI) merupakan satu-satunya radio siaran yang menyandang nama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) serta siarannya ditujukan untuk kepentingan bangsa dan negara. RRI juga dikenal bersifat independen, netral, dan tidak komersial serta berperan sebagai pemberi pelayanan berupa siaran informasi, pendidikan, kontrol sosial, hiburan yang sehat serta menjaga citra positif bangsa di dunia internasioal.
Gambar Logo RRI (Radio Republik Indonesia (Doc. RRI)
Dalam sejarah perkembangannya, radio pertama kali masuk di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Sedangkan lembaga penyiaran radio yang pertama kali berdiri milik pemerintahan Belanda pada 16 Juni 1925 bernama Bataviasche Radio Vereniging, lima tahun setelah berdirinya radio di Amerika Serikat, dan tiga tahun setelah munculnya radio Inggris dan Uni Soviet (Rusdi Sufi, 1999:25). Selanjutnya disusul lembaga penyiaran radio lain milik pemerintah Belanda, salah satunya bernama Nederlandsche Indische Omroep Mij yang berada di Batavia, Bandung, dan Medan. Selain itu lembaga penyiaran radio milik swasta juga berdiri, seperti di Medan milik tuan Mayer dan Allgemene Vereniging bernama Mayer Omroep Voor Allen (Sudirman, 2012:11). Selama masa pemerintahan Belanda, lembaga penyiaran radio lebih banyak dipergunakan untuk kepentingan politik dan budaya yang hanya menguntungkan pemerintahan agar lebih mudah mengontrol serta mendapatkan informasi mengenai perkembangan daerah jajahan. Sedangkan pada masa kedudukan Jepang di Indonesia, lembaga penyiaran radio dipergunakan sebagai alat propaganda oleh pemerintahan untuk melawan sekutu dengan meminta bantuan kepada rakyat untuk mendukung pemerintahan Jepang dalam peperangan Asia Timur Raya (Sudirman, 2012:13). Sehingga lembaga penyiaran radio yang pernah ada harus menyiarkan siaran Hoso Kyoku yang penyiarannya dipusatkan dari Hoso Kanri Kyoku di Jakarta apabila tidak ingin disegel paksa oleh pemerintahan Jepang.

Paska Jepang takluk kepada sekutu, Indonesia memproklasmasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun berita proklamasi tersebut tidak dapat langsung didengar pada hari yang bersamaan oleh seluruh rakyat Indonesia, melainkan sehari setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan berita tersebut baru dapat dikumandangkan melalui Radio Indonesia Merdeka. Ini disebabkan karena seluruh radio masih dijaga dan dikuasai oleh Jepang sampai sekutu mendarat ke Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, seluruh pemimpin lembaga penyiaran radio yang ada di Jawa berinisiatif melakukan pertemuan dan membentuk wadah pemersatu lembaga-lembaga radio. Pertemuan yang dilakukan mulai tanggal 10-11 September 1945 di Jakarta dengan membahas begitu pentingnya alat komunikasi berupa radio. Dari pertemuan tersebut menghasilkan dua poin penting, pertama menuntut pemerintahan Jepang untuk menyerahkan seluruh studio radio, perlengkapan beserta pemancar siaran kepada Bangsa Indonesia dan kedua membentuk suatu organisasi radio yang efektif dan ideal. Dengan demikian, pada tanggal 11 September 1945 disepakati berdirinya suatu organisasi radio bernama Radio Republik Indonesia (RRI) (Rusdi Sufi, 1999:31).

Pada masa berjuang mempertahankan kemerdekaan dari Belanda, RRI memiliki peran penting dalam membangkitkan semangat perjuangan serta memberikan informasi perkembangan peperangan diberbagai daerah. Dan di Aceh, para pemuda mulai menyadari akan pentingnya alat komunikasi berupa radio untuk masa-masa sulit tersebut, sehingga para pemuda berusaha untuk merebut radio yang masih dikuasai oleh Jepang. Para pemuda Aceh dipimpin oleh Said Ahmad Dahlan berhasil merampas pemancar radio Hodoka milik Jepang yang telah rongsok dan sengaja dihancurkan agar pemuda-pemuda Indonesia di Aceh tidak dapat menggunakannya untuk berkomunikasi. Berawal dari sebuah pemancar radio rongsok ini kelak menjadi cikal-bakal berdirinya RRI Kutaraja yang mengudara pada 11 Mei 1946, setelah usaha dan kerja keras untuk memperbaiki serta mengganti onderdil baru yang dilakukan para pemuda (Sudirman, 2012:33).

Radio Republik Indonesia (RRI) Kutaraja pertama kali mengudara menggunakan kekuatan 25 watt dengan gelombang pemancar 68-73 meter, jangkauannya hanya di kawasan Kutaraja dan sekitarnya. Setidaknya pada saat itu penduduk sudah dapat mengikuti berita perkembangan perjuangan di dalam maupun di luar daerah. Sehubungan dengan itu, mengingat di beberapa daerah masih melakukan perjuangan, para pemuda berinisiatif untuk memperluas jangkauan siaran agar daerah yang masih berjuang dapat mendengar berita perkembangan peperangan. Keinginan tersebut baru dapat dilakukan pada tahun 1947, setelah mendapat bantuan dari seorang keturunan Indo-Jerman yang bertugas di Dinas Pos dan Telegram/Telepon bernama W. Schulz dan seorang keturunan Cina bernama Hojok Tjam.

Berkat adanya bantuan tersebut RRI Kutaraja memiliki kekuatan siaran 100 watt serta gelombang pemancar 33 meter dengan jarak jangkau siaran hingga kedaerah Medan dan Bukittinggi. Sejak saat itu RRI Kutaraja berubah menjadi Pemanjtar RRI Aceh (Sudirman, 2012:35). Perluasan siaran selanjutnya dilakukan pada 9 April 1948, dengan kekuatan 325 watt serta gelombang pemancar 33,5 meter dan jarak jangkauan mampu diterima hingga keluar negeri. Bertambahnya jangkuan siaran hingga sampai keluar negeri menjadi keuntungan tersendiri dalam melakukan perjuangan pada saat itu bagi Bangsa Indonesia, terutama sewaktu dilaksanakannya persidangan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Berita-berita yang disiarkan oleh Pemanjtar RRI Aceh  mengenai mosi, resolusi, semangat membangkitkan perjuangan, tekad, serta sikap Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Selain itu pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Pemanjtar RRI Aceh juga membantah prpoganda menjelekkan Indonesia di mata internasional yang dilakukan oleh Belanda.

Lahirnya lembaga penyiaran Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh  tidak terlepas dari kesadaran serta kerja keras para pemuda Aceh mengingat pentingnya alat komunikasi berupa radio. Saat ini, RRI Banda Aceh telah menjalankan tugasnya selama 69 tahun sebagai alat komunikasi media massa elektronik pemberi informasi dan selama itu juga pasti banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh lembaga penyiaran ini dalam melakukan siaran. 
Mematikan Kegiatan Karnaval di Aceh

Mematikan Kegiatan Karnaval di Aceh

Monday, January 25, 2016 0

Mematikan Kegiatan Karnaval di Aceh

Sesungguhnya suatu hiburan gratis yang sangat luar biasa di Aceh dan di Kota Banda Aceh khususnya. Sebuah kegiatan yang banyak menghabiskan anggaran ini tertuang hanya untuk hiburan semata berupa karnaval. Kegiatan hiburan yang hanya untuk dinikmati oleh masyarakat umum secara gratis. Kegiatan yang hanya menyisakan puisng-puing sampah dan kelelahan bagi para peserta dan petugas.

Bulan Juli kemarin, kita telah dihibur dengan kegiatan karnaval yang diadakan pada saat malam menjelang Raya Idul Fitri. Kegiatan ini menjadi lebih istimewa karena dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo. Oleh karena itu, ini merupakan suatu kebanggaan bagi Aceh dan khususnya masyarakat Kota Banda Aceh. Karena jarang sekali kegiatan karnaval seperti ini dihadiri oleh seorang Presiden.

Sebulan kemudian, tepat pada tanggal 18 Agustus kemarin. Masyarakat Aceh dan khususnya Kota Banda Aceh juga baru dihibur dengan kegiatan serupa. Kegiatan yang dibuat dalam memperingati Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia telah banyak meninggalkan euforia dan duka di dalamnya. Sama seperti kegiatan yang telah dilaksanakan pada bulan kemarin, tetapi yang membedakan adalah kegiatan ini diselenggarakan pada siang hari.

Sungguh kegiatan yang luar biasa diselenggarakan oleh Dispora Provinsi Aceh ini. Dengan menampilkan beberapa atraksi yang membuat kita kagum dari para peserta yang telah dihias dengan beberapa pakaian, mulai dari pakaian adat, para pejuang sampai pakaian yang didesain sedemikian rupa. Kegiatan yang diikuti oleh beberapa peserta dari berbagai lembaga dan organisasi masyarakat ini terbilang sukses. Dengan melibatkan peserta dengan tingkatan usia yang berbeda-beda, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Antusias peserta dan masyarakat juga sangat luarbiasa. Terlihat peserta dengan semangat berjalan melenggak-lenggok sambil memakai hiasan yang super ribet dan masyarakat dengan senang hati mengabadikan gambar serta video meski cuaca saat itu tergolong cukup panas.

Di balik semua kegiatan itu, ada beberapa buah bibir yang sangat kurang enak didengar oleh telinga ini. Di mana, pada saat acara karnaval kemarin banyak peserta yang lemas terutama anak-anak karena telah lama menunggu dimulainya acara. Selain itu, waktu yang dipergunakan juga sangat menyita kegiatan untuk melaksanakan ibadah. Karena kegiatan baru dimulai lewat pukul 14.00 WIB sampai hampir tiba waktu maghrib dan waktu salat Ashar terlewati begitu saja. Secara tidak langsung, kegiatan karnaval ini juga telah menjelekkan nama Aceh sebagai daerah Serambi Mekkah atau yang sedang menegakkan syariat Islam.

Kegiatan karnaval bukanlah suatu hiburan semata. Melihat permasalahan yang ada, ini menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah Aceh dan pihak penyelenggara. Di mana pemerintah ditantang untuk “Mematikan Kegiatan Karnaval” yang ada di Aceh?

Sudah sepantasnya pemerintah mengambil kebijakan akan hal ini. Mematikan kegiatan karnaval yang penulis maksudkan bukanlah menghentikan. Mematikan yang dimaksud adalah empat aspek dan dampak dari kegiatan tersebut. Keempat aspek tersebut adalah Melestarikan Budaya dan Menjaga Adat, Tingkatkan Ilmu Pengetahuan, Agama, dan Nasionalisme (Mematikan).

Kegiatan karnaval itu harus menjadi alat untuk melestarikan budaya, serta menjaga adat Aceh. Dengan menampilkan kebudayaan-kebudayaan serta adat istiadat Aceh. Mengingat pengaruh globalisasi serta budaya luar yang begitu gencar masuk ke Aceh. Dan melalui karnaval ini kita lestarikan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang kebudayaan yang kita miliki di Aceh.

Selain itu, kegiatan karnaval juga harus memiliki nilai untuk meningkatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Dengan menampilkan hasil karya yang ditemukan oleh pemuda atau generasi Aceh pada berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sehingga menjadi sebuah motivasi bagi masyarakat Aceh dan generasi selanjutnya.

Kegiatan karnaval yang dilaksanakan harus mendukung sektor keagamaan. Di mana kegiatan karnaval dengan menampilkan yang membuat manusia selalu ingat kepada Sang Pencipta. Seperti pada peringatan Tsunami melanda Aceh, dengan menampilkan peragaan para korban pada saat Tsunami dan lemahnya manusia di mata Sang Pencipta. Selain itu, juga menampilkan gambaran penyiksaan manusia saat akhir zaman, dan penampilan yang lainnya.

Dan yang terakhir menampilkan karnaval untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan saling menghormati antara sesama masyarakat. Dengan menampilkan para pahlawan yang berjuang pada saat mempertahankan negara ini dari para penjajah. Terutama para pahlawan dari Aceh, agar masyarakat tahu siapa saja pahlawan yang telah berjasa bagi Indonesia berasal dari tanah rencong.

Kegiatan karnaval itu perlu dilaksanakan, asalkan kegiatan tersebut bukan hanya untuk sebuah hiburan semata. Tetapi juga sebagai pendorong untuk empat aspek ‘Mematikan’ kegiatan karnaval. Di samping itu, waktu yang dipergunakan untuk kegiatan karnaval juga harus diperhatikan agar tidak mengganggu kegiatan beribadah. Alangkah baiknya kegiatan karnaval dilaksanakan pada waktu pagi sampai menjelang zuhur, atau malam setelah waktu salat isya.

Melihat permasalahan yang terjadi pada saat karnaval, pemerintah dan penyelenggara ke depannya harus lebih siap menyelenggarakan kegiatan karnaval ini dengan sebaik-baiknya. Selain itu, pemerintah dan pihak penyelenggara juga harus memperhatikan aspek apa saja yang menjadi target dan apa dampak atau efek dari dilaksanakannya kegiatan. Sehingga kegiatan karnaval yang diselenggarakan bukan hanya menjadi hiburan semata bagi masyarakat Aceh. Namun juga menjadi penambah ilmu pengetahuan, wawasan, serta religius dan bisa menjadi sebuah daya tarik bagi para turis lokal maupun mancanegara untuk sektor pariwisata di Aceh. Sehubungan dengan itu, pemerintah juga harus memberikan imbauan kepada para peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan pada saat acara.

Kepada masyarakat yang menyaksikan karnaval juga harus ikut ambil andil dalam kesuksesan acara. Di mana masyarakat tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melewati batas jalan saat menyaksikan parade karnaval. Meskipun ada pihak dinas kebersihan yang membersihkan tapi apa salahnya kita sedikit meringankan pekerjaan mereka.

Tulisan ini pernah di muat di beberapa media online seperti Portal Satu (21 Agustus 2015) dan Aceh Post (14 September 2015).

Busway VS Labi-Labi

Busway VS Labi-Labi

Monday, January 25, 2016 0

Busway VS Labi-Labi

Enam jempol akan saya berikan (bila ada) sebagai apresiasi atas usaha Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh. Dengan mencoba memberikan pelayanan terbaik dalam rangka memanusiakan manusia serta membenah transportasi dan lalu-lintas. Mengingat pertumbuhan kendaraan yang meningkat setiap tahunnya di kota ini. Dengan menghadirkan busaway yang nantinya dikenal dengan Bus Trans Kutaradja. Kehadiran busaway sebelumnya memang sudah direncana sejak tahun 2013 oleh Pemko Banda Aceh. Dengan harapan mampu menerapkan sistem angkutan massal berbasis serta menciptakan ketertiban, mengurangi kemacetan dan kesemerautan di dunia lalu-lintas kota ini. Ini merupakan tindakan luar biasa yang dilakukan oleh Pemkot dalam perubahan.

Setiap perubahan memang harus ada yag dikorbankan. Itulah umpama yang lebih tepat untuk menyambut tamu baru dalam dunia transportasi Kota Banda Aceh. Tidak lama dan hanya tinggal menunggu peresmian dari pusat, sebanyak 22-32 unit Bus Trans Kutaradja akan mewarnai lalu-lintas kota ini.
***
Busaway merupakan angkutan umum massal yang mulai banyak digunakan serta diminati oleh masyarakat di berbagai daerah dalam satu dekade ini. Mendengar kata busaway, mungkin sedikit terdengar asing di telinga masyarakat kita. Apalagi bila menanyakan bentuknya, pasti akan berpikir bus tersebut besar seperti Bus Trans Jakarta. Karena sebagian dari masyarakat kita memang ada yang belum pernah naik atau bahkan melihatnya secara langsung angkutan umum yang disebut busaway.

Berdasarkan pengalaman di Batam dan Pekan Baru, busaway yang ada sungguh memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para penumpang. Selain itu, tarif yang dikenakan terbilang murah. Untuk masyarakat umum dikenakan biaya hanya Rp.3000/orang, sedangkan pelajar hanya Rp.1500/orang. Karcis yang diberikan untuk sekali jalan dan berguna sampai dengan halte tujuan akhir kita (hanya menunjukkan karcis apabila berganti bus). Meskipun bentuknya hanya mini bus seperti damri, tetapi busaway ini dilengkapi dengan AC, pelayanannya yang ramah, dan tidak ugal-ugalan. Namun, untuk menikmati pelayanan dari busaway setidaknya kita sedikit harus berjalan dari tempat tinggal menuju halte terdekat.

Sebaliknya, bila kita menanyakan tentang labi-labi beserta ciri-cirinya dengan cepat akan dijelaskan sedetil-detilnya oleh masyarakat kita. Terutama dari para ibu-ibu, anak sekolah, dan mahasiswa. Semua memiliki cerita tersendiri saat menjelaskan mengenai labi-labi.

Labi-labi merupakan ciri khas dari kendaraan umum di Bumi Serambi Mekkah. Meskipun kendaraan ini hanya mampu mengangkut sampai 14 orang penumpang. Namun kendaraan ini sudah ada menemani dan memenuhi kebutuhan masyarakat Aceh sejak tahun 1980-an. Namun, rasa kenyamanan dan kepuasan masyarakat terhadap angkutan labi-labi semakin lama semakin berkurang. Ini dikarenakan ada sebagain labi-labi yang memang suka ugal-ugalan, terkadang terlalu lama berhenti menunggu sewa, dan tarifnya yang begitu relatif. Sejak harga BBM naik, tarif labi-labi mulai dari Rp.2000 untuk jarak paling dekat dan bisa mencapai Rp.5000 bila jauh (dari Darussalam ke Pusat Kota). Inilah yang menyebabkan masyarakat lebih memilih membawa kendaraan sendiri. Dan bagi masyarakat yang tidak memiliki kendaraan sendiri, mau tidak mau labi-labi menjadi pilihan utama. Meskipun terkadang harus berpanas-panasan dan berdesakan dalam ruangan yang kurang udara bila sudah dipenuhi oleh penumpang.

Sampai saat ini, belum ada Kejelasan dari Pemko mengenai bentuk Bus Trans Kutaradja yang nantinya akan mengangkut masyarakat Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Dan ini menjadi pertanyaan tersendiri bagi setiap orang. Sehingga banyak yang berpendapat, bila ukurannya seperti Bus Trans Jakarta, bukan mengurangi kemacetan tetapi malah menambah kemacetan melihat bentuknya yang besar. Sedangkan mengenai tarif, untuk masyarakat umum sampai dengan saat ini belum ada kejelasan. Yang baru terdengar kabar hanya digratiskan bagi pelajar sekolah, dan mahasiswa bila ada kartu Trans Kutaradja hanya dikenakan setengah harga dari masyarakat umum. Selain itu berdasarkan letak koridor dan titik halte busaway yang sudah ada, semua rute hampir mencangkup wilayah yang telah dilalui oleh labi-labi. Ini bisa menjadi bumerang dan permasalahan serius kedepannya bagi Pemko sendiri apabila tidak terus ditanggapi.

Selain itu, pemerintah juga harus mengajak kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat terutama si sekolah mengenai peraturan transportasi busaway. Sebab busaway nantinya akan menjadi fasilitas yang akan digunakan oleh masyarakat kalangan menengah kebawah. Karena bila busaway dirasakan sudah aman dan nyaman serta tarifnya yang terjangkau bagi masyarakat. Secara tidak langsung masyarakat pasti dengan senang hati mau naik busaway. Dari pada harus menggunakan sepeda motor, selain macet akan resiko kecelakaan juga lebih tinggi. Dan apabila busaway mampu menjawab dan melaksanakannya dengan baik, maka respon masyarakat juga akan baik.

Sebab bila saya juga setuju dengan pendapat salah seorang senator DPRK Banda Aceh yang berpendapat mengenai busaway. Bila hanya untuk mengurangi kemacetan di kota ini yang harus dikurangi adalah kendaraan termasuk membatasi pembeliaannya. Agar kota kita tidak terkesan ikut-ikutan seperti Jakarta dan agar busaway tidak bernasib sama dengan saudaranya (Damri) yang pernah ada di kota ini.


Opini ini pernah diterbitkan di media online Kanal Aceh (13 Januari 2016), Portal Satu (14 Januari 2016), dan Media Aceh (14 Januari 2016).

S.I.S.I. I.S.I.S

Monday, January 25, 2016 0

S.I.S.I. I.S.I.S

Gambar Ilustrasi (Doc. Mhd. Saifullah)
Karya: Mhd. Saifullah
Siapa inginkan semua ini?
Ini semua inginnya siapa?
Sekenario insiden, seluruhnya intimidasi.
Intrograsi, sergap, incar, semena-mena.

Semua ini satu iringan.
Itu ledakan.
Selipan cucian tangan.
Insiden dari kotornya lubang emas,
suramkan mata saat melintas.
Supaya mudah sahamer menggauli
Indonesia.

Ini siapa pelakunya?
Siapa pelakunya ini?
Inginnya siapa ini semua?
Siapa inginkan semua ini?
Kajhu, Aceh Besar
16 Januari 2016

Gampong Pande dan Sumber Historis

Monday, January 25, 2016 0

Gampong Pande dan Sumber Historis

Oleh: Dedy Satria
Gampong Pande merupakan salah satu nama tempat kuno atau toponimi yang masih dapat ditemukan dari sisa (jejak) kota pelabuhan kuno kerajaan Aceh Darussalam hingga hari ini. Kata pande atau pandai berasal dari bahasa Melayu dan berarti orang yang mempunyai keahlian dan keterampilan khusus. Pande yang dimaksud di sini yaitu orang-orang yang mempunyai keahlian dan keterampilan dalam menempa, mencetak, atau membuat benda-benda dari bahan logam, baik logam mulia seperti emas, suasa, atau perak maupun logam biasa seperti besi, timah, kuningan, atau perunggu. Kata pande dalam bahasa Melayu mempunyai pengertian yang sama dengan kata empu dalam bahasa Jawa. Walaupun kata empu sering dikaitkan dengan keahlian membuat keris atau senjata (Denys Lombard, 1991; Anthony Reid, 1991).

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, artkel ini disusun berdasarkan sumber-sumber historis yang berkaitan dengan Gampong Pande. Sumber hsitoris yang digunakan yaitu sumber primer lokal dari hikayat, dan laporan asing dari para pelaut Eropa yang melawat ke Aceh pada abad ke-16 M dan terakhir laporan dari para pegawai pemerintahan kolonial Belanda yang bertugas di Aceh ketika perang kolonial di Aceh.

Van Langen menyebutkan beberapa gampong¬ yang saling berdekatan di kuala Sungai (Krueng) Aceh yang hingga abad ke-19 M di bawah pengawasan dan pemerintahan langsung dari Sulthan Aceh, terutama pada masa pemerintahan Sulthan Mansyur Syah atau Tuanku Ibrahim (1846-1870). Gampong-gampong tersebut, yaitu Merduati, Kedah, Jawa, Pelanggahan, Pande, dan Kandang (Karel F,H. Van Langen, 1986). Van Langen menjelaskan di Kandang tempat tinggal para hamba atau abdi sulthan yang mengerjakan seluruh keperuan sulthan Aceh. Gampong Pande dan Kandang dalam sumber ini disebut terpisah. Walau pada kenyataannya, hinga hari ini, Kandang merupakan bagian atau salah satu wilayah yang berada pada Gampong Pande.

Gambar Komplek Makam Raja-Raja Gampong Pande (Doc. Google)
Masyarakat di Gampong Pande hingga saat ini mengenal pembedaan nama kedua tempat tersebut (nara sumber: Bapak Ismail Sarong dan Bapak Abdullah orang yang dituakan dan tinggal di Gampong Pande, wawancara tahun 2006). Kandang berlokasi di bagian utara, sementara Gampong Pande berada di bagian barat hingga ke selatan. Gampong Pande berbatasan dengan Gampong Jawa di timur dan Gampong Pelanggahan di selatan, lalu Gampong Kedah di tenggara. Gampong Pande dan Kandang serta empat gampong lainnya tersebut sekarang berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Lokasi gampong-gampong kuno tersebut tepatnya di utara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dan berada di sisi barat Sungai Aceh.

Gampong Pande dan Kandang sebagai nama tempat kuno atau disebut toponimi disebutkan dalam suber historis secara terpisah. Ada tiga sumber tertulis lokal yang menyebutkan tentang keberadaan para pande di Kerajaan Aceh Darussalam dan dapat dikaitkan dengan Gampong Pande. Ketiga sumber historis tersebut yaitu (1) Hikayat Gampong Pande, menjadi bahan disertasi T. Iskandar dalam Hikayat Aceh (Kisah Kepahlawanan Sulthan Iskandar Muda), (2) Bustan as Salatin, menjadi tulisan R.A. Hoesein Djajadiningrat dalam Upacara Pula Batee Pada Makam Sultan Iskandar Muda II (1636-1641), dan (3) Hikayat Pocut Muhammad dalam tulisan G.W.J. Drewes, Hikajat Pocjut Muhamat. Selain itu, untuk melengkapi sumber tertulis lokal, juga akan didukung oleh hasil wawancara dengan nara sumber dari tertua masyarakat Gampong Pande, yaitu Bapak Ismail Sarong dan Bapak Abdullah, tahun 2006.

Sumber historis yang ditulis oleh orang Aceh sendiri dan dianggap sebagai sumber tertulis tertua tentang keadaan kota pelabuhan kuno Aceh Darussalam adalah Hikayat Aceh. Hikayat ini merupakan kronik tentang Kerajaan Aceh Darussalam yang berisikan (i) asal usul pembentukan Kerajaan Aceh Darussalam (dengan kisah-kisah yang mengandung mitologi dan legenda), (ii) keluarga raja atau dinasti sulthan yang pernah memerintah Kerajaan Aceh (ada dua dinasti, yaitu ahkota Alam dan Dar ar Kamal), (iii) pemerintahan beberapa orang Sulthan Aceh, (iv) hingga kelahiran dan masa kanak-kanak Pangeran Pacagah yang kemudian hari memerintah Kerajaan Aceh Darussalam dengan gelar Sulthan Iskandar Muda (1607-1636). Hikayat Aceh menjelaskan Kandang sebagai tempat pekuburan keluarga Sulthan Aceh dan tempat Pangeran Pacagah berlatih seni bela diri dan ilmu kesatriaan (T. Iskandar, 1978). Namun Hikayat Aceh tidak menyinggung tentang Gampong Pande, tetapi menyebut Gampong Jawa dengan pelabuhan Bandar Makmur dan Gampong Birma (Pegu).

Gampong Pande baru disebut dalam sumber tertulis lokal yaitu dalam Hikayat Pocut Muhammad. Hikayat ini merupakan sebuah epos yang berkisah tentang perang saudara di Kerajaan Aceh Darussalam antara Sulthan Jamal al Alam dari Dinasti Sayyid (1704-1726) yang berkedudukan di Gampong Jawa dengan Sulthan ‘Ala ad Sin Johan Alam (1735-1760) atau Pocut Ue (Anak Maharajalela Bugis atau Sulthan’Ala ad Din Ahmad Syah dari Dinasti Bugis, 1727-1735) yang berkedudukan di dalam atau Kraton Sulthan Aceh (Drewes, G.W.J., 1979). Namun Gampong Pande hanya disebut sebagai salah satu benteng yang berhasil direbut oleh salah satu Panglima Perang Sulthan Pocut Muhammad. Kegiatan para pande tidak dijelaskan dalam hikayat ini, karena situasi Aceh sedang berkecamuk perang saudara. Walaupun demikian, salah satu bagian dari hikayat tersebut menceritakan bahwa, Pocut Muhammad telah memerintahkan para pande istana untuk menempa kancing dari emas dan membuat pedang (pisau panjang; sikin panyang) dengan hulu (gagang) dari suasa. Hikayat Pocut Muhammad juga menjelaskan bahwa Gampong Pande berdekatan dengan Gampong Jawa.

Aktivitas para pande sering diberitakan dalam sumber lokal, seperti  Hikayat Aceh dan Bustan as Salatin dari Nur ad Din ar Raniry, namun tidak menjelaskan secara rinci tempat tinggal para pandenya. Hikayat Aceh menyebut dua orang pandai emas istana pada masa pemerintahan Sulthan ‘Ala ad Din Ri’ayah Syah Sayyid al Mukammil (1589-1604), yaitu Raja Indera Jaya dan Raja Indera Jari. Kedua pandai tersebut telah diperintahkan membuat mainan untuk Pangeran Pacagah atau Sulthan Iskandar Muda kecil dengan bahan emas, seperti kelereng, gajah, dan dua ekor kambing yang dapat bertarung. Hikayat Aceh juga menjelaskan berbagai peralatan prabot kerajaan yang dibuat oleh para pande dan seluruhnya dari bahan emas, terutama peralatan sirih dan perhiasan yang dikenakan oleh Sulthan dan keluarganya serta persenjataan.

Bustan as Salatin sebuah kronika tentang kerajaan dan Sulthan Aceh yang ditulis oleh Nur ad Din ar Raniry jugamenyebut hasil pekerjaan para pande tersebut (Hoesein Djajaningrat, R.A., 1980). Setelah tujuh hari wafatnya Sulthan Iskandar Tsani (1636-1641), Sulthanah Taj al ‘Alam Syafiat ad Din (1641-1671)  istri mendiang dan juga menggantikannya sebagai Sulthan Aceh mengadakan upacara peletakkan batu nisan dalam upacara  Pula Batee. Sulthanah memerintahkan para pandai emasnya, yaitu Raja Setia, raja Indera Sekara, dan Seri Emaskara, untuk membuat batu nisan dari emas untuk mendiang suaminya tersebut.

Pada sewaktu ekskavansi arkeologi yang dilakukan oelh Hasan Mua’arif Ambary tahun 1976-1977 di Kandang Gunongan tidak menemukan batu nisan dari emas seperti yang disebutkan dalam Bustan as Salatin. Hasil ekskavansi tersebut malah menemukan lempengan emas yang digunting dan diduga dipakukan pada keranda dari kayu tempat jenazah Sulthan Iskandar Tsani dimakamkan.

Walaupun demikian, kita masih dapat menyaksikan hasil pekerjaan para pande logam istana Sulthan Aceh tersebut di Kandang XII. Nisan yang dibuat dari logam dapat dilihat di Kandang XII, pada makam nomor delapan, yaitu Makam Sulthan’Ala ad Din Ri’ayah Syah (al Kahhar zil al Allah fil ‘alam bin Sulthan ‘Ali Mughayah Syah) (1539-1571). Batu nisan in dibentuk dari bahan perunggu pejal, namun pada permukaan nisannya masih dapat ditemukan jejak lapisan emas. Bukti lain batu nisan sulthan dari bahan logam mulia yaitu makam nomor 6 di Kandang XII, yaitu makam Sulthan ‘Ali Ri’ayah Syah bin Sulthan ‘Ala ad Din (Ri’ayah Syah al Kahhar) (1571-1579). Pada permukaan batu nisan banyak ditemukan lubang yang diduga sebagai lubang mur untuk menempel plat dan logam. Selain itu beberapa batu nisan di Kandang XII, terutama di makam nomor 9 (makam Sulthan Salah ad Din bin Sulthan ‘Ali Mughayah Syah), tidak memiliki mahkota. Mahkota pada nisan tersebut sengaja dibuat terpisah dan diduga dibuatkan dari logam mulia, emas atau suasa.

Berdasarkan nara sumber Bapak Ismail Sarong dan Bapak Abdullah (2006) diperoleh penjelasan tentang salah seorang pandai logam terakhir yang pernah mendiami Gampong Pande. Tersebutlah nama Utoih Sema yang hidup hingga awal abad ke-20 M di Gampong Pande. Dalam Hikayat Aceh istilah utoih disebut dengan istilah utus dan berarti penempa benda dari logam. Utoih dalam bahasa Aceh digunakan untuk para tukang yang mempunyai keahlian khusus atau tukang ahli. Nama Utoih Sema merupakan gelar yang diberikan masyarakat kepada sang pande, smentara kata sema dalam bahasa Aceh berarti kutu. Cerita Utoih Sema bermula dari penangkapan Sulthan Muhammad Daud Syah (1876-1916) dan ditawan di Kuta Raja (sebutan pemerintah kolonial Belanda untuk Bandar Aceh Darussalam). Sekembalinya ke ibu kota kesulthanan. Sulthan Muhammad Daud Syah merancang serangan mendadak ke Kuta Raja dan mendapat dukungan dari para Uleebalang dan kelompok gerilyawan Aceh yang belum menyerah, Namun rencana tersebut belum dapat terlaksana dengan baik, karena pemerintahan kolonial Belanda berhasil membongkar rencan tersebut. Akibatnya Sulthan Muhammad Daud Syah diasingkan ke Batavia hingga akhir hayatnya. Uleebalang Laweng, salah seorang uleebalang Sulthan Aceh yang berkedudukan di Laweng (dekat Pidie sekarang), mencurigai Utoih Sema sebagai mata-mata pemerintahan kolonial Belanda dan membocorkan rencana tersebut. Utoih Sema akirnya dieksekusi dengan tuduhan tersebut dan sejak itulah Gampong Pande tidak lagi dihuni oleh para pengrajin logam.

Ada beberapa temuan lepas berupa benda dari logam jenis perunggu, peralatan pande logam, koin tiah, dan emas, serta manik-manik batu dari Gampong Pande. Artefak tersebut ditemukan oleh penulis di permukaan tanah melalui survey permukaan tanah pada tahun 2006 hingga 2008. Seluruhnya merupakan hasil dokumentasi BP3 Banda Aceh oleh Syam dan Lucki Armanda tahun 2010. Benda-benda logam yang ditemukan umumnya dari bahan perunggu. Para pande membuat berbagai benda untuk keperluan sehari-hari terutama peralatan untuk makan sirih, seperti wadah untuk bumbu makan sirih (gambir, kapur, cengkeh, dan buah pinang) yang dikenal sebagai kerandam dan pipa menghisap tembakau.

Daftar Pustaka
  • Djajaningrat, Hoesein. 1980. Upacara Pula Batee Pada Makam Sultan Iskandar II (1636-1641). Terj. Aboe Bakar. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.
  • G.W.J., Drewes. 1979. Hikajat Pocjut Muhamat An Achehnese Epic. The Hague Martinus Nijhoff.
  • Hugronje, Snouck C. 1986. Aceh di Mata Kolonial, Jilid 1 dan Jilid 2. Jakarta: Yayasan Soko Guru.
  • Langen, Karel F.H.van. 1968. Susunan Pemerintahan Aceh Seasa Kesultanan. Terj. Aboe Bakar. Seri Informasi Th. IX/No. 1. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.
  • Lombard, Denys. 1991. Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Balai Pustaka.
  • Reid, Anthony. 1992. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 1. Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Reid, Anthony. 1999. Dari Ekspansi Hingga Krisis II, Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Said. Muhammad. 1981. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Waspada.
  • Iskandar, T. 1978. Hikayat Aceh (Kisah Kepahlawanan Sultan Iskandar Muda). Terj. Aboe Bakar. Banda Aceh: Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh.

Dikutip dari:
Arabesk – Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh
Dua Unsur Pondasi Kebangkitan Bangsa Yang Kita Lupa

Dua Unsur Pondasi Kebangkitan Bangsa Yang Kita Lupa

Monday, January 25, 2016 0

Dua Unsur Pondasi Kebangkitan Bangsa Yang Kita Lupa

Bila berbicara tentang hari kebangkitan bangsa, maka kita akan terperangkap tentang perseteruan mengenai kapan seharusnya hari kebangkitan bangsa yang pasti, Budi Utomo atau Serikat Islam? Yang pasti berbagai pendapat telah dikeluarkan dari kalangan para tokoh masyarakat, sejarawan, aktivis, serta mahasiswa mengenai hal tersbut dengan lakon tulisan masing-masing. Tetapi bagi penulis, perseteruan tersebut tidak ada habisnya dan akan terus berlanjut, karena setiap manusia memiliki pemikiran dan pendapat yang tidak akan pernah sama namun semua itu adalah rahmat dari yang Maha Kuasa.

Kali ini penulis tidak menyinggung tentang siapa di antara ke duannya yang pantas disebut sebagai organisasi pergerakan pertama membangkitkan bangsa ini. Namun penulis lebih memfokuskan mengenai kebangkitan, persatuan, serta kemajuan bangsa.

***
Rapuhnya Pondasi Menggoyangkan Pilar Bangsa
Kita sering mendengar semboyan empat pilar batang tumbuh dalam kehidupan berbangsa dan negara, yang dalam pilar-pilar tersebut ada Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dan Bhineka Tunggal Ika. Dalam beberapa tahun ini, pemerintah begitu gempur mensosialisasikan ke empat pilar yang menjadi penopang berdirinya bangsa, baik sosialisasi di tingkat siswa, mahasiswa, maupun masyarakat umum hanya untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Namun sungguh disayangkan, ketika pilar-pilar penopang diusahakan untuk tegak berdiri dengan penerapan-penerapan melalui sosialisasi tetapi pemerintah lupa akan lebih pentingnya sebuah pondasi. Yang seharusnya pondasi ini merupakan cikal bakal untuk penahan tegaknya pilar-pilar dari bangsa ini.

Bagi penulis, untuk menjadi sebuah bangsa yang besar, maju dan bangkit serta meningkatkan rasa nasionalisme dan integrasi bangsa bukanlah terletak pada empat pilar yang ada, namun terletak pada pondasi pijakan bagi pilar-pilar tersebut. Dan pondasi dari sebuah bangsa dan negara adalah sejarah dan budaya. Karena bagaimana mungkin pilar dapat berdiri dengan tegak dan kokoh bila pondasi begitu rapuh dan keropos.

Dampak dari rapunya pondasi bangsa kita bisa kita lihat pada peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di beberapa daerah Indonesia. Lemahnya akan pengetahuan tentang rasa kesatuan serta kesamaan tentang sejarah dan budaya bangsa mengakibatkan perpecahan konflik hingga berujung dengan pertumpahan darah, bahkan ingin memisahkan diri. Hampir setiap gejolak dari peristiwa di belakangnya ada pihak asing yang bermain dengan berdalih sebagai penengah dalam penyelesaian masalah, seperti kejadian di Aceh, Papua, Maluku, Poso dan beberapa daerah lainnya. Ini merupakan bagian politik Devide et Impera yang pernah digunakan oleh Belanda saat ingin menguasai Nusantara. Dinamika yang dibangun untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa yang besar ini menjadi kelompok-kelompok kecil dengan cara menguasai kepala pemerintahan, membatasi peran dari agama, merusak budaya asli yang ada, dan mengagung-agungkan serta memutarbalik sejarah yang sesungguhnya dari masing-masing daerah.

Selain itu permasalahan yang terjadi saat ini adalah bangsa kita telah kehilangan identitasnya. Secara tidak langsung budaya asli bangsa kita berlahan mulai menghilang dari tanah air kita? Tidak perlu jauh mencontohkan, dalam berbahasa saja kita lebih sering menggunakan dan membanggakan bahasa asing dari pada menggunakan Bahasa Indonesia. Terbukti dari beberapa universitas yang ada di Indonesia dan salah satunya adalah universitas saya sekarang mematokkan lulusan sarjananya harus bisa berbahasa Inggris dengan dibuktikan melalui Toefel. Padahal di Australia yang tidak memiliki hubungan budaya dengan bangsa kita malahan menjadikan Bahasa Indonesia sebagai pelajaran pilihan. Kita telah merusak apa yang menajdi cikal bakal serta identitas negara ini. Ini merupakan bukti, bahwa pondasi bangsa ini begitu rapuh, pilar-pilar yang ada dapat dengan mudah digoyangkan sehingga memberi kesempatan bagi pihak asing yang ingin menguasai dan melakukan neokolonialis di negeri ini.

Sejarah dan Budaya Adalah Pondasi Bangsa
Sejarah dan budaya merupakan dua unsur yang menjadi pondasi penting berdirinya sebuah negara, sebab dari sejarah kita belajar tentang kesalahan, kejayaan serta kebersamaan, dan dari budaya kita belajar untuk bersatu dan menyatu. Kebangkitan serta kemajuan dari suatu bangsa dan negara terletak pada kuatnya pemahaman serta terjaganya sejarah dan budaya dari bangsa itu sendiri. Karena sejarah dan budaya merupakan pondasi terpenting dalam berdirinya sebuah bangsa.

Bangsa-bangsa di Eropa merupakan salah satu contoh yang menghargai sejarah dan budaya, terbukti mereka bisa bangkit dari zaman kegelapan menuju zaman Renaissance. Kesadaran itu timbul setelah mereka percaya bahwa Romawi pernah memiliki peradaban yang tinggi dengan ilmu pengetahuan yang sudah maju. Kepercayaan itu berdasarkan mereka melihat bangunan-bangunan yang berdiri megah di sana. Inilah penyebab yang menjadi dorongan mereka untuk bangkit dan sadar lalu belajar dari masa yang telah ada. Hal serta cara-cara seperti inilah yang seharusnya dipahami dan diikuti oleh bangsa kita.

Di Indonesia sendiri pernah memiliki kerajaan-kerajaan besar dan pernah jaya di Nusantara serta diakui oleh dunia baik kekuatan, ilmu pengetahuan, maupun budayanya seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Aceh Darussalam pada masa Hindu, Budha, dan Islam. Seharusnya bangsa kita banyak belajar dari kejayaan serta kesalahan yang pernah dilakukan oleh kerajaan yang pernah dimiliki oleh bangsa ini, bukan hanya terhanyut oleh sejarah keangkuhan yang berujung perpecahan.

Dan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan integrasi bangsa, marilah kita menjaga sejarah dan budaya kita yang ada. Bung Karno pernah mengatakan pada beberapa pidatonya,“Jangan sekali-kali melupakan sejarah” dan ”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya” dan dalam pepatah Aceh di katakan,”Mate aneuk meupat jirat, Gadoh adat pat ta  minta” , bila diartikan Mati anak kuburnya bisa kita cari, tetapi bila adat hilang kemana kita akan mencari. Dari perkataan di atas, sungguh sangat berartinya bagi sebuah bangsa yang besar akan sejarah dan budaya, karena ke duanya merupakan identitas serta pondasi bagi berdirinya bangsa dan penguat untuk berpijaknya pilar-pilar penopang negara.

Mengenai tentang pentingnya ke dua unsur tersebut, ini merupakan tugas penting bagi pemerintah, tokoh masyarakat, dan kawan-kawan aktivis semua. Masyarakat terutama generasi muda harus lebih diperbanyak mempelajari tentang sejarah dan budaya bangsa ini. Agar masyarakat mengerti tentang pentingnya sejarah dan budaya, sebab pengetahuan masyarakat masih sangat minim sehingga akan dengan mudah dipengaruhi dengan hal-hal yang merusak integrasi bangsa ini.

Kita memang berawal dari daerah dan budaya yang berbeda, namun di dalam sejarah kita menjadi satu dalam proses terbentuknya integrasi sebuah bangsa, dengan satu budaya dalam bahasa dan di satukan berbentuk negara yang pernah diikrarkan pada Sumpah Pemuda, sebagai bentuk kesadaran akan senasib dan ingin bangkit bersama dari penindasan penjajahan.

Marilah bersama-sama kita menjaga sejarah dan budaya dari bangsa kita, sebab kalo bukan kita yang menjaga siapa lagi kelak mengajarkan persatuan dan kesatuan kepada anak dan cucu kita sebagai generasi selanjutnya.

Tulisan ini pernah dimuat pada media online, seperti Sumber Post (13 Mei 2015) dan Detak Unsyiah (15 Mei 2015)

Sekolah, Guru, Dan Siswa Ibarat Tubuh

Monday, January 25, 2016 0

Sekolah, Guru, Dan Siswa Ibarat Tubuh

Doc. Google
Sekolah, guru, siswa memang bisa diumpamakan tubuh. Sekolah yang memberikan perlindungan agar tegaknya proses pembelajaran, guru yang mengaktifkan dalam jalannya penyaluran pendidikan kepada siswa. Sehingga bila di satukan maka akan membuat siswa menjadi memiliki ilmu dan pengetahuan yang mampu untuk bergerak memberikan perubahan.

Masih ingatkah saudara-saudara dengan film Laskar Pelangi? Film yang alurnya menceritakan tentang perjuangan anak-anak suku Melayu dari pedalaman di Provinsi Bangka Belitung, yang menempuh pendidikan di sebuah sekolah kumuh dengan fasilitas belajar yang bisa dikatakan sangat-sangat minim.Malahan untuk mendapatkan sekota kapur mereka harus menempuh perjalanan berkilo-kilodan bahkan berhutang terlebih dahulu. Padahal kapur merupakan kebutuhan primer sebagai alat yang membantu guru untuk proses jalananya pembelajaran karena hanya papan tulis hitam yang merekagunakan.Meski mereka belajar dalam keadaan kekurangan tersebut, tetapi mereka memiliki semangat yang besar untuk berubah demi mendapatkan pendidikan serta ilmu yang lebih.Dari adanya semangat itulah sehingga mereka mampu mengalahkan sekolah-sekolah unggul yang ada dan menjadi juara pada perlombaan Cerdas Cermat tingkat Sekolah Dasar (SD).Ini merupakan gambaran nyata dari dunia pendidikan Indonesia yang sangat miris di beberapa daerah.

Kali ini, penulis tidak membahas tentang alur cerita seutuhnya dari film Laskar Pelangi, namun hanya menjadikan cerita tersebut sebagai pembelajaran dan cerminan belakang untuk perubahan yang lebih baik pendidikan di Indonesia. Dan penulis juga tidak akan banyak membahas tentang permasalahan kurikulum, kerusuhan pada UN, atau tentang kekerasan pada siswa. Namun di sini penulis lebih memfokuskan tulisan ini lebih kepada fasilitas pembantu dalam menyalurkan ilmu pendidikan kepada siswa.
***
Pendidikan merupakan suatu hal yang menjadi dasar dan sangat penting bagi setiap orang, sehingga orang akan rela mengeluarkan biaya yang cukup besar hanya untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan yang lebih baik. Menurut para ahli seperti Langeveld, dia mengungkapkan pendidikan adalah usaha serta upaya yang dilakukan manusia yang sudah dewasa dalam membimbing manusia yang belum dewasa kearah kedewasaan. Sedangkan menurut Frederick J. Mc Donald pendidikan adalah proses yang arah serta tujuannya adalah untuk merubah tabiat manusia.Secara keseluruhan, pendidikan bisa diartikan usaha sadar dan sistematis yang dilakukan manusia untuk mencapai kemajuan yang lebih baikatau taraf hidup.

Bila kita buka Undang-Undang Dasar Tahun 1945 pada Alinea keempat, yang dalam kutipannya berbunyi,”Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.Isi dari alinea tersebut menggambarkan tentang sebuah cita-cita  dan tujuan bangsa mengenai pendidikan nasional dengan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dan dari aline tersebut di kembangkan lagidalam Amandemen UUD 1945 pada Pasal 31 ayat 3 dan 5sebagai tugas pemerintah dalam menjalankan amanah dari UUD 1945 dan untuk mencapai tujuan tersebut lalu dilengkapi dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003.

Bukan hanya Indonesia saja yang memiliki cita-cita dan tujuan meningkatkan pendidikan. Negara-negara luar juga sama, sehingga organisasi United Nation (UN) atau lebih dikenal dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelaskan mengenai pentingnya pendidikan, sehingga mereka membentuk organisasi dunia yang menangani tentang pendidikan, yaitu UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural). Organisasi ini menerapkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni Learning to Know, Learning to do, Learning to be, dan Learning to live together.

Sungguh begitu pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa, sehingga setiap bangsa terus berusaha untuk mengembangkan pendidikan bangsanya, begitu juga dengan Indonesia. Untuk mencapai tujuan dan cita-cita bangsa yang telah diamanahkan dalam UUD 1945, pemerintah mencanangkan masyarakat untuk Wajib Belajar 9 Tahun (Program Wajar) dari kelas 1 SD sampai kelas 9 SMP. Dan untuk biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah demi meningkatkan pendidikan sungguh tidak main-main, yaitu mencapai 20% dari total Anggaran Pengeluaran Belanja Negara (APBN).Namun sayangnya, dari begitu besar biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah, Indonesia masih memakai predikat negara terjeblok (terendah) dunia dalam pendidikan.Data tersebut dikeluarkan oleh The Learning Curve Pearson 2014 pada tahun 2014, sesuai dengan berita yang diterbitkan oleh sebuah media online okezone.com pada Selasa, 13 Mei 2014.

Pada data The Learning Curve Pearson 2014, pendidikan Indonesia menempati posisi ke-40, dengan indeks ranking minus 1,84 sementara kemampuan indeks rangking 2014 versus 2012 Indonesia diberi nilai minus 1,71. Sedangkan untuk nilai pencapaian, Indonesia diberi skor minus 2,11 dan posisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai terburuk dibawah Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan Thailand dari lima ranking terbawah.

Ternyata, kucuran dana yang besar tidak bisa juga menjamin akan meningkatnya kualitas pendidikan bangsa ini. Dan berbagai upaya juga telah dicoba oleh pemerintah, mulai dari gonta-ganti pakaian kurikulum, sampai dengan sistem Ujian Nasional yang memakai paket, namun hasilnya juga membuat kepala kita masih bangga untuk terus tertunduk. Lalu apa yang salah dari pendidikan di Indonesia? Mari kita coba membedah bersama.

Belakangan ini kita sudah sering mendengar bahkan melihat sendiri kasus-kasus yang terjadi dalam dunia pendidikan, seperti mengenai tentang masalah buruknya sekolah, kekurangan guru, dan siswa. Hal-hal seperti ini sungguh banyak terjadi, namun karena lemahnya pengawasan pemerintah dalam mengawasi sampai ke lokasi serta kurangnya lembaga-lembaga masyarakat yang benar-benar ingin memajukan pendidikan menyebabkan kasus-kasus seperti ini  masih saja terus terjadi.

Sekolah Bagaikan Kulit dan Tulang
Sekolah adalah suatu lembaga yang memang dirancang khusus untuk jalannya kegiatan pendidikan dan pengajaran para siswa di bawah pengawasan para guru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sekolah memiliki arti bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan member pelajaran, baik itu dalam tingkatan Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK). Sekolah merupakan salah satu unsur dasar penting dalam mendorong berjalannya proses kegiatan belajar. Apalagi untuk di zaman saat ini yang lebih mengutamakan pendidikan, sekolah dianggap sebagai rumah kedua untuk mendapatkan pendidikan setelah rumah dan orang tua sebagai tempat siswa mendapatkan pendidikan pertama.

Bila kita lihat sekolah-sekolah yang ada di daerah perkotaan saat ini pasti kita akan merasa takjub dan kagum melihatnya.Bangunan sekolah berdiri megah, setiap sudut sisi sekolah tampak rapi dan bersih, memiliki ruangan belajar yang nyaman serta didukung dengan fasilitis yang lebih canggih dan moderen, ruangan praktik, perpustakaan, halaman/lapangan, dan ruangan lainnya sebagai pendorong kegiatan belajar.Bangunan-bangunan tersebut bukan hanya dimiliki oleh sekolah swasta, namun juga sekolah negeri.

Tetapi coba kita bandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada di daerah sedikit pedalaman, di sana hanya ada bangunan dengan fasilitas belajar hanya menggunakan papan tulis hitam dan kapur serta ruang belajar sederhana. Bahkan ada sebagian sekolah yang bangunannya bisa dikatakan tidak layak untuk di tempati atau ruang kelasnya hampir roboh, seperti yang terjadi di SMPN 2 Bias dan SMPN 4 Lembonganyang berada di daerah Kalungkung, Bali dan lingkungan yang kurang terawat.Bangunan sekolah tersebut sudah banyak retakn namun belum juga mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

Sedangkan untuk wilayah Aceh sendiri, sewaktu saya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya dan teman-teman mengabdikan diri di sebuah sekolah SMPN 3 Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya.Kondisi sekolah sungguh sangat memprihatinkan karena tidak adanya fasilitas belajar yang bisa mendukung mereka. Lain lagi bila kita lihat di daerah Aceh Singkil, sebuah SD yang berada di Gampong Kayu Menang, Kecamatan Kuala Baru tidak memiliki buku pedoman belajar bagi siswa. Dan lain lagi di Aceh Utara, tepatnya di SDN 24 Tanah Jambo Aye, sekolahnya tidak memiliki pagar sekolah sehingga siswa sering terkena kotoran lembu karena sekolah menjadi tempat lembu-lembu berkumpul. Sedangkan ada salah satu SD di kawasan Aceh Selatan gurunya harus mengeluarkan uang 200ribu setiap bulannya untuk membeli air karena sekolah tersebut tidak memiliki air.

Itu merupakan sebagian gambaran kecil dari beberapa sekolah yang tertinggal di daerah pedalaman.Padahal siswa-siswa yang ada memiliki semangat yang tinggi untuk belajar, tetapi fasilitas yang ada sangat minim.Bagaimana mungkin para siswa bisa belajar dengan giat bila keadaan sekitar sekolah mereka saja layaknya kebun binatang serta kandanghewan.Hal-hal yang demikianlah yang seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah karena sekolah merupakan pelindung serta menjadi penegak dalam semangat belajar siswa untuk mendapatkan pendidikan.

Guru Adalah Jantung
Guru bisa dikatakan adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi bangsa ini, terutama dalam dunia pendidikan, dan guru juga merupakan jantung yang selalu berusaha untuk terus memompa darah pendidikan agar tersalurkan keseluruh siswa didik. Mengapa demikian? Karena guru adalah orang yang sangat berperan, tanpa guru maka tidak akan ada pendidikan serta ilmu yang bisa diperoleh oleh siapaun.

Kasus mengenai kurangnya tenaga pengajar atau guru hampir merata disetiap sekolah yang ada di Indonesia,baik sekolah yang ada di kota dan terlebih-lebih lagi sekolah-sekolah yang ada di daerah pedalaman. Akibat dari kasus ini, yang banyak terjadi dilapangan adalah adanya beberapa guru mengajar lebih dari satu matapelajarandan matapelajaran yang akan diajarkan bukanlah sesuai matapelajaran dari profesi guru tersebut.

Kejadian tersebutlebih dominan dirasakan oleh sekolah-sekolah daerah sebab banyak guru-guru yang dipindahkan ke kota oleh dinas-dinas pendidikan daerah. Guru-guru yang dipindahkan tersebut adalah guru-guru yang memiliki keunggulan dari guru-guru yang ada di daerah asal. Padahal seharusnya guru-guru yang unggul tersebutlah yang seharusnya tetap di sekolah yang tertinggal, karena merekalah yang akan mendongkrak pendidikan di daerah-daerah yang tertinggal.

Selain itu, banyak juga guru-guru yang tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya.Bukankah seharusnya para guru mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah, agar mereka bisa lebih bersemangat dalam mendidik siswa-siswa untuk belajar.Selain itu, para guru-guru juga harus dibekali dengan pelatihan-pelatihan pendidikan agar mereka juga selalu mengikuti perkembangan pendidikan nasional.

Pendidikan merupakan hal terpenting bagi sebuah negara, dan pendidikan merupakan cita-cita besar dari bangsa Indonesia. Dalam agama Islam juga telah dijelaskan pentingnya pendidikan atau menuntut ilmu, Ayat Al – Qur’an pertama yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra yang artinya “baca” atau “pahami” dan hadits Rasullullah tentang “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina” dan “Carila ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat”. Ini merupakan bukti bahwa pendidikan itu penting dan wajib dicari serta dipelajari oleh setiap manusia.

Tetapi sayangnya di Indonesia pemerintah masih kurang perhatian terhadap berjalananya proses pendidikan yang ada di beberapa daerah sehingga tak salah pendidikan kita jauh tertinggal dengan daerah lain. Padahalbanyak anak-anak bangsa ini yang memiliki semangat untuk belajar, namun minimnya fasilitas yang membantu dan mendorong jalannya kegiatan pembelajar menjadi kendala.Kasus-kasus seperti kurangnya fasilitas sekolah, guru-guru, alat-alat belajar harus lebih diperhatikan lgi oleh pemerintah.Karena bila kita bandingkan antara pendidikan yang didapat di perkotaan dan di pedalaman sungguh sangat berbanding terbalik. Di kota pendidikan lengkap dengan segalanya, tetapi di daerah pedalamanserba kekurangan.

Kasus mengenai terpuruknya pendidikan Indonesia di dunia merupakan tanggung jawab kita semua, baik dari kalangan pemerintahan, lembaga masyarakat, aktivis, maupun mahasiswa. Karena bila pendidikan kita maju maka kita juga yang akan merasakannya, dan anak cucu kita bisa lebih hebat dari kita-kita pernah ada.

Untuk dinas pemerintahan serta lembaga masyarakat, cobalah perhatikan langsung ke lapangan, di mana sekolah-sekolah masih banyak yang perlu perhatian, seperti buku pedoman belajar siswa dan lainnya. Selain itu, jangan mutasi guru-guru yang memiliki keuggulan menjadi ke kota. Karena merekalah yang akan membuat daerah-daerah tertinggal menjadi maju dalam dunia pendidikan. Beri mereka perhatian khusus tetapi jangan lupakan juga guru-guru biasa, karena mereka juga berjasa dalam dunia pendidikan. Ingat guru merupakan jantung yang akan memompa darah pendidikan keseluruh peserta didik dan darimereka juga yang akan melahirkan ilmuan pada generasi selanjut pada bangsa ini. Selain itu, jangan jadikandana pendidikan sebagai lading untuk mencari makan dan kepentingan sendiri. Sebab dana yang dikucurkan begitu besar oleh pemerintah adalah untuk memperbaiki pendidikan bukan untuk di korupsi dengan mengatas namakan pendidikan berupa kegiatan yang tidak begitu penting dan berdampak pada dunia pendidikan.

Untuk kawan-kawan aktivis, dan mahasiswa semua (terutama mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Jangan pernah bermimpi pendidikan kita dapat berubah langsung menjadi lebih baik (seperti membalikkan telapak tangan) hanya dengan berharap dengan pemerintah dan lembaga masyarakat. Kitalah yang harus merubahnya, karena kita adalah calon pendidik, kita yang nantinya sangat berperan kemana arah pendidikan bangsa ini.Alangkah baiknya untuk mempermudah pemerintah dan sekalian hitung beramal, marilah kita mencoba membuat sebuah perkumpulan mengajar di daerah terpencil yang memang sangat membutuhkan.Jangan berharap untuk dibayar oleh siapapun, tetapi berharaplah ilmu yang bisa kita berikan bermakna buat adik-adik kita yang membutuhkannya dan kita diberikan ridha oleh Allah.Amin.

Banda Aceh, 15 Mei 2015