L.A.U.T.

Friday, December 30, 2016 0

L.A.U.T.

Gambar Ilustrasi L.A.U.T. (Doc. Lautnya Paul)
Karya: Mhd. Saifullah
Luasmu susah terkira.
Alunanmu membuat haus mata.
Umpama kain, padahal sahaja sudah.
Tak tampak riak kegaduhan di dalamnya.

Leraian angin menyeretmu hingga ketepi.
Arah ombak terlihat galau,
namun setia lalui hari.
Usaha tiada henti,
demi bersua pasir nan putih
meskipun hanya sekejap.
Terus, tetap terus, 
dan terus menerus.

Lalu, kata-kata menepik 
menyadarkan kita.
Apa makna dibalik maksud semua?
Untaian alam telah memaparkan 
sedemikian jelas.
Terabaikan begitu sia-sia,
kita tak mampu membaca.

Laut terlihat kalut,
asa laut tidak pernah surut.
Ujung keujung laut sama.
Tetap pada pendirian semula.
Laut hanya ingin bersua,
dengan pasir putih nan indah.
Sebelum waktu menghentikan semua.
Kajhu, Aceh Besar
5 Januari 2015

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 9/Habis)

Tuesday, December 13, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 9/Habis)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

9. Cara Menanggulangi Depresi
Depresi dapat menjadi penyakit yang sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, namun kemungkinan untuk mengobati individu depresi bagi yang mencari pengobatan sangat tinggi yaitu 85%-90% (Hegg, 1991). Depresi memang dapat hilang dengan sendirinya, namun pada kasus depresi berat diperlukan terapi dan pengobatan yang efektif untuk mengurangi depresi.

Beberapa cara menanggulangi depresi bagi para penderita depresi mulai dari depresi ringan, depresi sedang, dan depresi berat adalah sebagai berikut:

9.1 Obat Antidepresan
Ada beberapa obat antidepresan, yaitu lithium berupa obat yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar; Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs) berupa obat menghalangi aktivitas monoamine oxidase, enzim yang menghancurkan neurotransmiter monoamine norepinephirne, serotonin, dan dopamine; tricylics berupa obat meningkatkan aktivitas neurotransmiter monoamine norepinephirne dan sorotonim dengan menghambat reuptake ke dalam neuron; SSRIs berupa obat yang hanya menghambat reuptake sorotonim namun tidak menghalangi neurotransmiter lain (Bress, 2008).

9.2 CBT (Cognitive Behavior Theraphy)
Pendekatan CBT (Cognitive Behavior Theraphy) memusatkan perhatian pada proses berpikir klien yang berhubugan dengan kesulitan emosional dan psikologis klien. CBT (Cognitive Behavior Theraphy) adalah terapi yang dikembangkan oleh Beck tahun 1976 dan paling sesuai untuk gangguan harga diri dan depresi.

Teknik-teknik yang digunakan dalam pelaksanaan terapi kognitif tingkah laku menurut Beck adalah sebagai berikut mulai dari jadwal aktivitas harian, catatan harian pemikiran tidak rasional, menilai pola pikir, latihan aktif, dan tugas rumah.

Gilliland, James, dan Bowman (1994) mengemukakan beberapa teknik utama dalam terapi prilaku kognitif, yaitu Bek’s cognitive therapy, relaxation training dan relaxation therapy, systematic desensitization, mental and emotive imagery, dan meditation.

Meningkatkan Harga Diri dengan Terapi CBT (Cognitive Behavior Theraphy)
Pada penderita depresi yang mengalami harga diri rendah (merasa tidak berguna dan tidak percaya diri) perlu dilakukan perubahan pola pikir dengan menggunakan terapi CBT (Cognitive Behavior Theraphy). Ada lima tahap untuk meningkatkan harga diri berdasarkan prinsip CBT, yaitu
  • Mengidentifikasi situasi dan kondisi yang menyebabkan masalah;
  • Menyadari kepercayaan dan pikiran-pikiran;
  • Mengarahkan pikiran negatif dan tidak akurat;
  • Menentang pikir yang negatif atau tidak akurat; dan
  • Mengubah pemikiran dan kepercayaan.
9.3 Tarapi Interpersonal
Terapi interpersonal adalah bantuan psikoterapi jangka pendek yang berfokus kepada hubungan antara orang-orang dengan perkembangan simtom penyakit kejiwaan. Terapi interpersonal dikembangkan oleh psikiater Gerald Klerman M.D. dari Harvard dan psikolog Mayma Weissman, Ph.D.

Terapi interpesonal adalah turunan dari terapi psikodinamika yaitu psikoanalisis, dengan menekankan pada pengalaman masa lalu dan ketidaksadaran. Ada tujuh tipe intervensi yang biasanya digunakan dalam terapi interpersonal, dan sebagian besar dipengaruhi oleh teori psikodinamika, yaitu berfokus pada keadaan emosi klien, penyelidikan terhadap perlawanan klien terhadap pengobatan, diskusi mengenai pola hubungan dan pengalaman klien, memeriksa masa lalu klien, penekanan pada pengalaman interpersonal saat ini, penyelidikan hubungan terapi atau klien, dan identifikasi fantasi serta keinginan klien.

Tujuan dari terapi interpersonal adalah mengurangi simtom depresi dan meningkatkan penyesuaian sosial. Ada empat area masalah yang sering didentifikasi, yaitu unresolved grief, role transitions, dan interpersonal deficits. 

9.4 Konseling Kelompok dan Dukungan Sosial
Konseling secara kelompok adalah pelaksanaan wawancara konseling yang dilakukan antara seseorang konselor profesional dengan beberapa pasien sekaligus dalam kelompok kecil (Winkel, 1999). Amir Awang (1988) menjelaskan bahwa ciri utama konseling kelompok adalah memberi fokus kepada pemikir sadar, tingkah laku, dan menggalakkan interaksi terbuka, peserta merupakan orang-orang normal dan fasilotator merupakan penggerak yang penting.

Kegunaan dukungan sosial kelompok, yaitu:
  • Merasa ada orang lain yang juga menderita sehingga dapat mengurangi rasa isolasi;
  • Mempunyai pengalaman menolong orang lain dengan memberikan informasi dan nasihat sokongan emosional;
  • Dapat memberikan harapan dengan melihat pada pasien yang menjadi sembuh;
  • Dapat meniru semangat, optimis, dan kegigihan sesama pasien mewalan penyakitnya;
  • Dapat mengeluarkan segala perasaan dan masalah serta merasa didengarkan; dan
  • Merasa diterima dan disayangi dalam keadaan apapun. Oleh karena itu, diharapkan melalui intervensi kelompok dukungan sosial dapat mengurangi stres berat yang dialami pasien sehingga mereka dapat lebih optimis dan percaya diri dalam melawan penyakitnya.
Sheridan dan Radmacher (!992), Sarafino (1998) serta Tylor (1999) membagi dukungan sosial ke dalam lima bentuk, yaitu dukungan instrumental (tangible assistance), dukungan informasional, dukungan emosional, dukungan pada harga diri, dan dukungan dari kelompok sosial.

9.5 Berolahraga
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan pikiran dan perasaan positif yang dapat menghalangi munculnya mood negatif adalah dengan berolahraga (North dalam Cox, 2002). Sebagian studi menunjukkan bahwa orang yang berolahraga atau memiliki tubuh yang bugar mengalami kecemasan, depresi, dan tekanan hidup yang lebih kecil daripada mereka yang tidak berolahraga (Sarafino, (1998).

Olahraga merupakan suatu pilihan gaya hidup. Olahraga penting untuk kesehatan fisik dan mental. Menurut para ahli kesehatan, jika emosi sedang pada posisi terendah, penderita dianjurkan untuk berolahraga selama 20 menit untuk tiap sesi dan dilakukan kurang lebih tiga kali dalam seminggu.

Berolahraga dapat meningkatkan body image karena, jika bergabung dalam tim olahraga, maka seseorang akan sering melakukan aktivitas fisik dan berolahraga. Di dalam tim olahraga juga terdiri dari beberapa orang yang berbeda dan mereka bekerja sana untuk memenangkan pertandingan, sehingga memungkinkan seorang anak untuk mengembangkan identitasnya sendiri dan memiliki orang yang dapat menerima dia apa adanya.

9.6 Diet (Mengatur Pola Makan)
Simtom depresi dapat diperparah oleh ketidakseimbangan nutrisi di dalam tubuh. Ketidakseimbangan nutrisi dapat menyebabkan depresi semakin parah, dikarenakan mengkonsumsi kafein secara berkala, mengkonsumsi sukrosa (gula), kekurangan biotin, asam folat, dan vitamin B, vitamin C, kalsium, tembaga, magnesium atau potasium, kelebihan magnesium atau vanadium, ketidakseimbangan asam amino, dan alergi makanan.

9.7 Terapi Humor
Respons fisiologis dari tertawa termasuk meningkatnya pernapasan, sirkulasi, sekresi hormon dan enzim pencernaan, dan peningkatan tekanan darah. Ketertarikan efek humor terhadap kesehatan sudah menjadi psychoneuroimmunology, studi mengenai bagaimana faktor fisiologis, dan otak serta sistem imun berinteraksi terhadap kesehatan.

Pada buku Stress Without Distress, Syle mengatakan bahwa interpretasi seseorang terhadap suatu kejadian hanya bergantung pada kejadian di luar diri kita, tetapi juga bergantung pada cara kita mempersepsi kejadian dari cara seseorang memberi arti kejadian itu. Humor memberi perspektif yang berbeda dari masalah kita. Jika tidak dapat membuat situasinya menjadi ringan, situasi tersebut bukan lagi menjadi ancaman.

9.8 Berdoa
Berdoa merupakan salah satu cara untuk mengatasi depresi. Apapun pengertian kita tentang doa, tujuan, dan caranya, doa dapat mendatangkan ketenangan lahir dan batin, serta melepaskan kita dari ketegangan fisik dan mental kita.

Pemuka agama biasanya sangat berpengalaman di bidang konseling dan selalu bersedia membantu memecahkan masalah dan memberikan dukungan. Pemuka agama juga bisa mengarahkan kita agar lebih beriman kepada Tuhan dan menjauhkan kita dari kesedihan mendalam. Intinya, religiusitas batin seseorang membantu mereka ke luar dari depresinya.

9.9 Hidroterapi dan Hidrotermal 
Hidroterapi adalah penggunaan air untuk pengobatan penyakit dan terapi hidromental adalah penggunaan efek temperatur air, misalnya mandi air panas, sauna, dan lain-lain. Pengobatan dari hidroterapi berdasarkan efek mekanis atau termal air, sebab tubuh bereaksi pada stimulus panas dan dingin.

Seseorang dengan gangguan sensasi temperatur berisiko terkena iritasu atau frostbite saat berada pada temperatur yang ekstrem. Ketika suatu kondisi berlangsung perlu menghubungi dokter untuk menentukan terapi fisik yang sesuai, seperti:
  • Penderita diabetes, hindari panas pada kaki dan juga hindari pemanasan tubuh yang penuh misalnya body wraps;
  • Raynand’s disease, hindari penggunaan air dingin;
  • Diabetes atau multiple sclerosis, wanita hamil atau seseorang dengan tekanan darah tinggi atau rendah, hindari berendam air panas dan sauna yang lama;
  • Tidak dianjurkan mendinginkan kaki jika berisiko iritasi ginjal dan saluran kencing serta rematik;
  • Lansia dan anak-anak bisa kelelahan karena terlalu banyak panas; dan
  • Jika hamil dan penyakit jantung, konsultasi pada dokter sebelum melakukan sauna.
9.10 Menolongi Orang Yang Sedang Menderita Depresi
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menolong orang yang sedang menderita depresi, yaitu mendengarkan penderita depresi, meluangkan waktu kepada penderita depresi, meyakinkan, memperhatikan pola makan penderita depresi, membantu menjahui minuman keras dari penderita depresi, jika mulai berkata tidak mau hidup lagi atau mencoba bunuh diri sendiri segera tanggapi dengan serius dan hubungi dokter yang menangani depresi, dan yakinkan mereka untuk menerima bantuan.

Kesehatan yang menyeluruh yang optimal hanyalah mungkin ketika ada hubungan yang harmonis antara tubuh, pikiran, dan jiwa (Santillo dalam Wright, 2006). Penyakit adalah keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan gangguan pada tubuh, pikiran, dan emosi. Oleh karena itu, depresi perlu ditangani dengan baik untuk menyeimbangkan keperluan ditangani dengan baik untuk menyeimbangkan kembali tubuh, pikiran, dan emosi.

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 8)

Tuesday, December 13, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 8)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

8. Risiko Yang Ditimbulkan Oleh Depresi
Penderita depresi dapat menimbulkan beberapa risiko negatif yang sangat berpengaruh terhadap diri penderita dan berdampak pada lingkungan sekitarnya, seperti bunuh diri, gangguan tidur atau insomnia dan hypersomnia, gangguan dalam hubungan, gangguan dalam pekerjaan, gangguan pola makan, dan perilaku-perilaku merusak. Beberapa risiko tersebut akan dijelaskan selanjutnya.

8.1 Bunuh Diri
Depresi yang tidak ditangani secara cepat dapat meningkatkan risiko percobaan bunuh diri, karena dipengaruhi oleh pikiran orang yang dilanda depresi. Orang yang menderita depresi kadang-kadang merasa begitu putus asa sehingga mereka benar-benar mempertimbangkan membunuh dirinya sendiri. Telah diketahui bahwa, orang bunuh diri sangat kurang mendapat dukungan sosial, 65% bunuh diri pernah memberikan tanda peringatan, 90% adalah penderita penyakit kejiwaan, dan 70% mengidap depresi (Wilkinson, 1995).

Keinginan bunuh diri tidak hanya dialami oleh individu yang sedang mengalami gangguan mood depresi, namun pada fase manik pada penderita bipolar juga terjadi keinginan bunuh diri. Hal ini terjadi karena pada saat fase depresi, seseorang mengalami gangguan bipolar tidak memiliki cukup banyak dorongan untuk benar-benar melakukan bunuh diri, namun saat fase manik seseorang dengan semangat tinggi dan sering melakukan tindakan yang berbahaya.

8.2 Gangguan Tidur: Insomnia dan Hypersomnia
Penderita depresi umumnya selalu mengalami susah tidur menjadikan penderita susah tidur walaupun sudah lelah, bangun lebih pagi dari biasa dan tidak bisa tidur laagi, tidur dengan gelisah dan sering bangun pada malam hari, dan tidur berlebihan pada siang hari (Priest, 1994). Gangguan tidur dan depresi cenderung muncul bersamaan, setidaknya 80% dari orang yang menderita depresi mengalami insomnia, atau kesulitan untuk tidur, sering kali, dan kesulitan untuk tetap tertidur.

Pada orang yang mengalami depresi, mereka tidur dengan cepat, namun sering terbangun pada malam hari. Perasaan yang tidak nyaman dan tidak rileks, merasa malam sangat lambat berlalu dan bangun dengan perasaan lebih lelah dari pada ketika tidur. Beberapa penyebab kesulitan tidur adalah kafein yang berada di dalam kopi dan teh, kebanyakan minuman ringan dan coklat, pseudoephedrine atau decongestant dapat mengganggu tidur.

Hipersomnia adalah perasaan mengantuk berlebihan. Hipersomnia adalah simtom untuk gangguan bipolar atau manik-depresif dan juga berhubungan dengan kesulitan bangun dan dikarekteristikan dengan merasa capai sepanjang waktu, perlu waktu tidur siang, nerasa mengantuk meskipun sudah tidur dan tidur siang, kesulitan berpikir dan membuat keputusan serta pikiran berkabut, apatis, kesulitan mengingat dan konsentrasi, meningkatnya risiko kecelakaan, dan lamanya waktu tidur (www.lifetips.com).

8.3 Gangguan dalam Hubungan
Depresi dapat mengganggu hubungan penderita dengan orang lain terutama orang yang dekat dengannya. Untuk itu depresi perlu mendapatkan penanganan yang serius agar tidak merusak hubugan dengan orang yang dicintai. Selain itu penderita depresi juga perlu bantuan dukungan sosial dari orang-orang yang dicintai dan perlu untuk merasa diterima untuk dapat mempercepat proses kesembuhan depresi.

8.4 Gangguan dalam Pekerjaan
Depresi mengakibatkan kerugian dalam produksi karena absenteisme ataupun perfoma yang sangat buruk. Alasan-alasan mengapa seseorang mengalami penurunan performa kerja ada pada simtom-simtom depresi yaitu:

  • Menurunnya ketertarikan atau kesenangan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Menurunya konsentrasi dan daya ingat dan membuat kesalahan yang tidak bisa dilakukan.
  • Perasaan kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari atau bekerja lebih lambat daripada biasanya.
  • Berkurangnya kemampuan pemecahan masalah dan pembuatan keputusan.
  • Mudah tersinggung atau menyebabkan masalah dengan hubungan kerja.

Penurunan pada peforma pekerjaan yang terus-menerus ditambah dengan masalah-masalah hubungan di tempat kerja menyebabkan seseorang yang depresi lebih cenderung dipecat dan menjadi pengangguran. Pengangguran dapat menciptakan depresi yang lebih berat, karena kehilangan pekerjaan menciptakan stres yang tinggi pada individu penderita.

8.5 Gangguan Pola Makan
Depresi dapat menyebabkan gangguan pada pola makan dan gangguan pola makan dapat menyebabkan depresi. Pada orang yang menderita depresi terdapat dua kecenderungan umum mengenai pola makan yang secara nyata memengaruhi berat tubuh, yaitu tidak selera makan dan keinginan makan-makanan yang manis bertambah. Beberapa gangguan pola makan yang diakibatkan oleh depresi adalah bulimia nervosa, anoreksia nervosa, dan obesitas.

8.6 Perilaku-Perilaku Merusak 
Beberapa prilaku yang merusak yang disebabkan oleh depresi adalah agresivitas dan kekerasan sehingga mudah tersinggung dan agresif; penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, dan perilaku merokok.

Depresi sebagai suatu gangguan yang dapat diobati dan sebaiknya ditangani dengan segera mengingat risiko-risiko negatif yang dapat ditimbulkannya. Penanganan yang cepat memungkinkan fungsi-fungsi kehidupan seseorang tidak terlalu dipengaruhi oleh depresi sehingga bahaya yang ditimbulkan akibat depresi dapat diminimalisir.

Baca Selanjutnya (Bagian 9) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 7)

Sunday, December 04, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 7)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

7. Penyakit Mematikan dan Depresi
Menurut World Health Organization (WHO), penyakit mematikan yang paling banyak menyebabkan kematian di zaman sekarang ini adalah penyakit jantung, penyakit kanker, dan penyakit stroke (www.wikipedia.com). Ketiga penyakit ini walaupun menyerang bagian tubuh yang berbeda pada individu, namun penelitian telah menunjukkan bahwa depresi berperan dalam memperparah gejala penyakit tersebut. Oleh karena itu perlu dipahami hubungan antara penyakit mematikan dan depresi pada pasien.

7.1 Penyakit Jantung
Hadirnya depresi pada penderita penyakit jantung koroner bukan saja membahayakan kesejahteraan emosionalnya, tetapi juga akan semakin memperberat penyakit yang diderita dan menghambat kemajuan rehabilitas yang ditunjukan padanya. Sarafino (1994) mengemukakan bahwa suatu penyakit dan akibat yang diderita, baik akibat penyakit ataupun intervensi medis tertentu dapat menimbulkan perasaan negatif seperti kecemasan, depresi, marah, ataupun rasa tidak berdaya dan perasaan-perasaan negatif tertentu yang dialami terus-menerus ternyata dapat memperbesar kecenderungan seseorang terhadap suatu penyakit tertentu.

Frasure Smith dan rekan-rekannya (1993) menemukan bahwa kondisi depresi berat merupakan faktor risiko penyebab kematian setelah 6 bulan pasien mengalami serangan jantung. Pasien depresi memiliki risiko yang lebih besar karena mereka menderita penyakit yang lebih berat daripada pasien yang tidak depresi. Sedangkan depresi ringan yang dialami pasien dapat disamakan dengan perasaan sedih yang normal dan cenderung membatasi diri.

Pashkow (1997) berpendapat bahwa gejala-gejala depresi pada orang yang sakit jantung koroner pada dasarnya sama dengan simtom-simtom depresi pada umumnya, di antaranya adalah gangguan tidur dan selera makan; perasaan hidup tanpa harapan dan tidak petut untuk dihidupi; perasaan keletihan atau kekesalan yang tidak berkaitan dengan kondisi fisik; hilangnya minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasa; sulit memusatkan perhatian atau membuat keputusan; menangis, terutama tangisan spontan; dan pikiran bunuh diri. Dari penelitian yang sama ditemukan pula perbedaan derajat depresi di antara pasien penyakit jantung koroner yang mengalami serangan jantung, mulai dari depresi dengan taraf ringan sampai berat. Diperkirakan 45% mengalami depresi berat dan ringan, dimana yang mengalami depresi berat sebanyak 18% dan 27% mengalami depresi ringan. Oleh karena itu tindakan psikolos sangat diperlukan apabila pasien pasca serangan jantung cenderung mengalami reaksi depresi, maka hal ini sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko kematian pada pasien.

7.2 Penyakit Kanker
Penderita kanker sering kali mengalami perasaan kecewa ketika harus kehilangan salah satu organ tubuh akibat penyakit atauun karena proses penanganan kanker. Proses penanganan kanker juga disertai dengan rasa sakit, kecemasan, disfungsi seksual, dan kemungkinan perawatan di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama (Redd dan Jacobsen, 1988).

Kemungkinan terjadi gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, kemarahan, perasaan tidak berdaya, dan tidak berharga dialamai antara 23%-66% penderita kanker. Diperkirakan saat ini ada sekitar 25% penderita kanker mengalami depresi berat (Sinar Harapan, 2003).

Beberapa penelitian menyatakan penderita kanker kurang mendapat dukungan sosial. Hal ini antara lain disebabkan orang-orang di sekitar penderita, keluarga atau kerabat bersikap menghindari pasien (Wortman dan Dunkel-Schetter, 1979). Padahal dukungan sosial mempunyai arti yang sangat penting bagi penderita kanker. Selain itu, dukungan sosial mempunyai peran penting dalam memperbaiki status kesehatan seseorang (Kaplan dan Toshima, 1990). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi tekanan psikologis selama masa stres (Billings dan Moos, 1982).

Pasien kanker tidak boleh dibiarkan sendirian dan tidak boleh diberikan perawatan fisik saja, namun perlu perawatan psikologis untuk mengurangi keluhan-keluhan mental pasien dan mendapat dukungan terutama dari keluarga dan bergabung dengan kelompok penderita kanker sebagai sarana untuk mendapat dukungan sosial.

7.3 Penyakit Stroke 
Menurut Psikiater Dr. Teddy Hidayat, stroke merupakan sindrom gangguan otak yang bersifat vokal akibat adanya gangguan sirkulasi darah di otak. Penderita stroke atau penderita pascastroke, kemungkinan besar akan mengalami gangguan pada sistem motorik tubuh dan kemampuan saraf (otak). Apabila otak sebelah kiri yang terkena, maka gangguan yang mungkin muncul adalah gangguan berpikir dan motorik, sedangkan bila sebelah kanan maka kemungkinan penderita akan mengalami gangguan fungsi bahasa, perasaan, (emosi), dan gangguan pahaman. Kecacatan fisik yang diakibatkan oleh stroke beserta gangguan yang menyertainya merupakan suatu kenyataan yang harus dihadapi individu penderita stroke.

Individu yang terserang stroke sering kali merasa tidak percaya dan tidak dapat menerima kenyataan. Hal ini dapat dipahami karena pada saat seseorang dihadapkan pada penyakit yang menakutkan seperti stroke beserta gangguan yang diakibatkannya, ia beranggapan bahwa mungkin seumur hidup akan menderita sakit.

Kondisi kesehatan sangat berperan di dalam penyesuaian diri seseorang. Penyesuaian diri berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental. Individu yang mengalami stroke dengan stres emosional tinggi tidak akan mampu memandang dirinya secara objektif, selalu menyesali keadaan diri, tidak percaya diri, dan bersikap negatif terhadap orang lain dan lingkungan sosialnya, dan hal tersebut akan memperburuk kesehatan. Begitu pula sebaliknya individu yang bebas dari stres emosional akan menjadi individu yang rileks, mampu menghayati perasaan emosionalnya dan mengenali potensi-potensi yang dimiliki serta dapat melakukan evaluasi tentang keadaan dirinya sehingga dapat memunculkan penilaian positif terhadap keadaan kondisi dirinya. Hal tersebut tentu akan mempercepat proses penyembuhan pascastroke (Agustin, 2009).

7.4 Kesimpulan
Dari beberapa sumber, secara umum penyebab dari penyakit mematikan yaitu penyakit jantung, stroke, dan kanker disebabkan oleh makanan yang tidak sehat, kurang berolahraga, riwayat keluarga, minum-minuman keras, dan merokok. Penelitian menunjukkan bahwa pasien-pasien yang membutuhkan perawatab khusus seperti penyakit jantung, kanker, dan stroke menginginkan suatu pembicaraan yang terbuka dengan anggota keluarganya untuk mengurangi beban psikologis yang dirasakan (Tylor, 1986).

Menurut Peterson dan Bossio (1991), ada keterkaitan antara pandangan yang optimis dan kesehatan fisik seseorang. Individu optimis lebih baik dalam melakukan kebiasaan yang sehat daripada individu yang pesimis, dengan melakukan latihan dan diet yang seimbang. Sebaliknya individu yang pesimis dapat mengembangkan rasa tidak berdaya, rasa putus asa, kekecewaan yang mendalam serta tidak mempunyai gairah untuk hidup.

Baca Selanjutnya (Bagian 8) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 6)

Thursday, December 01, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 6)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

6. Teori-Teori Depresi
Berikut ini adalah beberapa teori yang dapat menjelaskan timbulnya gangguan depresi (Sarason dan Sarason, 1993; Strongman, 1996).

6.1 Teori Psikoanalisis
Pendekatan psikoanalisis dari Freud menyebutkan bahwa depresi disebabkan oleh kebutuhan oral pada masa anak-anak yang kurang terpuaskan atau sebaliknya, terpuaskan secara berlebihan. Akibatnya anak akan mengembangkan ketergantungan yang berlebihan terhadap harga diri, sehingga apabila kehilangan seseorang yang sangat berarti, akan muncul reaksi yang kompleks, seperti rasa sedih dan berkabung yang berlarut-larut, perasaan marah, dendam, membenci diri sendiri, serta ingin menghukum atau menyalahkan diri sehingga ia merasa tertekan dan depresi.

6.2 Teori Prilaku atau Behavioral
Pendekatan behavioral mengatakan bahwa prilaku manusia adalah hasil dari lingkungannya karena manusia merespon rangsangan dari luar. Teori behavioral menjelaskan bahwa depresi muncul sebagai akibat seseorang kurang menerima penghargaan (rewards) dan lebih banyak menerima hukuman (punishment).

B.F. Skinner, seorang psikolog Amerika mengatakan bahwa manusia berusaha untuk melakukan tindakan tertentu di lingkungan mereka. Jika tindakan tersebut menciptakan hasil yang diinginkan, mereka akan terus melakukan hal tersebut dan begitu juga sebaliknya, bila tidak menyenangkan maka akan menghentikannya.

6.3 Teori Biologi
Menurut teori biologi kecenderungan berkembangnya gangguan afektif, terutama gangguan manik-depresive (bipolar) merupakan bawaan sejak lahir (Atkinson, 1991).  Di antara faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam melahirkan penyakit depresi adalah fungsi otak yang terganggu dan gangguan hormonal (Shreeve, 1991; Kusmanto, 1990).

Penyebab depresi tidak bisa disebut hanya disebabkan oleh faktor biologis atau faktor luar saja, namun integrasi dari kedua faktor tersebut karena walaupun pemicu utama episode depresi adalah stressor dar luar, kontribusi dari gentik harus dilihat karena tingkat depresi lebih tinggi di antara orang-orang yang punya hubungan genetis yang dekat (realisis biologis tingkat pertama).

Terdapat dua penjelasan dalam teori fisiologis mengenai depresi, yaitu adanya gangguan metabolisme elektrolit pada pasien depresi dan adanya hambatan dalam transmisi neural yang terjadi dalam sistem saraf simpatik serta melibatkan transmiter neuralnya.

6.4 Teori Stres
Teori stres awalnya digunakan untuk menjelaskan depresi berdasarkan asumsi bahwa gangguan mood adalah respon dari stres. Campbell dan Kub (1995) menemukan bahwa stressor sehari-hari yang diukur dengan Daily Hassles adalah prediktor yang paling kuat dalam depresi dan lebih kuat daripada kekerasan sewaktu kecil.

6.5 Teori Kognitif
Beck (1985) berpendapat bahwa adanya gangguan depresi adalah akibat dari cara berpikir seorang terhadap dirinya. Hal ini disebabkan karena adanya distorsi kognitif terhadap diri, dunia, dan masa depannya, sehingga dalam mengevaluasi diri dan menginterpretasi hal-hal yang terjadi mereka cenderung mengambil kesimpulan yang tidak cukup dan berpandangan negatif.

Model kognitif depresi timbul dari observasi-observasi klinis yang sistematis dan pengujian-pengujian eksperimen yang berulang kali (Beck, 1979). Model ini terdiri dari tiga konsep khusus yaitu cognitive triad berupa memandang diri, pengalaman, serta masa depan secara negatif; proses informasi yang salah dan skema-sekama.

6.6 Teori Humanistis-Eksistensial
Teori humanistis ekssistensial mangatakan depresi adalah hasil dari rendahnya konsep diri dan self-esteem yang diakibatkan oleh kehilangan. Kehilangan tersebut tidak harus seseorang yang dicintai, bisa saja status, kekuasaan, tingkat sosial, dan bahkan uang. Teori Maslow menyatakan ada kebutuhan dasar manusia yang perlu dipenuhi untuk dapat berfungsi optimal, yaitu basic need, safety need, love and belongingness need, esteem need, dan self actualization need.

Ketiga kebutuhan need yang pertama merupakan kebutuhan yang diperlukan oleh setiap individu dan kekurangan dari kebutuhan tersebut mendorong seseorang untuk berusaha memenuhinya. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu yang lama akan menumbulkan frustasi dan depresi.

Teori humanistis lebih menekankan pada perbedaan antara ideal self  seseorang dengan persepsinya terhadap kenyataan sebagai sumber kecemasan serta depresi. Sesuai pendapat Kierkegaard bahwa depresi adalah hasil dari ketika perbedaan antara yang ideal dan yang nyata terlalu jauh untuk diterima oleh individu (Sarason dan Sarason, 1993).

Baca Selanjutnya (Bagian 7) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 5)

Tuesday, November 29, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 5)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

5. Penyebab Depresi
Gangguan depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Seperti halnya penyakit lain, penyebab depresi yang sesungguhnya tidak dapat diketahui secara pasti namun telah ditemukan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhinya. Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya depresi atau meningkatkan risiko seseorang terkena depresi, yaitu faktor fisik fan faktor psikologis.

5.1 Faktor Fisik
Pada faktor fisik penyebab depresi, terdapat beberapa faktor yang menyebabkannya, seperti:

5.1.1 Faktor Genetik
Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi, tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja. Sulit untuk menghitung tingkat risiki karena pengaruh dari gen berbeda untuk tiap tipe depresi.

Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan jika ada depresi di dalam keluarga biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi.

Penelitian Kendler (1992) dari Departemen Psikiatri Virginia Commonwealth University terhadap kembar perempuan menunjukkan bahwa anak kembar berbagai faktor risiko terhadap neurotisme dan depresi berkisar antara 70% karena genetik dan 20% karena faktor lingkungan, dan hanya 10% diakibatkan oleh penyebab langsung depresi berat. Artinya jika salah satu kenbar terdeteksi menderita depresi berat, kembar yang lain memiliki faktor risiko yang besar bisa terserang depresi juga.

5.1.2 Susunan Kimia Otak dan Tubuh
Secara biologis, depresi terjadi di otak karena otak manusia adalah pusat komunikasi paling rumit dan paling canggih dan memiliki 10 miliar sel serta mampu mengeluarkan miliar pesan tiap detik. Pembawa pesan komunikasi biokimia ini dikenal dengan neurotransmiter.

Penyebab depresi di dari dalam otak dikarenakan kekurangan neurotransmiter sorotonin, norepinephrine, dan dopamine. Selain itu kelebihan jumlah neurotransmiter dapat menyebabkan fase manik dalam periode manik depresi. Oleh karena itu neurotransmiter yang ada di dalam otak harus selalu dalam tingkat normal sehingga berfungsi harmonis.

5.1.3 Faktor Usia
Golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada tahap tersebut terdapat tahap-tahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas hingga ke pernikahan. Survei masyarakat terakhir melaporkan adanya prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depresi pada golongan usia dewasa muda yaitu 18-24 tahun (Wilkinson, 1995).

Jorn (2000) dalam penelitiannya ditemukan bukti bahwa pada usia dewasa terdapat penurunan kecenderungan kecemasan dan depresi seiring dengan bertambahnya usia. Faktor yang diduga mempengaruhi penurunan tersebut adalah berkurangnya respons emosi seseorang seiring bertambahnya umur, meningkatnya kontrol emosi, dan kekebalan terhadap pengalaman yang stressful.

5.1.4 Gender
Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi daripada pria. Hal ini disebabkan karena perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan, kelahiran, dan menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi atau menjadi pemicu penyakit depresi. Penelitian Angold (1998) menunjukkan bahwa periode meningkatnya risiko depresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas.

Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria (Desjarlais, 1995). Radolf dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh faktor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens dan adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita serta perbedaan fisiologi dan hormonal dibanding pria.

5.1.5 Gaya Hidup
Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko penyakit jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food, atau makanan yang mengandung bahan perasa, pengawet dan pewarna buatan, kurang berolahraga, merokok, dan meminum-minuman keras (Hendranata, 2004).

Pada usia lanjut usia, depresi lebih banyak berhubungan dengan gaya hidup, khususnya di atas usia 70 tahun. Terlibat aktivitas sosial mempengaruhi penurunan tingkat depresi, sehingga lansia yang terlibat aktivitas sosial lebih jarang terserang depresi  daripada lansia yang sering sendirian berada di rumah saja.

5.1.6 Penyakit Fisik
Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit, misalnya penyakit depresi sering terjadi setelah serangan jantung, mungkin karena seseorang merasa mereka baru saja mengalami kejadian yang dapat menyebabkan kematian atau karena mereka tiba-tiba menjadi orang yang tidak berdaya. Penelitian Ebrahim (1987), terdapat 149 penderita stroke menunjukkan adanya gangguan afektif depresi pada penderita stroke akut setelah enam bulan.

Beberapa penyakit menyebabkan depresi karena pengaruhnya terhadap tubuh. Menurut McKenzie (1999) ada beberapa penyakit yang dihubungkan dengan depresi, yaitu acromrgaly, addixon’s desease, alkohol, brain abscess, brain haemorrhage, brain tumours, chronic fatigue syndrome, cushing’s desease, dementia, diabetes, encephalitis, luka pada kepala, masalah jantung, hyperparathyroidism, hypopituitarism, hyoithyroidism, multiple sclerosis, paronson’s desease, luka berat pada kepada, tubercolosis dan  minintis, kekuranga vitamin, penyakit oleh virus termasuk influenza, dan masalah keseimbangan air dalam tubuh, misalnya kekurangan garam, tinggi atau rendahnya kalsium dalam tubuh.

5.1.7 Obat-Obatan
Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapar menyebabkan depresi, namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi dan menghentikan pengobatan karena dapat lebih berbahaya daripada depresi.

Menurut (McKenzie (1999), ada beberapa obat yang menyebabkan depresi, yaitu tablet antiepilepsy, obat antitekanan darah tinggi, obat antimalaria-mefloquine (lariam), obat antiparkonson, obat kemotrapi yang beberapa digunakan untuk pengobatan kanker, pil kontrasepsi berupa kontrasepsi yang digabung dan kemungkinan pada pil progestogen saja, digitalis, diuretics, interferon-alfa yang digunakan untuk pengobatan hepatitis C, obat penenang, dan terapi steroid untuk asma, arthritis, dan lain-lain).

5.1.8 Obat-Obatan Terlarang
Obat-obatan terlarang dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbulkan ketergantungan. Menurut Brees (2008), beberapa obat-obatan terlarang yang menimbulkan depresi yaitu marjiuana atau ganja, heroin atau putaw, kokaina, ekstasi, meth atau sabu-sabu.

5.1.9 Kurangnya Cahaya Matahari
Kebanyakan dari kita lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, sehingga ketika musim dingin kita bisa menjadi depresi. Penyakit seperti ini juga disebut menderita Seasonal Affective Disorder (SAD). Oleh karena itu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari Seasonal Affective Disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi depresi dalam waktu seminggu.

5.2 Faktor Psikologis
Pada faktor psikologis penyebab depresi, terdapat beberapa faktor yang menyebabkannya, seperti:

5.2.1 Kepribadian
Individu-individu yang rentan terhadap depresi, yaitu yang mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert (Retnowati, 1997).

Menurut Gordon Parker dari Black Dog Institute (www.working-well.com), seseorang yang menunjukkan hal-hal berikut memiliki risiko terkena depresi, yaitu mengalami kecemasan tingkat tinggi, seseorang pencemas atau mudah terpengaruh; seorang pemalu atau minder; seseorang yang suka mengkritik diri sendiri atau memiliki harga diri yang rendah; seseorang yang hipersensitif; seseorang yang perfeksionis; dan seseorang yang dengan gaya memusatkan perhatian pada diri sendiri (self-focussed).

5.2.2 Pola Pikir
McWilliam dan Bloomfield (2008) mengatakan seseorang dengan pikiran negatif dapat mengembangkan kebiasaan buruk  dan prilaku yang merusak diri sendiri. Di antara perilaku atau gaya hidup yang negatif dapat menyebabkan atau memperparah depresi, yaitu makan terlalu banyak, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, alkoholisme, merokok, pecandu judi, mengutil mencuri di toko, gangguan seksual, workaholisme atau kecanduan kerja.

5.2.3 Harga Diri (Self-Esteem)
Harga diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi individu. Terpenuhinya keperluan penghargaan diri akan menghasilkan sikap dan percaya diri, rasa kuat menghadapi sesuatu, rasa damai dan sebaliknya, bila semua tidak terpenuhi maka akan membuat seorang individu mempunyai mental yang lemah dan berpikir negatif (Maslow dalam Petri, 2004).

Selfe-esteem bervariasi dari positif ke sangat negatif, sehingga terlalu positif dan negatid tidak baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, harga diri yang sehat adalah berada di antara kedua esteem tersebut yaitu punya pandangan yang seimbang dan akurat.

5.2.4 Stres
Reaksi terhadap stres sering kali ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa yang dialami. Menurut Beck (1985) ada beberapa kondisi yang dapat mencetuskan depresi berupa stres yang spesifik dapat menimbulkan situasi yang dapat menurunkan harga diri, menghambat tujuan penting, penyakit atau gangguan fisik atau abnormalitas, dan rangkaian situasi stres yang datang bertubi-tubi; stres nonspesifik dapat mengembangkan bentuk-bentuk gangguan psikologis tertentu bila dihadapkan pada stres meskipun hal itu tidak mengenai kepekaan perasaan yang spesifik; dan faktor-faktor lain yang memberi arah di luar faktor spesifik dan nonspesifik namun mampu mengembangkan depresi.

Depresi tidak hanya disebabkan oleh konsekuensi kehilangan seseorang yang amat berarti bagi penderitanya, akan tetapi ditentukan juga bagaimana cara mereka memandang kehidupan tersebut sebagai suatu pelajaran yang dapat diambil hikmahnya atau menganggap sebagai takdir, kesalahan diri, suatu hal yang mengancam, atau yang lain (Peterson, 1988).

5.2.5 Lingkungan Keluarga
Beberapa faktor yang mempengaruhi psikologis seseorang pada lingkungan keluarga diakibatkan dari kehilangan orang tua ketika masih anak-anak, jenis pengasuhan, penyiksaan fisik dan seksual ketika kecil. Hal-hal tersebut dangat berpengaruh terhadap psikologi seseorang terkena depresi.

5.2.6 Penyakit Jangka Panjang
Orang-orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap depresi saat mereka dipaksa dalam posisi di mana mereka tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan untuk melawan depresi sudah habis untuk penyakit jangka panjang. Starkstein (1990) menemukan bahwa ada hubungan yang erat antara tingkat ketidakmampuan pada penderita parkinson dengan tingkat depresi. Hal ini juga didukung dengan penelitian Von Korff (1992) yang menunjukkan pasien medis yang mengalami ketidakmampuan fisik dan memerlukan perawatan berisiko terkena depresi berat.

5.2.7 Fisik atau Psikologis Mana Duluan?
Depresi dapat disebabkan oleh kondisi fisik, yaitu ketidakseimbangan biokimia dalam tubuh yang disebabkan oleh faktor bawaan, hormon, penyakit maupun zat dari obat-obatan dan psikologis berupa pikiran yang negatif karena kejadian yang tidak menyenangkan. Kekurangan neurotransmiter dapat berpengaruh pada pikiran dan tindakan yang negatif, dan pikiran serta tindakan negatif dapat berpengaruh terhadap neurotransmiter. Apapun yang akan menyebabkan depresi, ini akan menciptakan spiral menurun yang dapat memperparah depresi.

Pengobatan antidepresi dapat membantu memulihkan keseimbangan neurotransmiter otak. Beberapa terapi jangka pendek (paling seringterapi kognitif dan interpersonal), mengajarkan kebiasaan pikiran dan tindakan yang baru. Pendekatan medis dan psikoterapi telah sukses dalam menangani depresi.

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 4)

Saturday, November 26, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 4)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

4. Jenis-Jenis Depresi
Penggolongan atau klasifikasi depresi hingga saat ini masih sukar diterima terutama oleh kalangan psikiatr, dalam arti tidak dapat satu cara klasifikasi depresi yang diterima secara universal. Hanya sistem klasifikasi resmi seperti PPDGJ II revisi yang menghubungkan sindroma depresi dengan nosologi tertentu.

4.1 Jenis-Jenis Depresi Berdasarkan Tingkat Penyakit 
Menurut klasifikasi World Health Organization (WHO) (dalam www.workingwell.org.au), berdasarkan tingkat penyakitnya, depresi dibagi menjadi:

  • Mild depression/minor depression dan dysthymic disorder (depresi ringan), disebabkan mood yang rendah datang dan pergi dan penyakit datang setelah kejadian stressful yang spesifik;
  • Moderate depression (depresi sedang), disebabkan mood yang rendah berlangsung terus dan individu mengalami simtom fisik juga walaupun berbeda-beda tiap individu;
  • Severe depression/major depression (depresi berat), disebabkan gangguan dalam kemampuan untuk bekerja, tidur, makan, dan menikmati hal yang menyenangkan, dan penting untuk mendapatkan bantuan medis secepat mungkin.

4.2 Jenis-Jenis Depresi Berdasarkan Klasifikasi Nosologi 
Klasifikasi nosologi dari keadaan depresi telah terbukti bernilai dalam prakter klinik dan telah dibakukan oleh World Health Organization (WHO). Unuk mencapai hal itu diperlukan penilaian yang menyeluruh dari semua fakta yang diperoleh dari pemeriksaan fisik, dari riwayat penyakit, dan dari eksplorasi keadaan psikologinya. Jenis-jenis depresi menurut klasifikasi nosologi, yaitu:

  • Depresi psikogenik, biasanya disebabkan akibat adanya kejadian yang dapat membuat seseorang sedih atau stres berat. Berdasarkan tanda dan gejalanya, depresi psikogenik dibagi menjadi depresi reaktif, exhaustion depression, dan depresi neurotik.
  • Depresi endogenik, biasanya timbul tanpa didahului oleh masalah psikologis atau fisik tertentu, tetapi bisa jadi dicetuskan oleh trauma fisik maupun psikis. Depresi ini disebut pula depresi pada usia lanjut yang timbul pada usia 60-65 tahun pada laki-laki dan usia 50-60 tahun pada wanita.
  • Depresi somatogenik, faktor-faktor jasmani dianggap berperan dalam timbulnya depresi, dan depresi ini terbagi kedalam beberapa tipe seperti depresi organik dan depresi simptomatik.

4.3 Jenis-Jenis Depresi Menurut Penyebab, Gejala, dan Arah Penyakit 
Menurut Gre Wilkinson (1995), depresi dapat dibedakan berdasarkan menurut penyebab, gejala, dan arah penyakit, yaitu:

  • Penggolongan depresi menurut penyebabnya, bisa berupa depresi reaktif (stres dari luar) dan endogenus (stres dari dalam);
  • Penggolongan depresi menurut gejalanya, yang digolongkan sebagai depresi neurotik (pengalaman) dan psikotik (halusinasi);
  • Penggolongan depresi menurut arah penyakit, yang terjadi sendiri dan tidak dihubungkan dengan penyakit manik (lawan dari depresi dan sifat orang tersebut sangat gembira) disebut sebagai depresi unipolar dan bipolar.

4.4 Depresi Tersembunyi 
Depresi tersembunyi merupakan depresi dengan gangguan fisik misalnya keletihan, sakit kepala, tidak nafsu makan, dan susah tidur yang kadang kala tanpa disertai dengan kesehihan sehingga sering dianggap oleh penderita sebagai gangguan fisik dan stres. Depresi tersembunyi atau terselubung dapat berwujud keluhan-keluhan masalah fisik, sehingga biasanya penderita tidak menyangka bahwa keluhan-keluhan fisik tersebut sudah merupakan gejala depresi.

Dr. Zarate mengatakan bahwa banyak wanita yang berpikir bahwa mereka hanya stres, terlalu capai bekerja yang padahal sebenarnya mereka terkena depresi. Gejala fisik dari depresi sering tidak dihiraukan oleh pasien dan dokter sehingga menyebabkan penyakit tidak terdiagnosis dan depresi yang tidak ditangani dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang (Graves, 2007).

4.5 Depresi Pada Perempuan 
Pada masa dewasa, diyakini bahwa depresi pada perempuan disebabkan oleh banyaknya stres yang dihadapi. Selain itu, hal-hal yang berhubungan dengan reproduksi, misalnya siklus menstruasi, kehamilan, kelahiran, ketidaksuburan, dan menopause mengubah mood pada beberapa perempuan termasuk terjadinya depresi. Beberapa penyebab depresi pada perempuan yang dibagi berdasarkan waktunya, yaitu:

  • Sindroma Pramenstruasi, suatu tingkat kecemasan yang diakibatkan fase siklus menstruasi;
  • Menopause, peristiwa normal yang tidak terjadi akibat stres, tetapi sering kali menyebabkan stres yang berat pada wanita dalam rentang usia reproduktif;
  • Depresi pasca melahirkan, kondisi yang muncul segera setelah wanita melahirkan.

4.6 Depresi Pada Remaja 
Depresi pada remaja sebagian besar tidak terdiagonasis sampai akhirnya mereka mengalami kesulitan yang serius dalam sekolah, pekerjaan, dan penyesuaian pribadi yang sering kali berlanjut pada masa dewasa (Blackman, 1995). Masa remaja adalah masa pemberontakan dan percobaan tingkah laku. Tantangan bagi para psikolog adalah untuk mengidentifikasi simtomatologi depresi pada remaja mungkin bersembunyi di dalam badai perkembangan (Siswanto, 2007).

Menurut beberapa penelitian (Fritz, 1995) sekitar 5% dari remaja menderita simtom depresi, misalnya kesedihan yang menetap, prestasi yang menurun dan kurangnya ketertarikan pada tugas yang dahulu disukai. Stres pada remaja perempuan dan laki-laki berbeda. Perbedaan tersebut yang menyebabkan lebih tingginya kecenderungan depresi pada perempuan.

Faktor risiko depresi bagi remaja adalah kejadian yang sangat menimbulkan stres, chid abuse atau kekerasan terhadap anak bisa berupa secara fisik maupun seksual, pengasuhan yang tidak stabil sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan sosial, penyakit kronis seperti ginjal dan kanker, serta sejarah keluarga yang mengalami depreso. Simtom-simtom depresi yang biasanya dialami oleh remaja, yaitu berupa mood yang suram atau mudah tersinggung, kemarahan, hilangnya minat melakukan sesuatu, berkurangnya kesenangan melakukan aktivitas sehari-hari, perubahan nafsu makan (bisa berkurang atau meningkat), perubahan berat badan, kesulitan tidur, mengantuk disiang hari, kelelahan, kesulitan konsentrasi.

Banyak sekolah yang mencegah depresi dengan mengajarkan pada siswanya strategi mengatasi stres. Program ini paling efektif untuk siswa yang berisiko depresi (Lamarine, 1995). Faktor yang penting dalam mencegah depresi adalah hubungan yang positif dengan orang tua. Hal ini sangat penting bagi remaja awal (Sanford, 1996).

4.7 Depresi Pada Anak-Anak 
Simtom depresi pada anak-anak sama seperti simtom depresi pada orang dewasa, namun anak-anak tidak memiliki cukup banyak kata-kata untuk mengekspresikannya sehingga mereka mengekspresikannya melalui prilaku. Beberapa tanda depresi pada anak di usia TK dan SD, seperti anak tampak sakit, lebih sedikit bergerak, beberapa anak menjadi mudah menangis dan mudah tersinggung secara spontan jika frustasi.

Ditemukan bahwa anak-anak yang mengalami stres karena kejadian seperti perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga berisiko terkena depresi, namun bahkan anak-anak biasa juga bisa terkena depresi. Anak-anak yang memiliki kecenderungan depresi punya toleransi yang rendah terhadap stres.

Berdasarkan National Institute of Mental Health, beberapa konsekuensi dari depresi anak-anak yaitu:

  • Sekali anak mengalami episode depresi, dia berisiko mendapat episode yang lain dalam 5 tahun;
  • Depresi pada masa anak-anak dapat memprediksi depresi yang lebih berat pada masa dewasa;
  • Depresi pada anak-anak dan remaja diasosiasikan dengan meningkatnya prilaku bunuh diri. (www.psychcenter.com)

Pengobatan depresi pada anak-anak dapat menggunakan terapi bermain. Terapi bermain biasanya biasanya dilakukan pada anak-anak usia 3-11 tahun. Bermain memberikan suatu cara bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman dan perasaan melalui proses alami, penyembuhan, dan pengarahan.

4.8 Burnout
Burnout adalah keadaan seseorang di tempat kerja, yang ditandai dengan menurunnya produktivitas karena stres di tempat kerja yang terus menerus. Burnout sangat berkaitan dengan depresi, yaitu:

  • Burnout dapat menyebabkan depresi (Maslach, 1982);
  • Depresi dapat menyebabkan burnout (Glass, Mc Knigth, Valdirnarsdottir, 1993);
  • Burnout dan depresi berhubungan dengan beberapa faktor (Glass et al, 1993).

Menurut Maslach (1982), ada 3 simtom dari burnout, seperti kelelahan emosional,  depresonalization, dan berkurangnya pencapaian pribadi sehingga menyebabkan menururnya kualitas dan kuantitas pekerjaan.

Sumber atau penyebab burnout, sebagaimana dikemukakan oleh Cherniss (1991), Maslach (!982), dan Sullivan (1989), terdiri dari empat faktor, yaitu faktor keterlibatan dengan pelanggan, faktor lingkungan kerja, faktor individu, dan faktor sosial budaya.

Menurut berbagai penelitian, faktor-faktor yang menjadi penyebab burnout adalah:

  • Tuntutan pekerjaan baik secara emosional maupun beban kerja yang tinggi (Vegchel, Jonge, Dormann, 2004);
  • Ditekan oleh atasan atau percaya telah ditekan oleh atasa (Westman dan Etzion, 2001);
  • Kurangnya sumber daya untuk pekerjaan (Lee dan Ashforth, 1993).

Walaupun burnout dan depresi berbeda namun memiliki beberapa kesamaan. Persamaan antara depresi dan burnour adalah penderita sama-sama mengalami kelelahan emosional yang mengakibatkan produktivitas kerja menurun. Oleh karena itu, kedua gangguan tersebut perlu ditangani dengan serius.

Baca Selanjutnya (Bagian 5) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 3)

Tuesday, November 22, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 3)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

3. Gejala-Gejala Depresi 
Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilang rasa percaya diri, hilangnya semangat kerja, dan menurunnya daya tahan. Menurut pengertian, gejala adalah sekumpulan peristiwa, prilaku, atau perasaan yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu yang bersamaan.

Gejala depresi adalah kumpulan dari prilaku dan perasaan yang secara spesifik dapat dikelompokkan sebagai depresi. Gejala depresi dapat dilihat dari tiga segi, yaitu segi fisik, psikis, dan sosial. Berikut akan dijelaskan gejala depresi berdasarkan dari ketiga segi tersebut:

3.1 Gejala Fisik
Menurut beberapa ahli, gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi, seperti gangguan pola tidur, menurunnya tingkat aktivitas, menurunnya efesiensi kerja, menurunnya produktivitas kerja, serta mudah merasa letih dan sakit.

3.2 Gejala Psikis
Ada beberapa tanda-tanda dari gejala psikis yang dapat diperhatikan di lingkungan kehidupan kita. Tanda-tanda tersebut mungkin anda atau rekan anda miliki, seperti kehilangan rasa percaya diri, sensitif, merasa diri tidak berguna, perasaan bersalah, dan perasaan terbebani.

3.3 Gejala Sosial
Masalah depresi dapat mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan atau aktivitas rutin lainnya. Bagaimana tidak, problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah yang timbul bukan hanya berbentuk konflik, namun juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok, dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal.

3.4 Simtom-Simtom Depresi
Beck (1967) membuat simtom atau gejala depresi menjadi beberapa kategori, seperti simtom-simtom emosional, kognitif, motivasional, dan fisik. Secara rinci akan kategori tersebut akan dipaparkan di bawah ini:

3.4.1 Simtom-Simtom Emosional
Simtom-simtom depresi adalah perubahan perasaan atau tingkah laku yang merupakan akibat langsung dari keadaan emosi. Pada penelitian Beck menyebutkan, manifestasi emosional yang meliputi penerunan mood, pandangan negatif terhadap diri sendiri, tidak lagi merasakan kepuasan, menangis, hilangnya respon yang menggembirakan. Bahkan peningkatan depresi mempengaruhi pada kegiatan-kegiatan biologis, seperti minum, makan, dan hubungan seks.

3.4.2 Simtom-Simtom Kognitif
Beck (1967) menyebutkan menifestasi kognitifnya antara lain yakni penilaian diri sendiri yang rendah, harapan-harapan yang negatif, menyalahkan serta mengkritik diri sendiri, tidak dapat membuat keputusan, distorsi body image. Pandangan negatif sering menjadi sumber frustasi, sehingga penderita depresi sering beranggapan bahwa keadaan yang tidak mencukupi ini (kondisi sosial, fisik, finansial) akan berlanjut atau bertambah buruk di masa mendatang. Bahkan ada beberapa kasus menyebutkan bahwa kejadian-kejadian yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya ada yang menyalahkan diri sendiri.

3.4.3 Simtom-Simtom Motivasional
Hilangnya motivasi dapat dijumpai pada penderita depresi mulai dari 65%-86%, sehingga dorongan-dorongan dan implus-implus yang meninjol dalam depresi mengalami regrasi, terutama aktivitas-aktivitas yang menuntut tanggung jawab atau inisiatif serta energi yang cukup besar. Di samping itu, cenderung menunda kegiatan yang tidak memberi kepuasan segara dan lebih sering melamun daripada mengerjakan sesuatu serta beberapa pekerjaan yang pasif, seperti menonton televisi, bioskop, ataupun hanya tidur-tiduran di kamar. Meskipun keinginan tersebut juga dijumpai pada individu nondepresi, namun frekuensinya lebih sering dijumpai pada penderita depresi.

Beck (1967) mencatat angka 74% keinginan bunuh diri pada penderita depresi dan 12% bagi nondepresi. Pada klien, keinginan bunuh diri berlangsung terus-menerus sepanjang ia sakit, sedangkan pada penderita lain secara sporadis dan perlahan-lahan.

Simtom motivasional berikutnya ialah peningkatan dependensi. Beck (1967) mendefinisikan dependensi sebagai keinginan untuk memperoleh pertolongan dan petunjuk pada orang lain. Oleh karena itu, pada tingkat ekstrem, individu yang dependen ingin orang lain melakukan semua hal bagi dirinya tanpa ia bersusah payah.

3.4.4 Simtom-Simtom Fisik
Menurut Beck (1967) di antara simtom fisik tersebut adalah kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, mudah lelah, dan kehilangan libido. Mudah lelah ditemui pada 79% penderita depresi dan 33% pada nondepresi. Beberapa klien mengalami simtom mudah lelah ini sebagai gejala fisik sepenuhnya, anggota badan seperti kaki dan tangan terasa berat.

3.5 Perkembangan Depresi
3.5.1 Predisposisi Depresi
Pengembangan konsep diri bersumber dari pengalaman pribadi, keputusan orang lain terhadap diri, dan dari identifikasi terhadap orang yang signifikan. Bila sudah terbentuk maka konsep tersebut akan mempengaruhi cara individu memberi penilaian terhadap pengalaman berikutnya.

Penilaian atau konotasi yang dikaitkan dengan konsep diri adalah hal yang dapat mempertajam predisposisi depresi. Ketika depresi aktif terkonstelasi akan terjadi rangkaian peristiwa sebagai berikut, seperti individu menginterprestasikan pengalaman sebagai kegagalan atau hambatan pribadi dan menghubungkan dengan kekurangan dirinya, menganggap dirinya tidak berharga, membenci diri karena mempunyai kekurangan itu, dan menyalahkan diri. Dia menganggap kekurangan itu adalah bagian penting dari dirinya, maka dia tidak memiliki harapan akan terjadinya perubahan dan memandang masa depan sebagai yang tidak memberi kepuasan atau berisi hal-hal menyakitkan.

3.5.2 Precipitation of Depression
Individu yang mempunyai gabungan konstelasi dan sikap-sikap yang telah dijabarkan, memiliki predisposisi untuk mengembangkan depresi klinis pada kehidupan selanjutnya. Konstelasi depresi tersebut dapat menjadi depresi bergantung pada kondisi yang mampu mengaktifkan konstelasi tersebut, seperti:
  • Stress yang spesifik. Kondisi atau peristiwa yang memiliki persamaan dengan pengalaman traumatis pada masa lalu, misalnya situasi yang dapat menurunkan harga diri, situasi yang dapat menghambat tujuan penting atau dilema yang harus dipecahkan, penyakit berupa gangguan fisik atau abnormalitas, dan rangkaian situasi yang berulang;
  • Stres yang non spesifik. Individu akan dapat mengembangkan bentuk gangguan psikologis bila dihadapkan pada stres yang berlebihan;
  • Faktor-faktor lain. Beck menyebut salah satu faktor sebagai ketegangan psikologis yaitu yang stimulasi nya berlebihan atau berkepanjangan periode kembali kepada ketegangan psikologis.
Baca Selanjutnya (Bagian 4) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 2)

Tuesday, November 22, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 2)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

2. Pengertian Depresi
Depresi sebagai sindrom klinis telah diketahui sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Permasalahan dalam depresi ini adalah mengenai sifat dasar, klasifikasi, dan etiologinya.

2.1 Sejarah Depresi 
Pada zaman dahulu, masyarakat percaya semua penyakit mental disebabkan oleh kekuatan supranatural dan cara menyembuhkannya adalah dengan mengeluarkan roh jahat dari dalam tubuh penderita ( Zax dan Cowen, 1976).

Teori mengenai kepribadian manusia yang berasal dari Yunani menjelaskan tentang fenomena fisik dan psikologis dengan cara yang lebih ilmiah. Empedocles (490-420 SM) mengembangkan teori humoral didasarkan empat elemen yang dikarekteristik oleh cairan tubuh, yaitu:
  • Elemen api yang mengeluarkan kualitas panas yang berasal dari cairan darah di jantung;
  • Elemen tanah atau bumi yang mengeluarkan kualitas kering yang berasal dari cairan plegma di otak;
  • Elemen air yang mengeluarkan kualitas basah yang berasal dari cairan lendir kuning di hati; dan
  • Elemen udara yang mengeluarkan dingin yang berasal dari cairan lendir hitam di limpa.
Ketidakseimbangan cairan daripada keempat elemen yang ada di dalam tubuh akan mengakibatkan munculnya penyakit, sehingga cara mengobatinya dilakukan dengan berlawanan dari penyakit yang ada. Teori humoral Empedocles selanjutnya diterapkan lagi oleh Hippocrates (460-377 SM).

Pada teori tersebut Hippocrates mengatakan bahwa semua penyakit dan gangguan mental dijelaskan secara alamiah. Mimpi buruk dan kecemasan disebabkan oleh meningkatnya aliran lendir hitam ke otak, melankolia disebabkan oleh kelebihan lendir hitam (Gelder, Mayau, dan Cowen. 1998).

Dari teori yang diterapkan Hippocrates melahirkan pembagian kepribadian berdasarkan teori cairan tubuh, yaitu:
  • Kepribadian sanguin berasal dari cairan darah di jantung sehingga memunculkan kualitas semangat;
  • Kepribadian plagmatic berasal dari cairan plegma di otak sehingga memunculkan kualitas lamban;
  • Kepribadian kholeric berasal dari cairan lendir kuning di hati sehingga memunculkan kualitas keras; dan
  • Kepribadian melancholic berasal dari cairan lendir hitam di limpa sehingga memunculkan kualitas murung.
Pada abad ke-19, beberapa ahli mencoba mengungkapkan penyebab terjadinya penyakit mental, seperti Wilhelm Griesinger (1817-1868) dan Emil Kraeplin (1855-1926). Wilhelm Griesinger (1817-1868) menyatakan bahwa penyakit mental adalah penyakit somatis dan penyebabnya selalu dapat ditemukan di otak. Selain itu, Emil Kraeplin (1855-1926) percaya bahwa faktor heraditas merupakan penyebab penyakit mental, walaupun kemudian dia menemukan bahwa faktor metabolis yang mempengaruhi timbulnya penyakit mental (Zax dan Cowen, 1976).

Pendapat dari kedua ahli di atas kemudian memunculkan pandangan baru oleh seorang ahli yang bernama Freud. Pada pandangan Freud, dia meyakinkan bahwa pasien itu adalah individu yang unik dengan masa lalu yang berbeda-beda. Pandangan yang dikeluarkan oleh Freud bertahan sampai tahun 1970-an yang kemudian diikuti perkembangan ilmu genetik, biokimia, dan neuropatologi yang menyebabkan gangguan mental dan terkenal dengan nama biological psychiatry (www.priori.com).

2.2 Definisi Depresi 
Istilah depresi sudah begitu populer, akan tetapi arti yang sebenarnya dari depresi itu sukar didefenisikan secara tepat. Orang awam menggunakan istilah depresi dengan sangat bebas dan umum, yaitu suatu keadaan kesedihan dan ketidakbahagiaan. Misalnya ketika seseorang berada dalam kondisi berduka karena kehilangan orang yang dicintai, maka hal tersebut merupakan kejadian wajar bila terjadi pada minggu, minggu pertama namun menjadi suatu penyakit bila kesedihan dalam jangka waktu yang lama.

Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat. Rathus (1991) menyatakan orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan gerakan tingkah laku serta kognisi. Menurut Atkinson (1991) depresi sebagai sautu gangguan mood yang dicirikan tidak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tidak mampu mengambil keputusan memulai suatu kegiatan, tidak mampu konsentrasi, tidak punya semangat hidup, selalu tegang, dan mencoba bunuh diri. 

Secara sederhana depresi dapat diartikan sebagai suatu pengalaman yang menyakitkan dan suatu perasaan tidak ada harapan lagi. Depresi adalah gangguan perasaan (efek) yang ditandai dengan efek disforik (kehilangan kegembiraan atau gairah) disertai dengan gejala-gejala lain, seperti gangguan tidur dan menurunkan selera makan.

2.3 Perbedaan Depresi Dengan Gangguan Lainnya
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara depresi dan gangguan psikologis lainnya, seperti stres dan kecemasan agar kita dapat menentukan gangguan psikologis yang sedang diderita  sehingga dapat memperoleh terapi yang tepat.

2.3.1 Depresi dan Kecemasan 
Kecemasan adalah  tanggapan dari sebuah ancaman, nyata, atau khayal. Kecemasan juga bisa berkembang menjadi gangguan jika menimbulkan ketakutan yang hebat dan menetap pada individu tersebut.

Salah satu definisi kecemasan adalah perasaan yang anda alami ketika berpikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan yang akan terjadi atau bisa juga diartikan takut akan kelemahan (Priest, 1994).
Menurut Prof. Robert Priest (1994), sumber-sumber umum dari kecemasan, yaitu pergaulan, kesehatan, anak-anak, kehamilan, menuju usia tua, kegoncangan rumah tangga, pekerjaan, kenaikan pangkat, kesulitan keuangan, problem-problem, dan ujian-ujian. Pada saat menghadapi kecemasan, tubuh mengalami reaksi fisik meliputi berdebar-debar, gemetar, ketegangan, gelisah atau sulit tidur, keringat, dan tanda-tanda fisik lainnya.

Kecemasan memusatkan pikiran pada suatu ancaman yang akan datang. Depresi seperti kecemasan dapat menjadi suatu masalah bila sudah kelewatan batas sehingga memutuskan kapan depresi menjadi suatu masalah adalah keputusan yang sangat sulit dalam banyak kasus. Oleh karena itu, pada saat terjadinya kecemasan, sebaiknya anda mencari bantuan untuk menghadapi dan mengatasinya.

2.3.2 Stres dan Depresi 
Menurut Prof. Peter Tyler (dalam Kasuda, 1996) stres adalah perasaan tidak enak yang disebabkan oleh persoalan-persoalan di luar kendali kita atau reaksi jiwa dan raga terhadap perubahan.

Menurut Lazarus (1984), stres merupakan bentuk interaksi antara individu dengan lingkungan, yang dinilai individu sebagai suatu yang membebani atau melampaui kemampuan yang dimiliki, serta mengancam kesejahteraannya. Sehubungan dengan itu, Lazarus membagi stres menjadi dua macam, yaitu: 
  • Pertama, stres yang mengganggu dan biasanya disebut juga dengan distress; 
  • Kedua, stres yang tiak mengganggu dan memberikan perasaan bersemangat yang disebut sebagai eustress atau stres baik.
Tuntutan secara umum yang dapat memunculkan stres dapat diklarifikasikan dalam beberapa bentuk seperti, frustasi, konflik, tekanan, dan ancaman. Oleh karena itu, orang yang tidak mampu mengatasi keadaan emosinya akan mudah terserang distress, tetapi orang yang mampu mengatasinya akan terhindar. Ciri-ciri orang mengalami distress yaitu mudah marah, cepat tersinggung, sulit berkonsentrasi, sukar mengambil keputusan, pelupa, pemurung, tidak energik, selalu merasa cemas atau takut, dan cepat bingung.

Kadang kala sulit untuk membedakan apakah seseorang mengalami distress atau depresi, akan tetapi seseorang baru disebut menderita depresi jika gangguan psikologi tersebut telah berlangsung dalam waktu lama atau lebih dari 2 minggu (APA, 2000).

Depresi Tinjauan Psikologi

Thursday, November 17, 2016 0

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 1)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

1. Pendahuluan
Pada zaman modern ini, banyak manusia mengalami stres, kecemasan, dan kegelisahan. Akan tetapi stres dan depresi masih dianggap bukan benar-benar suatu penyakit. Padahal keduanya merupakan sumber dari berbagai penyakit dan lebih bertanggung jawab terhadap banyaknya kematian. Stres dan depresi yang dibiarkan berlarut membebani pikiran dan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Pada penelitian di Amerika, sebanyak 28 orang dari 32 orang pasien telah mengalami stres dan kehidupan yang tragis sebelum terserang penyakit. Stres mental itu menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi tidak normal (Brain Mind Buletin, 1978).

Berdasarkan penelitian Katon dan Sullivan (1990), diperkirakan 15 sampai 33 persen orang yang pergi ke dokter sebenarnya menderita penyakit karena sebab emosional, seperti stres, khawatir, ketakutan, frustasi, dan rasa tidak aman. Hal-hal tersebutlah yang menjadi biang keladi dari timbulnya bermacam-macam keluhan penyakit, di antaranya sariawan, serangan jantung, sudah tidur, usus buntu, diabetes, asma, skizofrenia, gangguan pencernaan, dan bahkan kanker.

Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini yang mendapat perhatian serius, sehingga World Health Organization (WHO) memprediksikan pada tahun 2020 nanti depresi menjadi salah satu penyakit mental yang banyak dialami dan depresi berat menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah serangan jantung (www.depression-net.com). Berdasarkan data WHO tahun 1980, hampir 20%-30% dari pasien rumah sakit di negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi (Pujiastuti, 2001).

Di Indonesia pada tahun 1995 terdapat 185 orang dari 1000 orang menderita gangguan mental dan 16,2% dari mereka mengalami depresi (Kompas, 28 Januari 2003). Pada tahun 2008, terjadi peningkatan jumlah orang yang mengalami stres, dan gila atau rata-rata mengalami gangguan kejiwaan seperti fobia, cemas, dan depresi (Republika, 12 Maret 2009).

Pernyataan di atas perlu dipertanyakan, karena kita semua pernah mengalami keadaan mood jelek, sedih, dan stres, namun tidak semuanya bisa disebut depresi. Menurut kriteria dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Text Revision (DSM IV-TR) (2000) seseorang dikatakan menderita depresi jika mengalami keadaan mood depresi selama lebih dari 2 minggu dan pada seseorang yang baru mengalami kejadian yang berat, misalnya mengalami kematian orang yang sangat dicintai, depresi harus sudah berlangsung selama 5 minggu.

Depresi adalah gangguab mood. Kata mood menggambarkan emosi seseorang, serangkaian perasaan yang menggambarkan kenyamanan atau ketidaknyamanan emosi atau dapat diartikan emosi yang bertahan lama yang mewarnai kehidupan dan keadaan kejiwaan seseorang (www.mentalhelp.net).

Mood datang dan pergi, bisa saja saat kita bangun pagi dengan perasaan tersinggung atau merasa tertekan setelah terjadi masalah. Terkadang kita dikuasai mood negatif sehingga sulit untuk tersenyum, memandang sisi yang terang, bahkan sulit untuk mengetahui bahwa masih ada sisi yang terang. Mood berbeda dengan emosi, bila emosi biasanya berlangsung sementara, mood merupakan perpanjangan dari emosi yang berlangsung selama beberapa waktu, kadang-kadang beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan sampai beberapa bulan (Meier et al., 2000).

Depresi secara umum terdiri dari beberapa jenis, yaitu depresi ringan, depresi sedang, depresi berat, dan gangguan bipolar. Pada depresi ringan dan sedang, penderita tidak perlu mendapatkan perawatan medis karena dapat ditangani sendiri dengan berbagai alternatif penanganan dan pencegahan depresi. Misalnya dengan diet, berolahraga, dan relaksasi. Pada kasus depresi berat perlu diberikan perawatan medis karena penderitanya mengalami berbagai kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Depresi di Masa Sekarang
 Pada masa sekarang, depresi menjadi jenis gangguan kejiwaan yang paling sering dialami oleh masyarakat karena tingkat stres yang sangat tinggi akibat tuntutan hidup yang semakin bertambah. Patrim Sorikin (dalam Kasuda, 1996), sosiolog modern paling produktif dan kontroversial menyebutkan bahwa manusia modern telah jatuh pada mentalitas keindriawian, yaitu cara memandang benar atau salah, ilmiah atau tidak ilmiah, sah atau tidak sah, resmi atau tidak resmi, indah atau buruk, bermoral atau tidak bermoral, dan sesuai hukum atau tidak sesuai hukum, yang ditentukan oleh indera, meterial, dan hawa nafsu sehingga berlawanan dengan mentalitas ideasional di mana spiritual menjadi karakteristik.

Stres dan depresi telah melanda hampir seluruh umat manusia di dunia. Oleh karena itu, ketegangan, konflik emosional, perasaan negatif seperti benci, iri, dendam, kurang bersyukur, murung, frustasi, dan tekanan batin, semuanya telah bercampur dalam kehidupan masyarakat modern yang semakin menjahui Tuhan dan memacu untuk mendapatkan dunia.

Stres dan depresi merupakan ancaman besar bagi umat manusia, khususnya di kota-kota besar sehingga keduanya dianggap sebagai penghalang utama bagi seseorang untuk menikmati hidup tentram dan bahagia. Anak-anak remaja di perkotaan saat ini mengalami lebih banyak stress daripada di masa lalu, selain akibat perceraian orang tua, tidak didukung orang tua, pergaulan, dan persaingan ketat untuk mendapatkan pendidikan. Bagi masyarakat lanjut usia, depresi disebabkan karena masalah keuangan, kesepian dari anak dan cucu, dan masalah kesehatan sehingga memicu terjadinya stroke, kanker, penyakit otak dementia, dan penyakit jantung.

Pada saat ini, jumlah penderita depresi berat atau dalam istilah psikologinya Major depression semakin meningkat dan menjadi suatu gangguan mental yang perlu diwaspadai karena:
  • Individu di semua usia, latar  belakang, gaya hidup, dan kebangsaan bisa terkena depresi;
  • Lebih dari 20% masyarakat mengalami simtom depresi;
  • Lebih banyak individu yang mengalami gangguan depresi daripada 50 tahun yang lalu;
  • Sekitar 80% individu yang melakukan bunuh diri diketahui mengalami depresi (www.clinical-dep-ression.co.uk).

Bukan Teroris

Thursday, November 17, 2016 0

 Bukan Teroris 

Gambar Ilustrasi Bukan Teroris (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah 
Berlari.
Seorang pemuda terus berlari.
Berlari menyelamatkan diri,
dari kejaran serdadu negeri.

Tergesah-gesah.
Jelas ia tampak tergesah-gesah.
Tak peduli malang-melintang,
keganasan coba menghadang.

Wajah pucat tergambar,
seakan maut mendekat,
ingin menjegat, menangkap,
serta mencabut nyawanya.
Saat muntahan moncong si besi
memaksanya untuk terus berlari.

Dar der dor, dar der dor.
Terdengar nyaring nyanyian senjata,
muntahan beberapa timah.
Membabi buta menembak kesegala arah.

Tak penting keadaan warga,
serdadu bekerja sesukanya,
terlihat bengis dan membabi buta.
Untuk menghabisi nyawa seorang pemuda,
yang tak lain adalah anak bangsa.

Dar der dor, dar der dor.
Tersungkur lemah tubuh ketanah .
Tanah kering terbasuh segar berwarna merah.
Seorang pemuda tertembus timah,
di dada hingga kepala.
Tunas bangsa dimakan bangsa.

Bertanya-tanya pekikan di sekitar,
apa yang terjadi.
Mengapa negeri memvonis mati,
anak negeri telah dikebiri.
Mengapa negeri memvonis mati,
tanpa bertanya siapa diri.
Mengapa negeri memvonis mati,
menghujam timah seakan tiada berarti.
Tunas bangsa telah menyatu bersama bumi.
Balee Siasah Sekret Himas FKIP Unsyiah 
Daruasalam, Banda Aceh 
2 Januari 2015
Ahmadiyah

Ahmadiyah

Monday, November 14, 2016 0

 Ahmadiyah

Organisasi modernis Islam Gerakan Ahmadiyah Indonesia didirikan oleh Mirza Wali Ahmad Beid pada Bulan September 1929. Organisasi ini mendasarkan pada Al Qur’an sebagai kitab suci yang menjadi sumber dan arah hidup terbaik, adanya keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi penutup dan manusia harus mengikuti contoh perbuatan, dan mengakui adanya pembaharu (mujjadid) setelah Nabi Muhammad mihrad Mirza Ghulam Ahmad adalah salah seorang mujjadid.

Organisasi ini timbul karena adanya pengaruh dari Ahmadiyah di Kadiam, India yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai mujjadid pada tahun 1884. Ahmadiyah menekankan kewajiban manusia untuk bertindak baik dengan penuh persaudaraan, hormat menghormati, ramah, dan lain sebagainya. Pada tahun 1908 terjadilah perpecahan karena salah seorang pemimpinnya Kwayah Kamaludin, mendirikan Ahmadiyah yang berpusat di Lahore. Ahmadiyah Kadian dan Lahore banyak berpengaruh di Indonesia dan Yogyakarta dijadikan pusatnya. Ahmadiyah di Indonesia ini tidak mencampuri politik dan hanya mempersoalkan prinsip-prinsip keagamaan dalam Islam dan pengaruhnya banyak di kalangan pemuda dan pelajar yang berpendidikan barat. Sebagaimana gerakan modernis organisasi ini menjadi saingan Muhammadiyah. Ahmadiyah di Indonesia banyak mendapat pengaruh dari Lahore karena keduanya mencari titik temu dalam mengembangkan nasionalisme masing-masing (Gerakan Ahmadiyah Lahore, 1979).

Dikutip dari:
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional (Dari Budi Utomo sampai Proklamasi (1908-1945)). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bicaralah

Monday, November 14, 2016 0

 Bicaralah

Gambar Ilustrasi Mickropone
(Doc. Macworld)
Karya: Mhd. Saifullah
Mengapa tidak pernah bersuara?
Bila berdua, selalu berbeda.
Membatasi ego atau menyiksa cinta?

Bukankah saling suka?
Saling berbagi rasa.
Saling menjaga.
Bukankah. Kita juga saling terluka?

Kata mereka, Burni Telong itu
udaranya dingin.
Dan panasnya bibir pantai dapat membakar kulit.
Tapi. Tahukah engkau?
Kedinginanmu bak batu melebihi dinginnya gunung itu.
Logatmu mampu mematikan hati.
Mungkin kebal. Hingga dicincang tidak terasa
bahkan dibakar melebihi panasnya mentari tinggi.

Mengapa tidak pernah bersuara?
Bicaralah.
Bila bersama kita menggema.
Meruntuhkan keegoisan semata
dengan mudah apalagi hanya tembok Cina.

Mengapa tidak pernah bersuara?
Apakah kita harus tunduk dengan bodohnya suasana?
Kajhu, Banda Aceh
8 Oktober 2016